Categories
Artikel

NGOPI PAGI : STATUS WAG ALUMNI UNHAS ?

Kadang angka membantu kita merenung. 911 alumni berhimpun di WAG IKA Unhas ini. Sebuah jumlah yang, jika diletakkan dalam skala institusi, melampaui jumlah dosen aktif di banyak fakultas, bahkan hampir tiga   kali lipat—jumlah profesor aktif yang secara formal memikul amanah akademik di Unhas.

Angka ini bukan soal kuantitas semata, melainkan makna keberhimpunan. Alumni murni adalah ingatan hidup kampus—mereka membawa sejarah, pengalaman, dan jejaring yang terus bergerak di luar tembok universitas. Di situlah kekuatannya, sekaligus godaannya.

Dosen menjaga api keilmuan melalui prosedur, kesabaran, dan disiplin akademik. Alumni bergerak dalam ruang yang lebih cair: reputasi, relasi, dan pengaruh. Dua dunia yang saling membutuhkan, tetapi akan kehilangan makna bila batasnya kabur.

Dalam filsafat kekuasaan, kekuatan yang paling berisiko bukan yang terlihat, melainkan yang bekerja tanpa disadari. Ketika jejaring alumni menjadi lebih solid, lebih cepat, dan lebih menentukan, pertanyaan etik pun layak diajukan [bukan untuk menuduh], melainkan untuk menjaga keseimbangan: apakah kita sedang menopang otonomi akademik, atau pelan-pelan menggantikannya?

IKA Unhas akan selalu relevan bila ia memilih peran sebagai penjaga nurani, bukan penentu arah; sebagai ruang refleksi, bukan pusat ‘parenta’–memaksakan. Di sanalah kedewasaan berhimpun diuji—bukan pada seberapa besar pengaruh digunakan, tetapi pada seberapa bijak ia ditahan.

Berhimpun di alumni adalah kekuatan sejarah.

Menahan diri dalam menggunakan kekuatan itu adalah kearifan alumni.

Categories
Artikel

MASIH BERISIK DI KEPALA, DAMAI DI HATI

Di usia 69 (2 Januari 2026), kepala saya masih ramai. Gagasan datang tanpa undangan, kadang bertabrakan, kadang saling menyela. Ada ide yang ingin ditulis, ada kegelisahan yang ingin disuarakan, ada refleksi yang muncul justru ketika tubuh meminta istirahat. Rupanya, usia tak selalu sejalan dengan keheningan pikiran. Kepala tetap berisik—dan itu kabar baik.

Namun yang berbeda kini adalah hati. Ia jauh lebih damai. Tidak lagi reaktif pada setiap perbedaan, tidak lagi gelisah jika pendapat tak diakomodasi, tidak pula gusar bila peran mulai menyusut. Di usia ini, saya belajar bahwa tidak semua kegaduhan perlu diladeni, dan tidak semua keheningan berarti kalah. Banyak hal cukup dipahami, tak harus dimenangkan.

Menjelang pensiun, saya kerap ditanya: “Apa rasanya akan berhenti?” Pertanyaan itu sering saya jawab sambil tertawa. Saya tidak merasa sedang berhenti. Saya hanya bersiap mengubah cara berjalan. Dari berlari mengejar target menjadi melangkah menikmati waktu. Dari sibuk mengurus jadwal orang lain menjadi lebih setia mendengarkan ritme diri sendiri.

Pensiun, bagi saya, bukan kehilangan identitas, melainkan pembebasan dari keharusan tampil. Tak ada lagi kewajiban selalu benar, selalu hadir, selalu sigap. Yang tersisa justru kesempatan untuk jujur—pada tubuh yang mudah lelah, pada ingatan yang sesekali bolong, dan pada kebijaksanaan kecil yang lahir dari pengalaman panjang.

Ada keceriaan tersendiri di fase ini. Keceriaan yang tidak gaduh. Bangun pagi tanpa rasa dikejar, minum kopi tanpa agenda–tanpa gula, membaca tanpa target menyelesaikan. Bahkan lupa pun bisa ditertawakan. Dulu lupa membuat panik, sekarang lupa justru jadi pengingat bahwa hidup tak perlu dikontrol sedemikian rupa.

Kepala yang masih berisik membuat saya sadar bahwa pensiun bukan akhir dari berpikir, apalagi akhir dari peduli. Gagasan tetap hidup, kepekaan tetap terjaga. Bedanya, kini saya lebih selektif: mana yang layak disuarakan, mana yang cukup disimpan sebagai senyum, dan mana yang lebih baik diserahkan pada generasi berikutnya.

Hati yang damai mengajarkan satu hal penting: hidup tak diukur dari seberapa lama kita berada di panggung, tetapi dari seberapa ikhlas kita turun ketika waktunya tiba. Melepaskan bukan tanda kalah, melainkan tanda cukup.

Maka, menjelang usia 70, saya berdiri di ambang ini tanpa kecemasan. Kepala masih ramai, iya. Tapi hati sudah tiba di rumahnya. Dan dari rumah itulah, saya ingin tetap menulis, berbagi, dan tertawa—pelan, seperlunya, dengan penuh rasa syukur.

colek sahabat setingkat 1976                                                                           @ Prof. Irawan Yusuf @ Prof. Triyatni Martosenjoyo

Categories
Artikel

KETIKA JURU DAMAI ITU TAK BISA BERDAMAI (?)

Jika ada satu tokoh Indonesia yang pantas jadi idola saya, maka nama itu adalah H.M.Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia – dua kali. Saya mengagumi beliau meski tak pernah dekat dan menikmati kebaekanNA.
Jusuf Kalla (JK) sering dipotret sebagai juru damai—sosok yang hadir di tengah kebuntuan politik, letupan konflik komunal, hingga kemelut organisasi. Dari Malino I dan II, penyelesaian konflik Poso dan Ambon serta Aceh, hingga berbagai mediasi berskala nasional dan internasional, citra itu melekat kuat: seorang pengusaha-politisi yang percaya bahwa perdamaian bukan soal teori, melainkan soal keberanian mengambil risiko dan kemampuan membaca emosi manusia.
Namun paradoks muncul ketika sosok yang terbiasa mendamaikan justru tampak sulit berdamai dalam lingkarannya sendiri–‘sekutunya’ sejak awal Orde Baru. Di titik inilah kisah JK menjadi sebuah ironi politik yang layak direnungkan.
Seorang juru damai bekerja dengan tiga modal: kepercayaan, kedekatan, dan ketegasan. Tetapi seorang aktor politik hidup dalam lanskap yang tak pernah steril dari ambisi, kepentingan, dan memori luka. JK adalah bagian dari itu. Ia manusia politik yang bertarung, sekaligus mediator yang menengahi. Ketika peran-peran itu saling bersilangan, konflik internal menjadi tak terelakkan—bukan hanya dengan pihak lain, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Dalam struktur politik Indonesia yang penuh friksi antar-elit, upaya mempertahankan pengaruh sering kali menuntut sikap keras, bahkan ketika pilihan itu justru menjauhkan sosok yang sama dari karakter “pendamai” yang selama ini diagungkan.
Di sinilah paradoksnya: seorang juru damai tidak selalu mendapat ruang untuk berdamai. Politik menuntut posisi, dan posisi sering menafikan kompromi. JK mungkin memahami bahwa perdamaian butuh kelenturan, tetapi politik praktis kerap memaksa ketegangan—antara menjaga warisan dan mengikuti arus baru, antara intuisi kepemimpinan dan kalkulasi organisasi, antara kebutuhan tampil sebagai moral force dan godaan mempertahankan kontrol. Konflik yang kemudian muncul bukan sekadar perselisihan terbuka, melainkan pergulatan identitas: apakah ia mediator, senior yang dihormati, atau pemain yang masih ingin berada di gelanggang?
Namun ironinya tak harus dibaca sebagai kelemahan. Justru dari situ kita belajar bahwa perdamaian adalah seni tingkat tinggi yang sulit diterapkan pada diri sendiri. Menengahi orang lain memerlukan empati dan ketegasan, tetapi berdamai dengan posisi, ambisi, harta dan sejarah pribadi jauh lebih rumit.
JK mengajarkan bahwa tokoh damai pun rentan terseret pusaran kekuasaan dan dinamika kepentingan—sebuah pengingat bahwa manusia, betapapun besarnya reputasi, tetap terikat pada keterbatasan.
Akhirnya, kisah “juru damai yang tak bisa berdamai” bukan sekadar tentang JK. Ia adalah metafora tentang para pemimpin yang terbiasa memadamkan api di luar, tetapi sering menyimpan bara kecil di dalam. Ia juga refleksi tentang politik Indonesia yang menghargai mediasi, tetapi jarang memberi ruang bagi senioritas untuk benar-benar beristirahat dalam kedamaian.
Pada titik tertentu, JK mungkin merindukan kembali perannya sebagai penengah; namun sejarah mengingatkan bahwa bahkan juru damai pun kadang harus berdamai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.
__________________
Refleksi dari tulisan Peter F.Gontha; Jusuf Kalla dan Layaknya Sebuah Nobel Perdamaian dan kemanusiaan. https://www.facebook.com/share/1DFDJjzCrM/
Jusuf Kalla dan Layaknya Sebuah Nobel Perdamaian dan kemanusiaan.
Jika ada satu tokoh Indonesia yang pantas dinobatkan atau menerima Hadiah Nobel Perdamaian, maka nama itu adalah H. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Saya mengenal beliau dengan baik—bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi sebagai manusia yang selalu memikul beban perdamaian di mana pun ia berada.
Beliau adalah pribadi yang tidak pernah mencari panggung, tetapi selalu mencari jalan keluar. Beliau tidak pernah mengejar kemenangan sepihak, tetapi selalu memperjuangkan keberuntungan bersama. Di setiap konflik yang beliau masuki, dari Poso hingga Ambon, dari Mindanao hingga berbagai diplomasi senyap yang tak pernah dipublikasikan, Jusuf Kalla hadir dengan satu keyakinan: perdamaian harus memberi tempat bagi semua orang.
Keinginannya untuk menyelesaikan masalah bukan didasari ambisi politik, tetapi panggilan nurani. Beliau adalah sosok yang percaya bahwa konflik tidak boleh dibiarkan menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Di meja perundingan, beliau selalu mencari titik temu, bukan titik menang. Dan justru karena itu, pihak-pihak yang berseteru bisa mendengar, bisa percaya, dan akhirnya bisa berdamai.
Hari ini, di saat dunia kembali dilanda konflik besar, termasuk di Timur Tengah, kita melihat bahwa sosok dengan kualitas seperti Jusuf Kalla sangat langka. Bila beliau diberi kesempatan untuk menjadi mediator di Timur Tengah—dan beliau memang memiliki kapasitas itu—maka itu bukan hanya menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, tetapi juga kontribusi nyata Indonesia bagi dunia.
Dalam kacamata saya, apabila Nobel Perdamaian ingin tetap bermakna, maka ia harus diberikan kepada tokoh yang telah mengabdikan hidupnya untuk mendamaikan sesama manusia, bukan untuk kepentingannya sendiri. Tokoh itu adalah Jusuf Kalla.
Dan jika dunia membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal PBB yang mampu berbicara dengan hati, menengahi dengan kepala dingin, dan bertindak tanpa agenda tersembunyi, maka figur itu juga adalah beliau.
Inilah saatnya bangsa Indonesia berdiri bangga, karena kita memiliki seorang pemimpin yang rekam jejaknya diakui dunia, dan hatinya tetap berpihak pada perdamaian.
Perannya sebagai ketua PMI jelas, ACEH!!

 

Categories
Artikel

NGAMEN pagi Professor : sebelumworkshop

Di pagi yang masih setengah mengantuk, ketika matahari baru belajar menyala dan aroma kopi di Warkop Tong San belum sepenuhnya memutuskan apakah ia ingin menjadi pahit atau ramah, kami—Amran, Darmawan, dan Alwy (ADA)—duduk bersisian, memegang gitar tua yang nadanya kadang benar, kadang jujur. Di antara deru motor dan mobil penanda langkah terburu warga Pasar Ikan dan sekitarnya, kami memulai ritual kecil yang akhir-akhir ini terasa lebih penting daripada workshop apa pun: ngamen pagi profesor.

Yang lucu, juga sekaligus agak tragis, adalah kenyataan bahwa tak satu pun warga yang lewat—bahkan mereka yang sudah nongkrong lebih dulu sambil menyeruput kopi hitam pekat—meyakini bahwa mereka yang sedang memetik gitar, menabuh gendang, dan menari kecil itu adalah profesor. Para pengamen asli Pantai Losari pun ikut mengangguk mantap, dengan keyakinan penuh:
Ah, ini paling pengamen baru. Lagaknya cocok.”
Dan dalam hati, kami menerima itu sebagai pujian paling tulus yang pernah diterima para akademisi.

Ada jeda panjang di dalam kesadaran kami saat itu. Sebuah jeda beraroma filosofis, jernih, dan kecil seperti embun yang tergantung di ujung daun. Bukankah selama ini dunia akademik selalu menuntut kami untuk terlihat lebih—lebih berwibawa, lebih cendekia, lebih serius dari hidup itu sendiri? Namun pagi itu, di bawah langit Pantai Losari yang sedang belajar biru, kami justru menemukan kelegaan karena dianggap kurang: kurang profesor, kurang penting, kurang “penting sekali”.

Kami tertawa—tawa kecil yang tidak berpretensi, tidak akademis, dan tidak memerlukan footnote. Sebuah tawa yang muncul dari kesadaran bahwa mungkin inilah yang selama ini hilang: kerendahan hati untuk tidak merasa lebih, serta keberanian untuk menjadi “biasa-biasa saja”.

Di tengah petikan gitar yang kadang sumbang itu, kami teringat kolega-kolega lain. Ada profesor yang sibuk meneliti laut hingga lupa daratan; ada profesor yang lebih sering muncul di hutan daripada di kampus; ada pula profesor yang hidupnya adalah terminal-bandara, sehingga pertemuan dengannya selalu terjadi di ruang transit dan bukan di ruang seminar. Kami berbeda bukan karena lebih baik, tapi karena lebih hadir—lebih menjejak di antara kopi pagi, buroncong panaș, nași kuning, debu jalanan, aroma ikan segar dari nelayan yang baru tiba di pulau, dan nyanyian para pengamen Pantai Losari yang sebenarnya jauh lebih pandai memaknai hidup.

Barangkali, di sinilah letak perbedaan itu:
Profesor lain mengembara untuk menemukan kebenaran besar, sementara kami duduk memetik gitar untuk merayakan kebenaran kecil. Profesor lain bekerja dalam rentang penelitian multi-year, sementara kami bekerja dalam rentang tiga chord sederhana yang kadang nyasar, tapi jujur. Dan para pengamen itulah yang memberi legitimasi tertinggi: bukan gelar, bukan penjinak, bukan pembantai proyek, bukan SK Dekan/Rektor—melainkan pengakuan sederhana bahwa kami “sesama pengamen”.

Ketika seorang pengendara mobil paruhbaya memperlambat laju kendaraan dan menoleh sambil tersenyum—bukan karena kami merdu, tapi karena suasana yang janggal itu membuatnya lupa macet untuk sejenak—kami menyadari sesuatu:
Bahwa mengamen, dalam bentuknya yang paling mentah, adalah latihan paling murni tentang keberadaan. Tentang kehadiran. Tentang menjadi manusia yang tidak diselubungi jargon, renstra, statuta, rapat senat, atau metodologi.

Pagi itu, Pantai Losari menjadi ruang kelas yang sesungguhnya.
Dan kami, para “profesor yang disalahpahami”, menjadi murid paling taat bagi pelajaran yang tidak pernah ada dalam kurikulum.

Mungkin di situlah letak hikmahnya:
Bahwa sebelum menjejal workshop, kami harus terlebih dahulu mendengarkan kehidupan itu sendiri—yang pagi itu berbicara dalam nada sumbang, tawa warga, dan kepolosan para pengamen yang, tanpa ragu sedikit pun, menerima kami sebagai bagian dari mereka.

_______________________

Sumber Facebook :NGAMEN pagi Professor. #sebelumworkshop Amran-Darmawan-Alwy (ADA) dedengkot Prodi S2 AKK FKM Unhas #warkop Tong san – Pantai Losari, Pasar Ikan, 16 agustus 2025

@Happy birthday buat Balqis Nasaruddin.

Categories
Artikel

BEM Unhas dan Generasi Strawberry : Celoteh Warkop Enreco  

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unhas mengalami kekosongan yang berkepanjangan—sebuah kevakuman yang tidak hanya menandai problem teknis organisasi, tetapi juga memotret dinamika sosial generasi mahasiswa hari ini, generasi yang kerap distereotipkan sebagai generasi strawberry: tampak menarik, kreatif, dan serba ekspresif, tetapi dianggap mudah rapuh menghadapi tekanan.

Stereotip tentu tidak pernah sepenuhnya adil. Namun ia punya fungsi sosial: mengajak kita bercermin. Yang kita lihat di banyak kampus, termasuk Unhas, adalah spektrum yang lebih kompleks daripada sekadar label. Ada mahasiswa yang sangat vokal, namun mudah lelah; ada pula yang memiliki idealisme kuat, tetapi terhambat oleh ekosistem kampus yang tidak mendukung; ada yang cerdas secara akademik, tetapi gamang berorganisasi; dan ada pula yang aktif secara digital, namun enggan hadir dalam dinamika fisik kampus.

Dalam konteks inilah kevakuman BEM Unhas selama beberapa tahun terakhir layak dianggap sebagai indikator struktural sekaligus kultural. Ia bukan semata akibat teknis—misalnya regulasi internal yang tidak berjalan, minimnya fasilitasi institusi, atau konflik antar unit organisasi mahasiswa, atau keinginan dominan berkuasa fakultas besar—tetapi juga cermin dari perubahan cara generasi kini memahami aktivisme, representasi, dan komitmen sosial.

Kampus Berubah, Mahasiswa Bimbang

Universitas tidak lagi menjadi arena tunggal bagi ekspresi intelektual dan advokasi sosial. Ruang digital telah mengambil alih sebagian besar fungsi sosialisasi mahasiswa. Diskusi publik, perdebatan isu, hingga solidaritas sosial kini berlangsung di platform yang tidak memerlukan struktur, tidak menuntut konsistensi, dan tidak mengenal hierarki.

BEM, yang dibangun di atas logika organisasi—dengan rangka, mekanisme pemilihan, prosedur, dan tanggung jawab formal—kini harus bersaing dengan ekosistem yang lebih cair. Banyak mahasiswa merasa bahwa advocacy cukup dilakukan melalui unggahan Instagram atau thread panjang di X. Sementara proses birokratis BEM dianggap terlalu melelahkan, terlalu politis, atau terlalu jauh dari kebutuhan keseharian mahasiswa.

Dalam situasi ini, tidak mengherankan jika pemilihan atau pembentukan BEM Unhas tersendat. Pada banyak kesempatan, kandidat enggan muncul, partisipasi pemilih rendah, dan pengorganisasian teknis tidak maksimal. Kevakuman yang lalu bukan sekadar kegagalan memilih; ia adalah kegagalan ekosistem.

Generasi Strawberry atawa Generasi Adaptif ?

Melabeli generasi mahasiswa hari ini sebagai generasi strawberry sering kali mengandung bias generasi. Padahal ada dimensi lain yang lebih penting: ini adalah generasi yang tumbuh dalam tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Kompetisi semakin tinggi, biaya hidup meningkat, dan akses kesempatan semakin ketat.

Bagi banyak mahasiswa, bertahan secara akademik dan ekonomi saja sudah menjadi beban berat. Organisasi tidak lagi menjadi saluran utama untuk mobilitas sosial, dan bagi sebagian, waktu yang tersisa setelah kuliah digunakan untuk pekerjaan part-timefreelancing, atau membangun portofolio digital. Bahkan di beberapa kampus besar–sejak semeter tiga,  mahasiswanya sudah bergumul dengan start-up.

Namun bukan berarti generasi ini kehilangan idealisme. Mereka hanya mengekspresikannya dengan cara berbeda: lebih fleksibel, lebih tematik, lebih berbasis gerakan jangka pendek, dan tidak terikat struktur kaku.

Tantangannya bagi kampus adalah bagaimana menjembatani dinamika ini agar struktur representasi formal seperti BEM tidak menjadi relik sejarah, tetapi kembali relevan dengan  zamannya.

Menghidupkan Kembali BEM Unhas

Upaya mengaktifkan kembali Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hasanuddin (BEM Unhas) tidak dapat dipahami semata sebagai proses administratif: membuka pendaftaran calon ketua, menyusun panitia, atau menggelar Pemilu Raya. Persoalannya lebih mendasar dan berakar pada ekosistem kehidupan kampus yang dalam beberapa tahun terakhir kehilangan ruang dialog yang sehat.

Pertama, iklim politik kampus perlu dipulihkan. Mahasiswa membutuhkan ruang yang aman untuk berdiskusi, menyampaikan kritik, dan berpendapat tanpa rasa was-was. Budaya akademik yang mendukung kebebasan berekspresi merupakan syarat pokok untuk mendorong partisipasi mahasiswa dalam organisasi formal.

Kedua, kepercayaan mahasiswa terhadap organisasi intra kampus harus dibangun kembali. Selama BEM Unhas masih dilihat sebagai lembaga yang rentan dipolitisasi atau terlalu dekat dengan birokrasi kampus, partisipasi akan tetap rendah. BEM Unhas harus kembali menjadi ruang publik mahasiswa, bukan sekadar struktur administratif.

Ketiga, peran BEM Unhas perlu redefinisi. Perubahan lanskap sosial dan teknologi menuntut organisasi mahasiswa bergerak lebih jauh dari sekadar pelaksana kegiatan. BEM Unhas dituntut menjadi wadah representasi yang kredibel, pusat advokasi yang responsif, sekaligus jembatan komunikasi antara mahasiswa dan institusi.

Keempat, dukungan regulatif dan mekanisme yang jelas harus disediakan. Kekosongan BEM Unhas selama beberapa tahun menunjukkan adanya kelemahan dalam tata kelola internal. Universitas perlu memastikan bahwa SOP pemilihan, alur fasilitasi, serta pembagian kewenangan berjalan konsisten, siapapun pejabat kemahasiswaannya.

Menghidupkan kembali BEM  Unhas bukanlah langkah administratif belaka, melainkan proses membangun kembali kepercayaan dan menata ulang ekosistem politik kampus. Tanpa langkah-langkah mendasar ini, BEM Unhas berisiko hadir kembali secara formal, tetapi tetap jauh dari kehidupan mahasiswa.

Menabur Harapan

Mahasiswa selalu menjadi cermin zamannya. Mereka pernah menjadi penggerak reformasi, motor kritik kebijakan pendidikan, hingga penjaga integritas akademik. Generasi kini bukan pengecualian, hanya berbeda medan dan instrumennya.

Membangkitkan kembali BEM Unhas bukan nostalgia atas masa lalu yang heroik, melainkan kebutuhan untuk memastikan masa depan kampus tetap demokratis, inklusif, dan akuntabel. Sebab tanpa organisasi representasi mahasiswa, universitas kehilangan salah satu pilar moral dan sosialnya.

Kini saatnya mendampingi mahasiswa membangun struktur yang mereka percaya, dengan cara yang mereka pahami, namun tetap berpijak pada prinsip-prinsip demokrasi kampus yang sehat.

Kevakuman beberapa tahun adalah alarm keras; harapan untuk bangkit kembali tetap terbuka. Yang diperlukan adalah keberanian—baik dari mahasiswa maupun institusi—untuk mendialogkan ulang peran straregis, memperbaiki sistem, dan menciptakan ruang baru bagi kepemimpinan mahasiswa.

Jika ini berhasil, maka label generasi strawberry akan runtuh dengan sendirinya, tergantikan oleh satu sebutan baru: “generasi yang bangkit kembali”. Menyala lagi, Bosque !!!

Categories
Artikel

BEM Unhas: Saatnya Menyala Lagi, dengan Cara Baru

 

KADO KECIL BUAT CALON REKTOR UNHAS (2026-2030)

Generasi mahasiswa hari ini hidup dalam lanskap yang berbeda sama sekali dari generasi akhir 1970-an atau 1998. Mereka lahir dan tumbuh di tengah layar digital, di dunia yang bergerak cepat dan tanpa sekat. Dunia mereka ditandai oleh feedhashtag, dan algoritma — bukan selebaran, buletin, atau rapat senat mahasiswa. Namun di balik semua perubahan itu, ada hal yang tak pernah benar-benar lenyap: keresahan.

Gen Z adalah generasi yang penuh kesadaran, tapi sering merasa gamang menentukan bentuknya. Mereka tahu ada masalah di sekitarnya — isu lingkungan, kesenjangan sosial, krisis mental health, bahkan ketimpangan digital — namun cara mereka merespons tidak lagi dengan megafon dan poster. Mereka lebih memilih content creation, kampanye sosial, atau gerakan donasi daring. Bagi mereka, dunia digital bukan sekadar ruang hiburan, melainkan arena politik baru.

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan bagaimana aktivisme berpindah bentuk: dari ruang fisik ke ruang siber. Petisi daring bisa mengguncang kebijakan, tagar bisa menggantikan orasi, dan video berdurasi satu menit bisa lebih kuat daripada satu jam pidato di aula fakultas. Aktivisme bukan lagi monopoli organisasi — siapa pun yang memiliki awareness dan kemampuan digital bisa menjadi penggerak.

Namun di titik ini pula letak paradoksnya. Aktivisme digital sering kali cepat menyala, tapi cepat pula padam. Ia viral sesaat, tapi jarang menimbulkan struktur gerakan yang berkelanjutan. Tidak ada proses kaderisasi, tidak ada ruang refleksi mendalam, dan tidak ada kesadaran kolektif yang membentuk identitas bersama. Gerakan menjadi fragmented, seperti riak-riak kecil yang tak pernah bertemu menjadi ombak.

Di sinilah BEM Unhas seharusnya hadir kembali — bukan untuk menggantikan semangat digital itu, tapi untuk menyatukannya  pikiran dan pergerakan dalam arah yang lebih strategis.

BEM perlu menjadi jembatan antara idealisme yang tercerai di media sosial dan aksi nyata di kampus.

Generasi Gen Z – mahasiswa Unhas memiliki keunggulan yang tak dimiliki generasi sebelumnya: mereka adaptif, kreatif, dan berani bereksperimen. Tapi keunggulan itu perlu ruang yang bisa menyalurkannya. BEM  Unhas bisa menjadi ecosystem of ideas — tempat gagasan mahasiswa lintas fakultas bertemu, bereksperimen, dan melahirkan inisiatif nyata. Dari mahasiswa teknik yang tertarik dengan energi bersih, mahasiswa kedokteran yang fokus pada isu kesehatan mental, hingga mahasiswa sosial yang peka terhadap ketimpangan desa-kota — semua bisa menemukan ruang kolaboratifnya di bawah payung yang sama.

Aktivisme generasi ini tidak harus keras untuk menjadi kritis. Ia bisa halus, estetik, bahkan jenaka — asal tetap menggigit. Inilah saatnya BEM Unhas membaca ulang bahasa zaman: bahasa yang tidak lagi hitam-putih, tapi cair, digital, dan penuh kolaborasi.

Maka, kebangkitan BEM Unhas bukan soal menyalakan megafon kembali, tapi soal  menemukan ritme baru dalam cara berjuang. Karena di balik semua gawai dan notifikasi, generasi ini tetap memiliki hal yang sama dengan generasi sebelumnya: rasa ingin berarti.

***

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi organisasi mahasiswa, bukan hanya di Unhas tetapi juga di banyak kampus lain, adalah kehilangan makna struktural.

BEM Unhas yang semestinya menjadi pusat gagasan justru sering terjebak dalam rutinitas administratif. Agenda yang dulunya menggetarkan — seperti forum diskusi kebijakan kampus atau riset sosial mahasiswa — kini berganti menjadi laporan kegiatan, surat menyurat, dan dokumentasi seremonial.

Akibatnya, politik kampus menjadi kehilangan daya gugah.

Mahasiswa tidak lagi melihat BEM sebagai tempat di mana ide besar dilahirkan, melainkan sebagai wadah bagi mereka yang “suka organisasi”. Dalam berbagai survei informal dan percakapan antar mahasiswa, muncul pola yang mirip: mereka menghargai eksistensi BEM, tetapi merasa jauh darinya. BEM seperti ruang yang sibuk sendiri, berbicara pada dirinya sendiri, tanpa benar-benar mendengar denyut di luar dinding sekretariat.

Fenomena ini bukan terjadi karena kemalasan, tetapi karena ketidaksesuaian antara struktur dan semangat zaman. Struktur BEM masih bercorak piramidal: presiden, kabinet, divisi, dan biro. Sementara semangat generasi sekarang lebih horizontal, cair, dan berbasis proyek. Mereka terbiasa bekerja dalam tim kecil yang fokus pada hasil konkret, bukan dalam sistem birokrasi yang berlapis-lapis.

Di titik ini, tampak jelas betapa BEM perlu melakukan transformasi organisasi — bukan sekadar memperbarui AD/ART, tapi mengubah paradigma geraknya.

Masalah lain yang menambah kelesuan adalah politik internal. Pemilihan presiden mahasiswa kadang lebih ramai dengan intrik daripada ide. Kampanye diwarnai janji-janji administratif, bukan visi substantif. Debat kandidat lebih sering menjadi ajang retorika, bukan ruang konseptual. Akibatnya, ketika periode kepengurusan dimulai, BEM Unhas berjalan seperti mesin yang kehabisan bensin. Ia bergerak karena kewajiban, bukan karena inspirasi.

Sejumlah alumni BEM Unhas yang kini aktif di dunia profesional sering mengungkapkan keprihatinan yang sama: “Kami dulu belajar berdebat untuk memperjuangkan gagasan, bukan posisi.” Tapi kini, banyak pengurus muda yang justru terperangkap dalam logika struktural — lupa bahwa organisasi mahasiswa sejatinya adalah ruang belajar berpikir kritis dan memimpin perubahan, bukan sekadar latihan birokrasi.

Dalam wawancara dengan beberapa mahasiswa lintas fakultas, muncul nada getir namun jujur: “BEM Unhas penting, tapi kami tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Kalimat itu mencerminkan jarak yang makin lebar antara lembaga dan konstituennya.
Ketika organisasi kehilangan visibilitas dan relevansi, yang muncul bukan apatisme murni, melainkan kelelahan sosial — kelelahan untuk percaya.

Namun, di balik kelesuan itu, masih tersisa bara kecil: keinginan untuk memperbaiki. Banyak mahasiswa yang sebenarnya ingin melihat BEM Unhas bangkit lagi, tapi dengan wajah baru. Mereka ingin organisasi yang terbuka, kolaboratif, dan relevan dengan realitas hari ini. Mereka ingin BEM yang bisa menjawab keresahan zaman: krisis iklim, kecemasan digital, hingga masa depan pekerjaan.

Dan mungkin, itulah yang sedang menunggu di tikungan sejarah.

Karena setiap kali BEM Unhas kehilangan arah dan tak berdaya, selalu muncul generasi yang berani menyalakan kembali kompasnya.

Sejarah telah membuktikan: dari ruang sunyi pun, api bisa lahir kembali.

Hanya butuh satu point— keberanian untuk mengubah cara bergerak, dibarengi kesungguhan rektor terpilih memberi ruang.

                                              ***

Ada masa ketika jalan-jalan kampus Unhas menjadi saksi setiap keresahan mahasiswa. Dari Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), lapangan bola, Gedung Ristek dan Gedung Pertemuan Alumni (GPA), hingga taman rektorat, suara mahasiswa menggema, membawa poster dan seruan moral. Namun kini, ruang itu berganti. Bukan lagi aspal dan mikrofon yang menjadi panggung, melainkan timelinestory, dan reels. Pergeseran arena ini tidak bisa dianggap kemunduran—ia adalah perubahan medium.

Kita sedang hidup di era ketika isu sosial dibicarakan bukan di panggung orasi, melainkan di kolom komentar; ketika solidaritas diwujudkan melalui link donasi dan digital campaign. Namun, di balik kemudahan ini, ada bahaya besar: kehilangan kedalaman dan daya tahan. “Rewai kalo di medsos, accakkuruki kalo di arena juang.”

Aktivisme yang lahir di medsos sering bersifat episodik — cepat muncul, cepat tenggelam. Gelombang simpati bergantung pada algoritma, bukan pada jaringan kesadaran kolektif. Maka, pertanyaannya bukan “apakah mahasiswa hari ini masih peduli?” tapi “bagaimana kepedulian itu bisa terorganisir kembali?”

BEM Unhas (jika mau bangkit lagi) harus berani membaca arah perubahan ini. Ia perlu menggeser dirinya dari sekadar organisasi kampus menjadi platform gerakan mahasiswa digital.

Artinya, bukan hanya punya akun Instagram yang aktif, tetapi menjadi ruang produksi wacana yang konsisten, kredibel, dan membentuk opini publik kampus.

Bayangkan jika BEM Unhas tidak hanya membuat pengumuman kegiatan, tetapi rutin merilis  policy briefmini podcast, atau data insight terkait isu mahasiswa dan kebijakan kampus. Misalnya, hasil survei tentang kebutuhan dasar dan tingkat kesejahteraan mahasiswa, persepsi terhadap mutu pembelajaran, atau tantangan mahasiswa di pelosok terluar, tertinggal dan terabaikan. Semua itu bisa dikemas ringan, visual, dan menarik — namun tetap ilmiah dan berakar pada riset (evidence based).

Dengan begitu, BEM Unhas (jika bangkit) bukan sekadar penonton di ruang digital, tapi aktor utama yang mengarahkan percakapan.

Dalam era informasi yang berkejaran waktu, narasi adalah kekuasaan baru. Dan mahasiswa, seharusnya, adalah pengendali narasi itu.

Namun untuk melakukan itu, BEM Unhas (jika bangkit) perlu mengubah paradigma komunikasinya. Tidak cukup dengan jargon idealisme klasik. Gen Z tidak tergerak oleh kalimat “hidup mahasiswa!” — mereka lebih tergugah oleh kisah personal, visual autentik, atau ajakan kolaboratif. Mereka mencari meaning, bukan sekadar slogan.

Di sinilah peran BEM baru Unhas : bukan hanya menjadi corong aspirasi, tapi fasilitator makna. Dengan pendekatan ini, BEM baru Unhas bisa menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa — tempat mereka belajar tidak hanya berorganisasi, tapi juga mengelola pengetahuan, narasi, dan gerakan. Pergeseran arena bukan berarti hilangnya ideologi, melainkan adaptasi bentuk perjuangan dalam ekosistem digital.

Jalanan kini bergeser ke layar, tapi idealisme tetaplah darah yang sama — hanya berganti wadah.

***

Sejak awal kelahirannya, BEM di banyak kampus Indonesia punya peran historis sebagai kekuatan kritis — bahkan oposisi terhadap kekuasaan kampus dan negara.

Namun, dalam konteks kekinian, garis batas itu mulai kabur. Kampus tidak lagi sekadar otoritas administratif, melainkan ruang kompleks yang terhubung dengan industri, birokrasi, dan masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sikap “melawan” saja tak cukup. Yang dibutuhkan adalah strategi kolaboratif — melawan jika perlu, bekerja sama jika mungkin. BEM Unhas (jika bangkit) harus merumuskan ulang dirinya: bukan sekadar badan eksekutif, tapi agen perubahan sosial kampus.

Artinya, ia tidak hanya menuntut, tapi juga menawarkan solusi; tidak hanya bereaksi, tapi juga merancang kebijakan alternatif. Misalnya, dalam isu kesejahteraan mahasiswa, BEM Unhas bisa bekerja sama dengan fakultas ekonomi untuk melakukan survei tentang biaya hidup dan akses beasiswa; dengan fakultas kedokteran dan fakultas kesehatan masyarakat untuk merancang program kesehatan mental mahasiswa; atau dengan fakultas teknik untuk mendesain ruang publik ramah disabilitas di kampus.

Kolaborasi lintas disiplin ini akan mengembalikan semangat sejati universitas: universitas sebagai rumah ilmu yang bersatu untuk kebaikan bersama.

Perubahan paradigma ini juga akan menuntut transformasi budaya organisasi. BEM Unhas (jika bangkit) perlu keluar dari politik transaksional dan kembali ke politik gagasan.

Setiap kebijakan kampus — mulai dari kurikulum, sistem akademik, hingga tata ruang kampus — seharusnya dibaca dan ditanggapi oleh mahasiswa dengan argumen, data, dan riset, bukan dengan slogan.

BEM Unhas (jika bangkit) harus belajar menjadi “think tank mahasiswa”: mengumpulkan data, menganalisis, lalu menyampaikan rekomendasi berbasis bukti.

Inilah aktivisme baru: bukan hanya orasi, tapi argumentasi; bukan hanya protes, tapi juga policy proposal.

Dan yang paling penting, BEM Unhas (jika bangkit)  harus menumbuhkan kembali etos kolektif. Bukan sekadar “kami pengurus” dan “mereka mahasiswa”, tapi “kita semua bagian dari Unhas yang sedang belajar menjadi masyarakat ilmiah.” Etos ini penting, karena di dalamnya ada kesadaran bahwa perubahan sosial tidak datang dari satu struktur organisasi, tapi dari ekosistem gagasan yang hidup.

Mungkin inilah titik kebangkitan BEM baru Unhas  — ketika ia tidak lagi menjadi simbol masa lalu, tetapi proyek masa depan.

Sebuah organisasi yang tidak hanya merekam sejarah, tapi juga menulis babak barunya:
BEM Unhas (jika bangkit)  sebagai jembatan antara idealisme dan inovasi, antara nalar dan aksi.

                                                                        ***

Di dunia yang berubah cepat ini, kampus tak lagi bisa dipahami sekadar sebagai tempat menimba ilmu. Ia adalah miniatur masyarakat, bahkan laboratorium masa depan bangsa. Maka, organisasi mahasiswa seperti BEM Unhas (jika bangkit) bukan hanya “alat representasi”, tetapi seharusnya menjadi ruang inovasi sosial.

Di sinilah tantangan baru menanti: bagaimana BEM baru Unhas bisa menjadi inkubator gagasan, tempat ide mahasiswa tumbuh dan menemukan bentuk konkretnya?

Bayangkan sebuah BEM baru Unhas yang bukan hanya sibuk mengurus prosedur administrasi, tetapi juga mengelola platform ide mahasiswa. Misalnya, Idea Lab Unhas — forum bulanan di mana mahasiswa lintas fakultas mempresentasikan solusi bagi isu-isu sosial, lingkungan, dan kampus.

Dari ide-ide itu, BEM baru Unhas bisa menyalurkan ke program universitas, CSR, atau bahkan inkubator startup sosial.

BEM baru Unhas juga bisa menjadi pusat open data mahasiswa — menyimpan hasil survei, opini, hingga riset kecil yang bisa digunakan untuk mendorong perubahan kebijakan kampus. Di era data-driven society, kekuasaan lahir bukan dari jumlah massa, melainkan dari kualitas data dan narasi-argumentasi.

Lebih dari itu, BEM baru Unhas bisa bertransformasi menjadi komunitas belajar sosial (learning community) — tempat mahasiswa bukan hanya aktif secara organisatoris, tapi juga bertumbuh secara intelektual, emosional, dan spiritual.

Diskusi, riset mini, lokakarya kepemimpinan, hingga pelatihan jurnalistik mahasiswa bisa menjadi bagian dari programnya. Dengan demikian, BEM baru Unhas kembali menjadi “sekolah kecil tanpa pagar” bagi kader perubahan — bukan sekadar tempat mencari portofolio CV.

BEM baru Unhas punya peluang besar untuk menjadi model nasional dalam konteks ini.

Unhas bukan sekadar universitas besar di Kawasan Indonesia Timur; ia adalah simbol persilangan antara tradisi intelektual dan keindonesiaan maritim. Semangat kebaharian. Tak kan laait pelsut ulung, di opbak yang tenang.

Jika BEM baru Unhas mampu menampilkan wajah baru — kolaboratif, inklusif, dan inovatif — maka ia akan memancarkan semangat baru bagi gerakan mahasiswa modern di seluruh negeri.

Sebab, di tengah dunia yang semakin kompleks, mahasiswa bukan lagi “penonton perubahan”, melainkan arsitek masa depan.

Dan BEM baru Unhas, sejatinya, adalah bengkel tempat arsitek-arsitek itu belajar merancang dunia baru.

Di Tamalanrea — kampus yang dulu lahir dari semangat membangun peradaban baru di pinggiran Kota Makassar — sejarah idealisme mahasiswa sebenarnya tak pernah benar-benar padam. Ia hanya tertidur di antara tumpukan rutinitas dan notifikasi digital.

Namun sesekali, api itu masih tampak: di ruang diskusi kecil, di kolom komentar yang jujur, di aksi solidaritas spontan untuk sesama mahasiswa, atau di konten digital yang menggelitik kesadaran publik.

Api itu mungkin kecil, tapi nyala.

Dan kini, tugas generasi baru adalah menjaganya agar menyala lagi — dengan cara mereka sendiri. Kebangkitan BEM baru Unhas bukanlah nostalgia romantik atas masa lalu, tetapi proyek rasional tentang masa depan.

Ia menuntut keberanian untuk bertanya ulang: “Apa arti menjadi mahasiswa hari ini?”.

Apa peran kita dalam dunia yang nyaris seluruhnya dikendalikan algoritma, pasar, dan birokrasi pengetahuan?. Bagaimana kampus bisa menjadi ruang keberpihakan, bukan sekadar tempat mencari ijazah?. Pengakuan semu.!

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu berarti menghidupkan kembali semangat “TAMALANREA” — pilihan tepat Prof. A.Amiruddin, rektor panutan kita. Tamalanrea : tempat belajar tak pernah jemu, tempat membangun kesadaran sosial.

BEM baru Unhas, dalam konteks ini, bukan sekadar organisasi, melainkan simbol keberanian untuk berpikir dan bergerak di luar batas.

Kita mungkin tidak lagi berorasi di jalan-jalan, tapi masih bisa mengguncang lewat narasi dan gagasan. Kita mungkin tidak lagi mencetak buletin stensilan, tapi bisa menulis dan menyebarkan ide di ruang digital yang menjangkau puluhan ribu orang.

Dan kita mungkin tidak lagi menyebut diri sebagai “aktivis”, tapi tetap hidup dalam semangat aktivisme — semangat untuk tidak diam terhadap ketidakadilan, untuk tidak tunduk pada arus kebiasaan, untuk terus bertanya dan mencipta untuk mentaga marwah almamater.

BEM baru Unhas seharusnya bukan “penerus” masa lalu, tetapi  penafsir baru sejarahnya.
Ia tidak menyalin gaya perlawanan lama, tetapi menulis cara perlawanan baru — perlawanan yang kreatif, solutif, dan bernas.

Jika dulu mahasiswa Unhas menggetarkan kampus lewat mimbar bebas, maka kini mereka bisa mengguncang lewat konten kritis, riset, atau inovasi sosial.

Intinya sama: menjadi suara nurani di tengah kebisuan.

Menyalakan kembali BEM Unhas berarti menyalakan kembali kesadaran kolektif bahwa kampus bukan ruang netral — ia adalah ruang moral. Tempat di mana ide, integritas, dan keberanian bertemu untuk menulis arah masa depan.

Dan dari Tamalanrea, mungkin bara kecil itu akan membesar lagi — seperti dulu, ketika sejarah kampus ini masih muda dan berani.

Bedanya, kini ia akan menyala dengan wajah baru: cerdas secara digital, terbuka terhadap kolaborasi, dan tetap teguh menjaga nurani.

Karena sesungguhnya, menjadi mahasiswa adalah belajar untuk selalu care – peduli sekitar kehidupan nyata.

BEM Unhas bisa bangkit lagi — bukan dengan meniru masa lalu, tetapi dengan menciptakan masa depan. Dengan bahasa baru, teknologi baru, dan kesadaran baru, BEM baru Unhas dapat menjelma menjadi pusat inovasi sosial, ruang produksi pengetahuan, dan wadah kepemimpinan intelektual mahasiswa.

Tamalanrea telah melahirkan banyak generasi yang berpikir dan berjuang. Kini saatnya generasi Gen Z melanjutkan kisah itu — bukan dengan teriakan, tetapi dengan karya; bukan dengan oposisi semata, tetapi dengan kolaborasi; bukan dengan nostalgia, tetapi dengan visi.

Karena di setiap zaman, selalu ada mahasiswa yang bangkit untuk berkata:

“Kampus ini terlalu berharga untuk dibiarkan diam.”

 

Categories
Artikel

Sketsa (konon) Jenaka : Demonstran Guru Besar

 

Ada satu jenis manusia kampus yang tak pernah benar-benar “tua” dan punah. Rambutnya memang mulai memutih bahkan semakin menipis—nyaris botak, tapi semangatnya tetap merah menyala—seperti spanduk demonstrasi yang dulu ia tulis dengan cat pilox di atas kain bekas sprei asrama.

Lima puluh tahun sudah ia hidup dalam satu misi sederhana tapi berisiko tinggi: merawat kebebasan mahasiswa berekspresi. Ia tahu, itu pekerjaan yang tidak pernah selesai.
Kadang berbuah tepuk tangan, dicemoh rektorat,  kadang dikejar Laksusda Kodam XIV Hasanuddin.

Suatu siang yang mulai sunyi, di toilet fakultasnya sendiri, sang guru besar ini tergelincir. Terpelanting dengan gaya bebas. Sisa-sisa refleksi saat latihan terjun payung Resimen Mahasiswa masih diingatnya, tapi ketangkasan itu termakan usia. Sikunya penuh darah–menetes di pintu masuk toilet, dadanya sesak, seakan tubuhnya ingin berpindah alam—tapi rupanya Tuhan belum menandatangani surat cuti panjang untuknya. Katanya sambil tertawa kecil, saat dikerumuni pegawai fakultas yang membawa box P3K, “Mungkin Allah memakluminya, ia hendak mengambil wudhu, sholat dhuzur sambil menunggu jadwal mengajar siang.” Dua pekerjaan mulia, sebelum pulang mengasuh cucunya.

Sebulan kemudian, lukanya belum kering, ia sudah berdiri lagi di depan kamera media massa  –pelataran rektorat. Membacakan pernyataan sikap menolak UU Pemilu bersama sejumlah dosen senior dan guru besar peduli demokrasi. Gagal memang, tapi bukan berarti kalah. Bersamaan hari itu, maklumat rektor datang—tapi yang datang pernyataan sikap beberapa berikutnya jauh lebih besar: 109 guru besar kampusnya menyetujui menolak revisi Pilkada UU, kali ini berhasil. Dan maklumat rektor sudah tiada, terasa memahami.  Katanya lagi sambil tersenyum, “Tuhan memang lucu, kadang kita jatuh dulu baru berdiri tegak.” Padahal, di TikTok biasanya viral bahwa kalau terjatuh di toilet biasanya tak berumur panjang, terhitung bulanan saja.

Sejak masih mahasiswa, ia sudah langganan ditahan rezim Orde Baru (Orba). Keluar-masuk sel  tahanan politik Laksusda/Kodam XIV Hasanuddin. Bukan kriminal, cuma “tahanan terhormat,” seperti julukan tahanan Petisi 50. Para intel Kodam menyebutnya “langganan”, saat harus menjemputnya kembali pada peristiwa berikutnya. Ironisnya, saat reformasi bergulir, justru dia yang dipercaya jadi Pembantu Rektor (PR III)  urusan mahasiswa dan Alumni. Ia tertawa khas aktivis waktu mengenang itu, “Dulu saya dikejar tentara, sekarang saya malah mendampingi mahasiswa yang dikejar aparat polisi. Lengkap sudah karmanya.”

Tapi ia tak berhenti di situ. Dibantu honor mengajarnya, ia menulis dan menerbitkan buku memoar berjudul “Demokrasi Untuk Anak Bangsa : Kritik Tajam Guru Besar dan Dosen UNHAS Peringatkan Jokowi dan Elit Politik”. Diedit sendiri, dicetak sendiri, dikirim sendiri ke kampus-kampus dan relasi seperjuangan.  Ia memasukkan  belasan dosen senior dan guru besar sebagai editor bersama. Katanya dengan wajah bersolek jenaka, “Ini tindakan tolol yang paling saya banggakan. Karena cuma orang tolol yang masih percaya bahwa semangat dosen dan guru besar kritis bisa dirawat lewat buku memori.”

Minggu ini di awal oktober, ia kembali ke ruang kelas besar di gedung baru fakultasnya. Mengajar mahasiswa baru yang wajahnya mirip anak muda TikTok. Seusai kuliah, ia berdiri di lobi fakultas menunggu gojek orderannya–-pulang ke perumahan dosen di seberang kampus. Mahasiswa-mahasiswi itu lewat—melintas begitu saja—tanpa senyum, tanpa sapa. Lagak Gen-Z, mungkin begitu.  Ia hanya tersenyum bergumam, “Rasanya dulu saya tak seperti itu, mungkin karma kampus ‘tranksaksional’ melengkapi nuansa hari ini.”

Saat penarikan nomor urut Calon Rektor Unhas (2026-2030), ia bersamaan pulang salah seorang calon rektor menuju parkiran rektorat.  Di pinggiran jalan–-di samping pos satpam, ia langsung mengangkang menaiki sadel sepeda motor seorang mahasiswanya yang sudah menungguinya untuk mengantar kembali mengajar di fakultasnya. Salah seorang calon rektor tersebut menegur bergurau, “mengapa profesor naik motor” ?. Saat itu, ia masih memakai seragam jas merah alamamaternya sebagai anggota SA. Ia hanya tersenyum, tak bersoal. Ia lalu membalasnya dengan gaya pramuka, “Kenapa sohib kita (menyebut nama seorang sahabat), tidak mengawalki saat pendaftaran calon” ?. Calon rektor itu menjawab, sahabat kita itu bilang; “Saya hanya mengawalmu, kalo kamu mau pergi menikah” ?.  Ia sendiri, sudah beberapa kali masuk calon rektor –membacakan visi-misi-dan gizinya, tapi tak pernah berhasil, konon sekadar meramaikan – biar terkesan demokrasi kampus tidak sakit.

November ini, genap 40 tahun ia mengabdi di fakultas homebase-nya. Setahun lagi ia pensiun. Ia tahu, sebentar lagi dirinya akan “digudangkan” seperti lokomotif tua yang sudah menempuh ribuan kilometer perjalanan panjang. Tapi siapa bilang lokomotif berhenti punya tenaga?. “Kereta boleh berhenti,” katanya pelan menghibur diri, “tapi peluitnya tetap bisa membangunkan kampus yang sedang tidur.” Dan ia tertawa lagi—tawa khas seorang demonstran yang tak pernah benar-benar pensiun dari pergolakan mahasiswa.

Suatu hari dalam perjalanan pulang dari kampus, di atas gojek yang menebar aroma bau jaket lusuh, ia terganggu celutuk seorang yuniornya – mantan Ketua DPRD Makassar, “Mengapa ‘aktivis tulen’, anak-anak mereka terlantar”. !!!

Categories
Artikel

KOMUNITAS SASTRA BARAYA-TAMALANREA

 

Di masa kepemimpinan A. Amiruddin sebagai Rektor Unhas, ragam kegiatan berkesenian cukup unik. Rektor Amiruddin dengan berani dan yakin mengundang dan membiarkan kehadiran pesohor seni Indonesia tampil di kampus Unhas. Tak hanya menghadarkan Amri Yahya sipelukis kondang, tapi juga penyair eksentrik seperti Sutarji Kalsum Bachry.

Tawaran nuansa seni-budaya di Unhas, tak lepas dari ‘jejaring’ S. Sinansari Ecip—novelis unggul,  pemenang lomba menulis novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), beberapa kali. Ecip juga pemenang menulis puisi DKJ.

Seniman dan budayawan  berstatus dosen Unhas, ternyata cukup banyak aktif di Dewan Kesenian Makassar (DKM) seperti Mattulada (alm), M.Anwar Ibrahim (alm), Ishak Ngeljaratan (alm), Fahmy Syariff (alm), Nunding Ram, Atja Razak Thaha, Amran Razak, dan Ridwan Effendy (alm).

Seniman dan budayawan alumni atau pernah kuliah di Unhas seperti Mochtar Pabottingi, Aspar, Yudhitira Sukatanya-Edy Thamrin, S.M.Noor, Luna Vidia; Baso Natsir,  Moch.Yayath Pangerang, Ilham Anwar, Rudy Harahap, Anie Dunda, Asniar Ishak, dan Fitri.

Pagelaran seni dan puisi setiap peristiwa penting biasanya digelar  di Lapangan Catur, depan aula Fakultas Kedokteran – samping rektorat Unhas  kampus lama Baraya yang biasanya ramai ditonton rakyat.

Pada awal 1980-an, sekelompok penyair mahasiswa Unhas mendeklarasikan berdirinya Serikat Penyair Kampus (1981-1983), digagas Mahrus Andies, Ridwan Effendy (alm), dan Amran Razak, Amri Tandulangi (alm). Deklarasi dimaksudkan sebagai bentuk ‘pemberontakan’ penyair muda kampus yang disepelekan penyair kondang Dewan Kesenian Makassar (DKM). Sejalan dengan terbitnya beberapa edisi—kumpulan puisi di media stensilan Balance Pers Group (BPG), yang sempat pula diberi panggung DKM.  Aktivis Serikat Penyair Kampus, mengembara di Pusat Kegiatan Mahasiswa(PKM) kampus lama Baraya – jalan Sunu.

“Tampomas dalam Puisi”, berkisah tentang tenggelamnya kapal Tampomas II di Masalembo. Kumpulan Puisi ini dieditori oleh sastrawan nasional, S. Sinansari Ecip diterbitkan Dewan Kesenian Makassar (DKM). Memuat banyak karya penyair kampus.

Surat kabar kampus (Skk) Identitas belasan tahun menyajian rubrik Seni-Budaya, berupa cerita pendek, ulasan sastra-budaya, puisi kontemporer. Puisi-puisi belasan tahun itu, lalu dibukukan skk. Identitas berjudul “Napas Kampus”– editornya Anil Hukma. Sejumlah nama bertebaran dalam kumpulan puisi kampus tersebut : A.Razak Thaha, Amran Razak, Anil Hukma, Ridwan Effendy (alm), Mahrus Andies, Amri Tandulangi, Nunding Ram, Eman – M.Anwar Ibrahim (alm), Arsunan Arsin, dan Rahyuddin Nur Cegge.

***

Di tahun 1981 jelang Dies Natalis Unhas, kampus Universitas Hasanuddin mulai berpindah dari Baraya ke kampus baru Tamalanrea, kampus itu masih sunyi. Hamparan tanah merah dan deretan pohon flamboyan menjadi saksi tumbuhnya generasi baru mahasiswa yang haus akan pengetahuan dan kebebasan berpikir.

Kehidupan akademik mulai berdenyut, tapi di baliknya terselip sesuatu yang lebih dalam: kerinduan akan ruang dialog yang bebas, tempat mahasiswa bisa berbicara tanpa dibatasi kurikulum, tanpa takut pada kekuasaan..

Maka lahirlah berbagai kelompok studi dan komunitas seni-kultural. Ada yang membahas politik, ada yang mendalami filsafat, ada pula yang menjadi-kan sastra sebagai jembatan menuju kesadaran sosial. Dari ruang kecil, selasar fakultas, hingga taman-taman kampus, muncul komunitas yang kelak dikenang sebagai penjaga ruh humaniora Tamalanrea.

Hiasan awal kegiatan seni mahasiswa, saat perkemahan urakan mahasiswa di lapangan tengah kawasan FIS kampus Tamalanrea. Dekan FIISBUD saat Kustiah Kristanto (almh) dan PR III kemahasiswaan Noer Nasry Noor, ikut bermalam memantau perkemahan mahasiswa urakan. Mereka terinspirasi Perkemahan Urakan Teater Alam – W. S, Rendra di Pantai Tritis, Jogyakarta, ujar Moch. Yayath Pangerang (alm) selaku ‘host’ kala itu. Tentulah tak lazim, berkemah urakan selama 3 hari, memakai tenda Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) – Angkatan Udara. Di sinilah, lahir kumpulan Sajak-sajak Malam, sajak-sajak melankolis karya Faturahman, Mahrus Andies, Ridwan Effendy (alm), Amri Tandulangi (alm), Amran Razak, dan Rahyuddin Nur Cegge. Di panggung malam, disajikan pula Musik Dapur dari SEMA Kelas Sore – dirigennya Philip Luhulima (alm). Ornamen penampilan seni orkestra diolah Ombenk-Abd Gani (alm) terkenal piawai.

PERTEMUAN PENYAIR MAKASSAR

         Di tahun 1995-1997, “Amran menggagas Pertemuan Penyair Makassar I–III di selasar Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea. Pertemuan ini sebagai ‘perekat’ penyair makassar dan penyair kampus, terutama mahasiswa”, ungkap Mahrus Andies di  Pelakita. Pertemuan selalu dihadiri penyair kondang seperti Husni Djamaluddin, Rahman Arge, dan Aspar Paturusi. Penyair senior kampus terlihat tampil seperti Eman-M.Anwar Ibrahim (alm), Fahmi Syariff (alm), Atja Razak Thaha. Ada juga Yudhistira Sukatanya, Ram Prapanca, Ani Dunda dan beberapa penyair muda Makassar.

MASYARAKAT SASTRA TAMALANREA : Medium Pembebasan

Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) lahir dari semangat intelektual yang mendalam. Ia bukan sekadar klub baca, melainkan ruang permenungan dan perlawanan kultural terhadap kemapanan.  Di tengah suasana politik kampus yang dikekang oleh kebijakan NKK/BKK, para mahasiswa di MST mengguna-kan sastra sebagai medium pembebasan.

Tokoh-tokohnya antara lain : Muhary Wahyu Nurba, Sudirman HN, dan Aslan Abidin — memadukan bacaan sastra dengan teori kritis, dari Paulo Freire hingga Pramoedya Ananta Toer. Bagi mereka, puisi bukan sekadar keindahan; ia adalah alat berpikir, bahkan alat menggugat.

Diskusi-diskusi MST kerap berlangsung hingga senja, di bawah rindangnya flamboyan depan FISIP. Mereka membicarakan eksistensi manusia, keadilan sosial, dan makna kebebasan.
Sastra di tangan mereka menjadi bentuk “perlawanan halus” — cara untuk tetap berpikir di masa ketika berpikir terlalu keras bisa berbahaya. MST adalah sastra yang kontemplatif, tajam, dan reflektif. Mereka percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil — dari kata-kata yang diucapkan dengan jujur.

KORIDOR – kumpulan Sajak Empat Penyair Tamalanrea  setebal 135 halaman, tahun 1995 diterbitkan Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST).

KOSASTER: Panggung, Persahabatan, dan Puisi

Beberapa tahun setelah MST menancapkan akarnya, lahirlah generasi baru dengan semangat yang lebih terbuka dan performatif. Mereka menamakan diri KOSASTER — singkatan dari Komunitas Sastra dan Teater. Jika MST adalah ruang baca yang tenang, maka KOSASTER adalah panggung  yang hidup.

Tokoh-tokoh seperti Shaifuddin Bahrum (alm), Syamsuddin Azis, Ami Ibrahim, Dasri Masud, Nawir, Alwi Majid, Nena Hasmar, Anisa Saleh, Jamila “Rimba” Anwar, dan Andi Isma menjadi jantung dari komunitas ini. Sederet pentolan lainnya : Fahmi Syariff (alm), Andi Wanua Tangke, Mustam Arif, Mas’ud Muhammadiah, Taufiq Bustama. Mereka ini dulu dipercaya sbg tim kritikus utk setiap pementasan teater di DKM. Jadi setelah pementasan malamnya, esoknya diadakanlah apresiasi atas pementasan itu. Di situlah KOSASTER tampil.

Mereka menulis, membaca, berdebat, dan memanggungkan karya-karya mereka dalam suasana penuh gairah.

KOSASTER memperlakukan sastra seperti festival kecil — ada puisi, tawa, nyanyian, dan perenungan. Puisi mereka kadang getir, kadang jenaka, tapi selalu punya nyala kemanusiaan.
Bagi mereka, sastra bukan milik ruang akademik, melainkan ruang hidup bersama.

Yang menarik, KOSASTER juga menghadirkan suara perempuan yang kuat. Penyair seperti Nena Hasmar, Anisa Saleh, Jamila “Rimba” Anwar, dan Andi Isma menulis tentang cinta, tubuh, dan identitas perempuan dengan keberanian yang jarang ada di masa itu.
Kehadiran mereka membuat KOSASTER tidak hanya hidup secara intelektual, tapi juga emosional dan empatik. S. Alam menilai KOSASTER menggelorakan semangat melawan Orde Bau melalui pentas teater, seperti Lysistrata (WS Rendra),  Manusia-Manusia Perbatasan (Fahmy Syarif), Dalam Bayangan Tuhan (Arifin C. Noor) disutradarai Moch. Hasymi Ibrahim.

A.Wanua Tangke mengungkap bahwa pentolan Kosaster, selalu dilibatkan mengkritisi— mengapresiasi pentas teater diselenggarakan DKM.

BENGKEL SENI : Bengkel Kaum Merdeka

Dalam japrian S. Alam dikenalkan pula ‘Bengkel Teater’ , semula dari Sastra Indonesia lalu berkembang menjadi Bengkel Seni Fakultas Sastra, beranjak lagi menjadi Bengkel Seni Unhas. Pentolanya antara lain : Shaifuddin Bahrum dan Sutawijaya,  Marhabang, dan Hidayat.

Sutawija mengurai  serangkaian aktivitas Bengkel Seni di masanya :

Keheningan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Hasanuddin pada awal 1990-an terasa seperti halaman yang kosong — gersang, berdebu, dan sesekali hanya dilewati angin dari Danau Tamalanrea. Gedung yang sejatinya menjadi pusat denyut kreativitas mahasiswa itu tampak seolah tertidur panjang, menunggu sesuatu yang sanggup membangunkannya.

Lalu, pada awal tahun 1990, keheningan itu tersentak. Sekelompok mahasiswa datang membawa ide sederhana tapi hangat: pameran kartu lebaran. Tak ada sponsor besar, tak ada dekorasi mewah, hanya deretan karya tangan mahasiswa yang memadukan imajinasi, puisi, dan warna. Namun justru di situlah letak pesonanya. Pameran itu, yang digelar di ruang seadanya, sempat menarik perhatian TVRI — sebuah kebanggaan kecil namun berarti besar bagi dunia mahasiswa saat itu. PKM pun kembali berdenyut.

Gelombang kreativitas yang sempat tertahan kini mengalir deras. Tak lama berselang, di koridor FIS IV, diadakan pameran lukisan “Trilogi Nawa-nawa.” Ruang itu bukan galeri, melainkan lorong kampus yang dingin dan panjang — dipilih karena biaya sewa tempat terlalu mahal. Tapi bagi mereka, justru di situlah esensinya: menghadirkan seni di ruang publik, membawa warna di antara dinding kuliah, dan menegaskan bahwa ekspresi tidak butuh izin kemewahan.

Suara musik kemudian menyusul. PKM yang tadinya hanya menampung gema langkah kaki, kini bergetar oleh dentuman gitar dan pukulan gong dari konser musik mahasiswa se-Makassar. Para musisi kampus, dari berbagai fakultas dan universitas, berkumpul untuk satu hal: menandai bahwa generasi muda tak hanya berpikir, tapi juga merasa — dan menyalurkan rasa itu lewat nada.

Tak berhenti di situ, lantai dua Rektorat Unhas pun menjadi saksi hadirnya pameran lukisan “Mademoiselle D. Syuga.” Kali ini kolaborasi antara seniman kampus dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa. Pameran ini memperlihatkan kematangan estetika mahasiswa yang mulai berani menafsirkan dunia dengan bahasa visualnya sendiri.

Dan dari ruang teater, lahirlah pementasan “Penggali Kubur.” Sebuah karya yang di pentaskan Bengkel Seni, bukan sekadar pertunjukan, tapi juga bentuk perlawanan halus terhadap beku dan mapannya kehidupan kampus di bawah bayang-bayang birokrasi Orde Baru. Dalam lakon itu, mahasiswa belajar menggali makna eksistensi — bukan hanya kubur dalam cerita, tapi juga “kubur” metaforis bagi ide-ide yang dikekang.

Di dunia sinetron, bengkel seni mendukung sinetron I Baso Mannangkasi yang disutradarai Shaifuddin Bahrum (alm).

Di antara pameran,  pentas teater  dan sinetron itu, PKM Unhas kembali hidup. Ruang-ruang sunyi yang dulu dilupakan kini menjadi saksi bangkitnya gelombang baru kesadaran seni dan budaya kampus. Tak lagi sekadar tempat rapat organisasi, PKM menjelma menjadi laboratorium kreatif di mana ide-ide segar tumbuh tanpa batas.

Itulah masa ketika mahasiswa tak hanya bicara politik atau perkuliahan, tetapi juga menyulam makna kehidupan lewat seni. Masa ketika lukisan di dinding, musik dari panggung, dan dialog di teater menjadi bahasa lain dari perjuangan — perjuangan nan sunyi, tapi mendalam.

SAJAK-SAJAK CINTA Aktivis Mahasiswa (1980-1990)

*Puisi Cinta dari Kampus Merah : Puisi Merindu, ulasan Yudhistira Sukatanya.

Di suatu masa muda bergolak, sekira tahun 1980 – 1990, sejumlah mahasiswa pernah aktif beriteraksi di koridor, di ruang senat, di kantin, di sekretariat skk. Identitas, di ruang-ruang kuliah, di selasar gedung bertingkat tanpa lift di Kampus Merah UNHAS yang berlogo ayam jantan itu. Macam-macam bisa jadi peristiwa biasa dan tak biasa di sana. Ada yang membuat majalah, koran, bulletin, main band, ada yang jadi pelapak, ada yang sekali-sekali saja datang, karena berbagai kepentingan. Juga ada yang aktif menuliskan syair dan membukukan karya mereka (mereka itu para aktivis yang ‘diakui’ sebagai penyair kampus).

Puisi adalah salah satu karya kreatif yang sejak bertahun lalu mereka gemari. Adalah jalan bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan, renungannya dari waktu ke waktu. Tentang bagaimana cara menyampaikannya adalah wilayah kebebasan kreatif. Ada ungkapan cinta, rindu, marah, ada juga catatan perjalanan. Kesemua rangkuman tersebut adalah ekspresi emosi masing-masing dalam menyikapi lingkungan, sikap sosial dan lainnya.

 Kenyataan ini adalah sisi lain dari dinamika kampus sebagai kawah candradimuka para pentolan mahasiswa. Tidak hanya menggodok dan mengokohkan diri mereka sebagai motor demonstrasi memperjuangan hak dan kepentingan kaum jelata, bangsa dan negara, tetapi sebagian dari mereka juga aktif menempa karakternya dalam kehalusan budi dan bahasa menuju kedewasaan lewat jalur sastra.

Bertahun kemudian.

Kini, jika ada yang yang bertanya; Apa yang dapat dilakukan oleh anggota Whatsapp Group para mantan aktivis penyair kampus masa lalu itu yang kembali berkumpul, kreativitas apa yang bisa mereka hadirkan? Jawabannya mungkin beragam. Tetapi salah satu yang nyata, buku ini buktinya. Amran Razak mampu memprovokasi mereka untuk menulis puisi lagi, menjadi penyair lagi. Para penulis yang karyanya terhimpun dalam antologi ini, berlatar belakang beragam profesi. Seperti dulu juga, boleh saja mempertanyakan apakah yang mereka sampaikan ini, sungguh puisi? Boleh setuju, boleh sebaliknya. Boleh memuji, boleh
mencaci. Tetapi sesungguhnya para penikmatnya perlu juga membuka pintu hati, membuka diri untuk membangun pemahaman dan apresiasi. Karya- karya yang terhimpun dalam buku ini dinyatakan sebagai  ungkapan diri terkini masing-masing penulisnya. Melihat gaya penulisannya tentu ini adalah puisi.

Catatan dan renungan yang terungkapkan, tetap menegaskan kekhasan “penyair kampus” apa yang ada di dalam kenyataan juga diantara harapan. Ini sungguh mutiara-mutiara kata yang terpendam dan menyampaikan nilai tersendiri. Mengungkankan sikap, atas sekumpulan
ungkapan perasaan, pengalaman hidup, pergolakan pemikiran yang sudah diproses dalam tungku kontemplasi yang khusuk. Tentu kehadiran ini membuka cakrawala pandangan yang luas. Adalah kepastian, jika kata-kata mereka tentu tidak hanya kelembutan perasaan, kebijakan, tapi juga pisau yang tetap bisa mengupas warna-warni, gelap, terang sisi kehidupan.

Para pembacanya, tentu boleh berbahagia mendapatkan karya dalam tiga layer antologi yang dinamai “Tamalanrea”. Bahwa inilah rekaman selintas rekaman dokumentasi  perjalanan kreatif yang belum lagi berhenti. Langkah penyair bernafas panjang dan kian menyingkapkan jati diri masing- masing dalam pengembaraan kepenyairan. Kali ini hadir Acram Mappaona Azis (Acram), Amran Razak, Andi Timo Pangerang, Andi Sri Wulandari, Ana Mustamin (AnaHaiku), Busman, Chairul Anam, Farida Pattinggi, Ilham Anwar, Kamaruddin Azis (Denun), Mahrus Andhies, Marwan Hussein (alm), Mohammad Hasymi Ibrahim (Ami), Yuyun-Yundhini Husni Djamaluddin, Rustiah Rasyid,  Sudirman Numba, , S Alam, Sri Musdikawati, Sumarni Hamid Aly, Sutawijaya, Yudhistira Sukatanya, Sakka Pati.  Di wag ini, hadir pula Moch.Yayath Pangerang, Andi Akhmar, Ahmad Musa (Uca) dan Asri Tadda. Pernah hadir lalu pamitan A. Arsunan Arsin dan Yachfaryati.

Lalu mengapa “Tamalanrea”?

Tamalanrea mempunyai dimensi dalam sejumlah layer. Tidak hanya penanda-setting lokasi namun bisa dimaknai sebagai tak pernah bosan, tak pernah putus asa, tak pernah lelah. Ya. Layer-layer yang menafasi dimensi jalinan komunikasi tak pernah henti, persahabatan tak lekang oleh waktu dan tentu semangat menulis puisi yang tak pernah padam.

Hingga kesempatan ini, bisa terbaca, bagaimana proses pematangan yang terus menerus terjadi tanpa henti. Meski ada diantaranya yang berkata ini hanya candaan kecil.

Dan waktu telah memberi kesempatan bagi mereka untuk lagi-lagi hadir dan mengalir. Tentu sebagai penyair.

Sekali penyair – Tetap Merdeka.                         

***

Waktu bergulir. Kampus Tamalanrea semakin besar, dan dunia berubah cepat.
Masuklah era digital: puisi kini hidup di layar, bukan di panggung; diskusi sastra berpindah ke grup daring, bukan lagi di bawah pohon flamboyan. Namun, semangat yang dulu menyalakan dari berbagai komunitas seni, MST dan KOSASTER serta BENGKEL SENI tetap terasa. Generasi baru mahasiswa Unhas kini menulis di medsos, blog, kanal YouTube, dan podcast sastra. Mereka membaca Sapardi dan Rendra, tapi juga mencipta gaya baru — spoken word, video puisi, dan esai reflektif digital.

Mediumnya berubah, tapi roh kebebasan tetap sama. Mereka masih menulis tentang kemiskinan, cinta, dan absurditas hidup di tengah algoritma. Sastra kampus kini lebih terbuka, lebih cepat bergaung, tapi juga menghadapi bahaya: kehilangan kedalaman. Karena itu, warisan berbagai komunitas seni, MST, KOSASTER, Bengkel Seni penting untuk diingat. Mereka mengajarkan bahwa sastra bukan soal popularitas, melainkan soal kejujuran dan kesadaran.

***

Generasi sastra berkecimping di Tamalanrea hari ini—mungkin tak akan pernah mengetik dengan mesin tik, tak akan pernah membaca puisi di taman dengan mikrofon rusak, tapi kalian punya hal yang sama dengan kami: kegelisahan.

Pelaku seni Tamalanrea di masa lalu menulis untuk melawan bisu, kalian menulis untuk melawan kebisingan. Mereka berdebat tentang Chairil dan Pramoedya, kalian mungkin berbicara tentang algoritma dan kebebasan digital. Namun esensinya tetap: menulis untuk memahami manusia.

Jangan berhenti membaca, menulis, dan berdiskusi.
Karena kampus tanpa sastra adalah kampus tanpa jiwa.
Dan Unhas, sejak lama, punya jiwa yang tumbuh dari kata-kata.

Jika suatu sore nanti, kalian membaca puisi di bawah flamboyan atau menulis esai di depan layar laptop di warkop sepanjang Tamalanrea — percayalah, kalian sedang melanjutkan api yang sama. Api yang dinyalakan oleh   Perkemahan mahasiswa urakan,  MST, KOSASTER dan Bengkel Seni, api yang menyala tenang di setiap generasi yang mencintai bahasa dan kebebasan.

Sejarah sastra kampus Baraya-Tamalanrea adalah sejarah tentang keberanian untuk berpikir, merasakan, dan menulis di luar batas. Sajak-sajak Malam perkemahan urakan mahasiswa menghentakkan panggung seni-komunal. MST memberi fondasi kesadaran, KOSASTER menyalakan ekspresi.  Bengkel Seni menggeliat panggung pembebasan dan generasi digital hari ini membawa keduanya ke ruang yang lebih luas. ‘Aktivis-penyair’ 1980-1990 – merindu.  Kampus boleh berubah, teknologi boleh datang dan pergi — tapi selama masih ada mahasiswa yang menulis karena gelisah, membaca karena cinta, dan berdiskusi karena ingin memahami dunia, tradisi sastra Tamalanrea tidak akan pernah mati.

Categories
Artikel

TONGGAK PERS MAHASISWA : SWARA BENING KAWULA MUDA

 

Pers mahasiswa merupakan salah satu wujud dari kebebasan berekspresi, kebebasan akademik, serta semangat intelektual yang tumbuh di kalangan mahasiswa. Sejak masa awal pergerakan nasional hingga era kontemporer, pers mahasiswa hadir sebagai wadah untuk menyalurkan gagasan, menyuarakan kritik, dan membangun kesadaran kritis. Di dalamnya terkandung nilai idealisme yang khas: keberanian menegakkan kebenaran, berpihak pada kaum tertindas, serta menjaga independensi dari kepentingan pragmatis.

Keberadaan pers mahasiswa di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Pada masa kolonial, organisasi mahasiswa dan pemuda menggunakan media cetak sebagai alat perjuangan politik, pendidikan, dan penyadaran rakyat. Setelah kemerdekaan, pers mahasiswa menjadi salah satu pilar dalam dinamika kehidupan intelektual kampus. Peran itu semakin menonjol ketika terjadi ketegangan antara dunia kampus dengan kekuasaan negara, misalnya pada era Orde Baru, di mana kebebasan pers secara umum dibatasi, namun pers mahasiswa tetap berupaya hadir dengan gaya khasnya: kritis, alternatif, dan idealis.

Di era reformasi, ruang gerak pers mahasiswa semakin terbuka. Euforia demokrasi dan kebebasan pers memberi ruang baru untuk mengembangkan wacana kritis. Namun, terbukanya kebebasan ini juga menghadirkan tantangan baru: hilangnya konsistensi idealisme, masuknya kepentingan pragmatis politik praktis ke dalam tubuh organisasi mahasiswa, serta guncangan akibat derasnya arus digitalisasi dan media sosial. Di titik inilah, urgensi membicarakan kembali posisi pers mahasiswa sebagai penjaga idealisme menjadi sangat penting.

Pers mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai media internal kampus, melainkan juga sebagai bagian dari gerakan intelektual yang lebih luas. Kehadirannya mampu membentuk opini publik, mengedukasi mahasiswa, dan menantang struktur kekuasaan yang tidak adil. Dalam konteks ini, idealisme yang dibangun pers mahasiswa menjadi kekuatan moral sekaligus politik. Ia melampaui batasan kampus dan menyentuh ranah sosial, budaya, dan bahkan politik nasional.

Seiring perkembangan teknologi, pers mahasiswa kini menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, digitalisasi membuka akses lebih luas bagi mahasiswa untuk menyebarkan ide dan kritik. Di sisi lain, banjir informasi, disinformasi, dan budaya instan menguji keteguhan idealisme mahasiswa. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah pers mahasiswa masih mampu menjadi ruang yang kokoh untuk membangun idealisme di tengah derasnya arus pragmatisme dan hegemoni digital?

Sekelumit Jejak Pers Mahasiswa Unhas

Skk. Identitas. Salah satu tonggak penting adalah lahirnya surat kabar tabloid “Identitas, berdiri 16 Desember 1974. Semula bernama Duta Mahasiswa (Dumas). Pendirinya Syafri Guricci, Anwar Arifin, dan Fahmy Miyala. Nama Identitas dipilih untuk menegaskan misi membangun identitas intelektual mahasiswa Unhas yang kritis, independen, dan idealis. Meskipun, didalam perjalanannya lebih banyak nilai sebagai media rektorat. Lantaran hal ini, identitas ‘digolongkan’ sebagai pers kampus dikelola humas (bukan pers mahasiswa). Tidak heran, jika beberapa jebolan Identitas yang merasa tak tertampung suara idealismenya lalu mendirikan buletin pers mahasiswa.

Buletin BALANCE. Salah satu, penerbitan pers mahasiswa (stensilan) bertahan lama adalah buletin Balance (1978-1983). Kenakalan buletin Balance, membuat pengasuhnya tak jarang kena intrik penguasa, terutama karena kop buletin dibumbui anti NKK- anti Militerisasi.

Penyajian Balance  polos – telanjang tapi berusaha dibungkus dengan penuturan ala majalah mingguan Tempo,  bergaya literary journalism – jurnalistik sastra. Gaya jurnalistik baru ‘menggelitik’ Orde Baru. Pengelolanya pun tak sembarangan, redakturnya digilir menjadi pemimpin redaksi, pernah dijabat oleh A.Wahab Suneth, Ridwan M.Thaha, Abd. Hamid Paddu, Ridwan Effendy (alm), sampai Aidir Amin Daud dan Hamid Awaluddin. Desain sampul dan karikutur, dikelola Anwar Toha (alm) dan Kasman Abdullah (alm).

Buletin Balance jadi barometer ‘kemarahan’ mahasiswa seperti diungkap rektor Unhas legendaris Prof. Dr. A. Amiruddin, “jika mau tahu situasi mahasiswa, baca buletin Balance”.

Pada awal 1978 pemerintah kembali melakukan pembreidelan terhadap beberapa surat kabar umum ternama seperti Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pelita.  Kekosongan sementera pers umum ini diisi oleh pers mahasiswa, dimana tiras pers mahasiswa mencapai puncaknya, sampai puluhan ribu eksamplar dan banyak dibaca orang luar kampus. Tapi pemerintah kemudian juga membreidel penerbitan mahasiswa ini, dan baru boleh terbit setelah enam bulan. Tapi belum genap setahun, Koran mahasiswa seperti Salemba – UI, Gelora Mahasiswa – UGM, dan Kampus – ITB kembali dilarang terbit, karena isi pemberita-annya yang dianggap tidak berubah.

Kongres IPMI

Dua tahun kemudian, diselenggarakan Kongres Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) ke V di Jakarta, bulan Mei 1980. Sebenarnya, Kongres IPMI ke V pada bulan April direncanakan di Ujung Pandang, karena alasan perizinan akhirnya Kongres dialihkan di Jakarta, padahal persiapan di Ujungpandang sudah mantap, ucap Zohra A.Baso (almh) sebagai Ketua Pelaksana. Salah satu pertimbangannya, karena baru terjadi rusuh massa – pengganyangan Cina (Toko LA) di Ujung Pandang. Pada Kongres ini ada dua pemikiran: 1) ingin tetap independensi IPMI dalam kondisi bagaimanapun. 2) ingin IPMI dalam pembinaan organisasi kepemudaan tingkat nasional [KNPI] dengan konsekuensinya IPMI berubah nama menjadi IPPMI (Ikatan Pers Pemuda dan Mahasiswa Indonesia). Dan akhirnya kongres memutuskan tetap independensinya dan tidak bergabung dengan KNPI. Meski belum menemukan solusi atas banyaknya pembreidelan. Kongres menetapkan Ketua Umum Wikrama Ilyas Abidin dan Agusman Efendi (sekjen) periode 1980-1982. Pertengahan tahun 1982 IPMI kian meredup dan dibekukan. Kepengurusan harusnya berakhir tahun 1982. Namun mengalami ketidakjelasan hingga kemudian perlahan organisasi mengalami kebekuan aktivitas. Kondisi ini tidak lepas dari pengaruh Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang intensif dilakukan sejak tahun 1978. Depdikbud tidak lagi mengakui lembaga intra di tingkat universitas, kecuali pada tingkat fakultas. Sedangkan di luar kampus hanya KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) yang diakui oleh pemerintah. Meski legalitas IPMI belum dicabut, kondisi ini juga berpengaruh terhadap kinerja IPMI. Praktis aktivitas penerbitan mahasiswa tidak banyak muncul.          

Buletin Biara romoromo (1983 -1984) bermula lahir dari ‘saling ejek’ Rudi Harahap (alm) pengasuh ruang budaya suratkabar Harian Fajar di awal tahun 1980an. Rudi Harahap (alm) memakai istilah “biksu” penamaan dirinya dalam artikelnya di Harian Fajar. Terinspirasi dari kearifan Romo Mangunwijaya, segerombol aktivis pers mahasiswa di lorong 108  kemudian kediaman di lorong pencerahan itu sebagai “biara romoromo”. Dari lorong 108 – biara romoromo menerbitkan buletin perlawanan terhadap ‘kekakuan’ ritme Dewan Kesenian Makassar (DKM) saat itu. Dominasi penyair dan dramawan senior – para pesohor DKM, seakan tak memberi ruang bangkitnya generasi baru.  Pengasuh buletin antara lain; Ridwan Effendy (alm), Roel Sanre (alm), Rahyuddin Nur Cegge, A.Yayath Pangerang (alm), Muh. David Aritanto. Distributor buletin biara romoromo : Ali Samad (alm).

Buletin Masapeka terbit 1984-1985. Menurut Tamzil Ibrahim, semula gagasan membuat buletin Masapeka sekedar wadah silaturahmi senior-yunior antar fakultas terutama asisten laboratorium, memuat berita-berita sekilas kampus, pikiran-pikiran sederhana penuh canda dari teman-teman, dan dinamika aspirasi mahasiswa.  Mereka yang selalu berkumpul ‘ngopi bareng’ di warung paman di sebelah ruang perrtemuan Sanggar Andi Pangerang, kampus lama Baraya. Pada penerbitan kedua, sampul halaman depan buletin memuat gambar karikatur rupiah tergilas sepatu lars dengan dilengkapi gambar dollar yang berjaya. Karikatur tersebut melukiskan dominasi militer dalam pengaturan ekonomi bangsa, di-backing Amerika Serikat. Ternyata, gambar sampul tersebut mengusik ketenangan rektorat, pengasuhnya pun ditegur keras. Sepertinya ada desakan dari Kodam XIV Hasanuddin selaku Laksusda/ Pangkopkamtib, apalagi simbol militer sepatu lars. Penerbitan buletin Masapeka, edisi berikutnya tidak begitu lancar karena kesibukan pengasuhnya ‘melamar kerja’.

Tabloid Tamalanrea Post (TAPOS) diterbitkan oleh Senat Mahasiswa Univeristas Hasanuddin (SMUH) selama 2 periode 1991-1993 kala itu Ketua SMUH, A.Yaqkin Padjalangi, dan Aminuddin Syam. Tapos sempat bikin heboh lantaran headlinenya mengulas ‘anak presiden Soeharto” bertajuk  “Ituttung Daeng Mangowa”, menyentil Mbak Tutut ?. Redpel kala itu A.W. Masry (Teknik) sempat terbit 3 edisi.

Terbit pertama dimasa kepemimpinan SMUH periode pertama, A. Yagkin Padjalangi. Pemrednya tertera nama A.Ilham Paulangi dan Asriful (FKM). Ketika A.W. Masry menggawangi Tapos, pemrednya Aco Aslam Yusuf (MIPA). Oplaq Tapos sempat terbit 3000 eksemplar, lantaran memuat habil UMPTN.

SMUH periode ini, malah sempat mendirikan Radio Diorama – Suara Mahasiswa yang menghadirkan Adnan Buyung Nasution, Hendardi, dan Teten Masduki untuk diwawancarai. Tercatat Alvian Mohammad (Sastra), Awaluddin (Kelautan), Tuti Isdayanti (MIPA), almh. Heryani Fachmi (MIPA), almh. Eha Sumantri (FKM), Tanra Alam (FKM).

Ada juga tabloid mahasiswa Libris, digawangi Pemred Alvian Mohammad. Libris, banyak menyoroti tradisi intelektualitas di kalangan mahasiswa. Terbit di masa Ketua SEMA Fak. Sastra, M. Nawir. Ini saya lupa berapa kali terbit. Namun edisi terakhirnya memblow up kalimat sarkastis di sampul belakangnya, “Bukan Alas Duduk”. Ironi sekaligus menggelitik daya tarik yg “lemah” mahasiswa pada kebiasaan membaca, japri A. W. Masry.

           Tahun 1994 merupakan cikal-bakal bangkitnya pers mahasiswa Unhas dengan hadirnya komunike bursama. Kesepakatan dan persaksian nurani untuk melahirkan wadah penampung seluruh potensi jurnalistik di Unhas. kebutuhan akan hadirnya lembaga pers mahasiswa Unhas makin mereka rasakan. Apalagi ketika itu, rezim orde baru lagi “buas-buasnya” memperlakukan rakyat Indonesia. Konsep digodok mulai di tingkat Senat dan HMJ. Di antaranya yang sempat tercatat, majalah Agrovisi dari Senat Pertanian, majalah Baruga dari Komunikasi FISIP, majalah Nurani dari MPM, Channel 9 dari Teknik dan Skk. Identitas. Dari diskusi itu, disepakati membentuk tim 7 yang diketuai Muh. Syaiful Bahri. Tugas tim 7 melobi dan negosiasi petinggi Unhas untuk merestui niat tersebut, terdiri dari A. Ilham Paulangi (Sastra), Sapri Pamulu  dan Amril Taufik Gobel (Teknik), alm. Arqam Azikin (FISIP), Nasrul Tanjung (Teknik), Herwin dan Syamsu Rijal (FISIP), Sukirman dan beberapa aktivis pers mahasiswa Unhas lainnya, tulis Dedy Ahmad Hermansyah di CAKA (edisi Skripsi 2)

Setelah ada kata sepakat, langkah selanjutnya diadakan pertemuan segi-tiga (PR III, Tim 7 dan para senior aktivis pers mahasiswa). Dari pertemuan segi-tiga emas itulah dilahirkan kesepakatan mendirikan unit kegiatan di tingkat Universitas bernama UKM Pers.

UKM Pers (UKMP) Mahasiswa Unhas, ternyata memiliki jaringan luas dan kuat antar pers mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Makassar dan Jawa. Jaringan pers mahasiswa ini, ikut mewarnai ritme pergerakan mahasiswa di kampus mereka. Pers mereka berisi perlawanan terhadap penguasa kampus, penguasa daerah dan rezim negeri ini. Sikap  oposisi struktural dituangkan dalam tabloitnya Catatan Kaki (CAKA), bahkan sempat menjadi alternatif bacaan masyarakat umum karena isinya juga menyangkut isi pengaduan dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Beberapa kali penerbitannya harus di di fotocopy untuk memenuhi permintaan masyarakat. Tabloid edisi pertama lapsus “Mahasiswa Berjuang dan Berjuang” menjadi salah satu rujukan peneliti nasional dan beberapa penulis buku tentang sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. CAKA sempat terbit belasan edisi. UKPM Unhas merupakan salah satu ‘lokomotif penting” pergerakan mahasiswa Unhas. UKPM  dilantik 9 Februari 1995 (SK Rektor No. 1065/PT/04.H3/0/1995), mengalami pasang-surut dinamis berganti nama UKMM, UKPM, lalu UKPPM (Unit Kegiatan Pers dan Penyiaran Mahasiswa. Pentolannya antara lain : Nasrun Tanjung, Mohd. Isradi Zainal, Ostaf Al-Mustafa, Andi Wahyuddin Jalil, Akbar Endra, Maqbul Halim, Hasbi Lodang, Adi Ahsan Anwar, Suparno, Bahar Makutana.

Sekretariat UKPPM di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) meski sumpek dan sempit itu bercokol sejumlah demonstran. Tak heran jika muncul sejumlah perkumpulan pergerakan dari ‘rahim’ aktivis UKPPM. Di antaranya Aliansa Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD), FM ANAK (Forum Mahasiswa Anti Nepotisme dan Anti Kekerasan (FM ANAK), tahun 1997. Penggagasnya Ahdi Ahsan, Syawaluddin Arief dan A.S. Kambie.

                                              ***

Di era digitalisasi saat ini – tak lagi serumit media pers konvensional, batas antara produsen informasi dan konsumen informasi semakin kabur. Media sosial, platform blog, aplikasi berita, hingga forum daring memungkinkan setiap orang yang terhubung dengan internet untuk memproduksi, menyebarkan, dan mengomentari berita secara instan. Dengan kata lain, setiap netizen (warga internet) berpotensi menjadi jurnalis. Namun, tanggung jawab dan kemampuan literasi digital menjadi faktor penentu kualitas berita yang dihasilkan.

Categories
Artikel

Mosaik Sunyi : Kelompok Studi Mahasiswa Unhas

 

Sejak pembekuan Dewan Mahasiswa (DEMA) dan lahirnya  Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) periode 1978-1983, kampus-kampus di Indonesia seperti kehilangan nyawa. Di Unhas, suasana terasa gersang. Sanggar A.P. Pettarani  dan ruang rapat kampus lainnya tidak lagi menjadi panggung debat, jalanan sekitar kampus Baraya dan Tamalanrea jarang diwarnai gema demonstrasi, sepi dan ‘merana’.

Mahasiswa Unhas yang selama ini dikenal “jago jalanan” tiba-tiba kehilangan arena. Tetapi, bukankah selalu ada jalan ketika satu pintu ditutup? Mereka lalu mencari ruang lain. Ruang sunyi. Ruang di balik kelas, di mushalla mini, di warkop pinggiran kampus, pondokan bahkan di kantin kampus.

Dari situ lahirlah kelompok-kelompok studi—api kecil yang mereka jaga di tengah kegelapan.

                                        ***

Koswantara: Dari Peta Nusantara ke Peta Ketidakadilan

Di Fakultas Hukum Unhas, sekelompok mahasiswa mendirikan Kelompok Studi Wawasan Nusantara (Koswantara).

Awalnya, tema mereka selaras dengan jargon negara. Mereka membicarakan integrasi nasional, geopolitik, dan konsep Wawasan Nusantara yang selalu digembar-gemborkan pemerintah Orde Baru. Tapi cepat sekali arah diskusi berubah.

Pertanyaan-pertanyaan kritis muncul: “kalau Nusantara ini satu, kenapa pembangunan hanya menumpuk di Jawa? “Kalau hukum untuk semua, kenapa rakyat Sulawesi masih sulit mengakses keadilan?”

Diskusi-diskusi itu kemudian dicatat, digandakan dengan mesin ketik dan stensil, bahkan mungkin dibukukan. Inilah cara mereka menghindari stigma “jago jalanan”. Mereka ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Makassar bukan hanya bisa berteriak, tetapi juga bisa menulis, menimbang, dan merumuskan gagasan.

Kosindra: Belajar Demokrasi di Tengah Tabu

Di persilangan Fakultas Hukum dan FIISBUD, tumbuh Kosindra (Kelompok Studi Indonesia Raya).

Kosindra rajin membedah sejarah politik Indonesia, dari Indonesia Menggugat Soekarno, pemikiran Hatta dan Sjahrir, hingga gagasan Tan Malaka. Mereka bertanya: apakah cita-cita demokrasi para pendiri bangsa masih hidup di bawah Orde Baru?

Diskusi mereka terasa berani, mengingat kata “demokrasi” saja saat itu rawan diawasi intel. Tapi Kosindra tetap jalan, menjahit ingatan sejarah untuk melawan lupa.

KSP : Angka, Kopi tubruk, dan Keadilan Ekonomi

Di Fakultas Ekonomi, muncul Kelompok Studi Pembangunan (KSP) berbasis jurusan Studi Pembangunan/Ilmu Ekonomi. Diskusi mereka bermula dari di kantin Tamalanrea lalu bergema di Sanggar Pettarani kampus Baraya.

Angka-angka pertumbuhan ekonomi yang selalu diumumkan negara mereka bandingkan dengan realitas nelayan kawasan Spermonde atau deretan petani sepanjang Sulawesi Selatan, termasuk wajah Kota Makassar. Buku Gunnar Myrdal, Amartya Sen, dan Andre Gunder Frank berserakan di meja kantin, diapit kopi tubruk dan rokok filter serta aroma nasi-ikan dan gado-gado khas kantin.

Mereka bertanya lantang: kalau ekonomi tumbuh, kenapa rakyat tetap lapar? Pertanyaan-pertanyaan itu membentuk kader ekonomi kritis yang kelak banyak berkiprah di NGO, birokrat, perbankan maupun perumusan kebijakan publik.

Pemikiran Amartya Sen (Development as Freedom, 1999) seakan menginspirasi mereka :

“Agak janggal rasanya ketika kita mengklaim pembangunan ekonomi berhasil, sementara di jalan-jalan masih bertebaran pengemis, dan ‘payabo’ menelusuri kawasan pemukiman. Keberhasilan ekonomi seharusnya tidak diukur dari pertumbuhan angka-angka makro semata, melainkan dari kemampuan setiap manusia untuk hidup bermartabat dan terbebas dari kemiskinan.”

Diskusi ilmiah berseri dari KSP dikumpulkan menjadi buku : “Ekonomi Indonesia : Menuju kesatu Arah”. Terbit ketika budaya menulis buku belum populer di kampus.

IKA-Antropologi : Menyulam Persaudaraan di Tengah Zaman

Di kampus Tamalanrea yang baru berkembang pada awal 1980-an, mahasiswa Antropologi Unhas menempati ruang yang unik. Di situlah tumbuh semangat intelektual yang khas: rasa ingin tahu yang tak pernah padam terhadap manusia, budaya, dan kehidupan sosial yang terus berubah.

Dari salah satu ruang kecil FIS, lahirlah sebuah wadah kebersamaan bernama Ikatan Kekerabatan Antropologi (IKA) Unhas. Nama “kekerabatan” dipilih bukan tanpa makna. Ia menggambarkan nilai yang menjadi inti dari ilmu antropologi sendiri—bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu terikat dalam jaringan hubungan sosial, nilai, dan makna.

IKA lahir bukan sebagai organisasi formal yang kaku, melainkan sebagai keluarga intelektual yang tumbuh dari bawah. Di balik kelahirannya ada semangat kebersamaan mahasiswa sejak awal kuliah. Mereka sadar, di tengah derasnya arus modernisasi dan tekanan politik Orde Baru, antropologi harus hadir sebagai ilmu yang membumi—membela kemanusiaan dan menghargai keberagaman.

Aktivitas IKA di awal 1980-an tak lepas dari tradisi diskusi yang intens. Hampir setiap sore, di ruang kelas yang mulai kosong, mereka berkumpul membahas Clifford Geertz, Koentjaraningrat, hingga Levi-Strauss. Tapi yang menarik, diskusi itu tidak berhenti di teori. Mereka membawanya ke lapangan—ke desa-desa di Gowa, Takalar, dan Maros bahkan lintas provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI)—melihat langsung bagaimana teori berhadapan dengan realitas sosial.

Kegiatan lapangan itu menjadi semacam ritual pembentukan karakter mahasiswa Antropologi Unhas. Mereka belajar bahwa masyarakat bukan sekadar objek penelitian, melainkan subjek yang memiliki kebijaksanaan tersendiri. Dari sana tumbuh rasa empati dan kesadaran sosial yang kuat.

Mahasiswa Antropologi memilih jalannya sendiri—jalan sunyi tapi berakar. Mereka eksis di berbagai forum kampus, tapi dengan gaya khas: reflektif, analitis, dan tidak meledak-ledak. IKA menjadi wadah yang menyatukan orientasi akademik dengan kepekaan sosial. Banyak anggotanya ikut dalam kegiatan penelitian lintas jurusan, diskusi lintas kampus, dan pengabdian masyarakat. Mereka percaya bahwa menjadi antropolog berarti menjadi jembatan—antara ilmu dan kemanusiaan, antara kampus dan masyarakat, antara teks dan realitas.

Yang membuat IKA berbeda dari organisasi mahasiswa lain adalah nuansa kekeluargaannya. Tidak ada hirarki yang kaku. Senior dan junior duduk bareng, berdiskusi sambil menikmati kopi hitam sepanjang malam hari. Bila ada yang kesulitan biaya penelitian atau tugas lapangan, dana dikumpulkan bersama. Bila ada yang sakit, semua datang menjenguk. Nilai gotong royong itu menjadi “etnografi hidup” dari IKA sendiri. Mereka tidak hanya mempelajari kekerabatan dalam teori, tetapi juga menghidupkannya dalam praktik sehari-hari. Dalam setiap pertemuan, selalu ada tawa, debat, dan rasa saling asah—semua dalam semangat keluarga ilmiah.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, alumni IKA tersebar di berbagai bidang: dosen, peneliti, birokrat, aktivis LSM, hingga pegiat budaya. Tapi ketika mereka bertemu, bahasa yang digunakan tetap sama: bahasa kekerabatan. Mereka masih memanggil satu sama lain dengan sebutan “saudara lapangan,” sebuah istilah khas yang lahir dari solidaritas di masa kuliah dulu.

Ikatan Kekerabatan Antropologi bukan hanya nama organisasi, tapi sebuah nilai hidup. Ia mewariskan semangat untuk melihat manusia secara utuh—dengan hati dan pikiran. Dari ruang kecil FIS kampus Tamalanrea, generasi antropolog Unhas belajar bahwa memahami budaya orang lain berarti juga memahami kemanusiaan sendiri. IKA Unhas tahun 1980-an adalah cermin dari semangat zaman: sederhana, tapi penuh makna. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tapi juga pergaulan, kepedulian, dan cinta terhadap manusia.

Di tengah dunia yang kian individualistis saat ini, kisah IKA di masa itu terasa seperti oasis—pengingat bahwa kebersamaan ilmiah dan kekeluargaan intelektual pernah hidup hangat di jantung kampus Tamalanrea. Dan mungkin, masih berdenyut sampai kini, di hati setiap alumninya.

MPM : Mushalla sebagai Ruang Alternatif

Mengenang 1 Desember 1980, hari lahirnya mushalla pertama di kampus baru Tamalanrea, hasil dari gebrakan demonstrasi mahasiswa atas minimnya fasilitas kampus. Mushalla itu sederhana—bekas ruang kelas atau kantor kecil di sudut gedung FIS-1—namun selalu penuh sesak setiap kali waktu salat tiba.

Dari tempat kecil itu, lahir pula Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM), organisasi nonformal yang berdiri pada tanggal yang sama, 1 Desember 1980. Pendirian MPM berawal dari peristiwa unik: kemalingan di kantor BPM FISBUD Unhas. Mushalla kemudian menjadi simbol solidaritas dan spiritualitas mahasiswa.

Fasilitasnya sederhana, tapi istimewa. Ada perpustakaan mini berisi buku-buku sumbangan dari Rabithah Alam Islamy melalui Dewan Dakwah Islam pimpinan M. Natsir, juga bantuan dari Masjid Salman ITB, dosen, pegawai, dan mahasiswa sendiri.

Namun, keberadaannya sempat menimbulkan gesekan. Beberapa dosen merasa terganggu oleh suara azan dari TOA mushalla yang berkumandang saat kuliah masih berlangsung. Suatu hari, seorang dosen senior datang menegur dengan nada keras, meminta tape pemutar azan dimatikan. Anak-anak MPM tetap tenang. Ahmad Siang menjawab pendek tapi tegas, “Fisabilillah… Allahu Akbar.” Dosen itu pun pergi tanpa kata.

Pendanaan mushalla sederhana, dari celengan kardus dan hasil menjual botol markisa bekas dari kegiatan ospek. Meski begitu, aktivitasnya hidup. Setiap bad zuhur, mahasiswa berdiskusi tentang Islam—dari pemikiran Ali Syari’ati dan Sayyid Qutb hingga Al-Ghazali dan Ibnu Rushd. Anak-anak MPM merasa seperti sufi kecil, berdiskusi tentang fiqih, tasawuf, dan filsafat Islam.

Kegiatan mereka juga meluas lewat Latihan Dakwah Mahasiswa (LDM). LDM pertama, melahirkan kader-kader seperti Yunus Zain (alm), PB Sudirman, Rahim Assegaf Puang Ramma, Agung Wirawan, dan Sutinah Made.

Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef, dijadwalkan berkunjung ke kampus baru Tamalanrea, MPM bersiap “menyambutnya” dengan cara khas mereka. Dengan semangat anti-sekulerisme, mereka mempercantik mushalla, membersihkan karpet sumbangan Dekan FISBUD Ibu Kustiah, menyalakan kipas, dan menata papan nama “Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM) – Unhas” di depan koridor agar mencolok.

Tujuannya jelas: agar sang Menteri melihat jika ada mushalla kecil hidup di tengah kampus modern. Namun rencana itu tercium oleh pimpinan fakultas. Mereka segera mengatur jalur kunjungan agar Dated Joesoef tidak melewati koridor depan mushalla. Akhirnya, menteri benar-benar tak sempat melintas di depan mushalla Tamalanrea itu.

Empat dekade telah berlalu sejak peristiwa itu, namun aroma karpet mushalla dan hembusan kipas angin di ruang mushalla membekas dalam ingatan. Di ruang sempit mushalla MPM-Tamalanrea, tersimpan jejak idealisme yang jarang disebut dalam sejarah resmi kampus. Bukan karena ia besar dan bising, tetapi karena ia sederhana dan diam—namun penuh makna.

KDB : Menjaga Nalar di Tengah Pembungkaman

Pada masa ketika kata “demokrasi” menjadi slogan kosong dan kritik dianggap ancaman terhadap stabilitas, sekelompok mahasiswa di Makassar membangun ruang kecil yang bernama Kelompok Diskusi Bulukunyi (KDB). Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Bulukunyi, denyut intelektual dan semangat kebebasan berpikir berdenyut di tengah kesunyian kampus yang diselimuti ketakutan.

Ciri khas KDB bukan sekadar rutinitas berdiskusi, melainkan pembelaan terhadap nalar publik. Mereka berfokus pada tema-tema literasi, demokrasi, dan kebangsaan—tiga ranah yang saat itu sedang “cidera” akibat kemapanan kekuasaan rezim Orde Baru. Di bawah imbas akhir  NKK/BKK secara sistematis mengebiri ruang politik mahasiswa.

Dalam situasi seperti itu, KDB hadir sebagai ruang alternatif. Di sebuah rumah di Jalan Bulukunyi—di tengah hiruk pikuk kota Makassar—para mahasiswa, aktivis, dan peminat kajian sosial berkumpul, membaca, dan berdiskusi hingga larut malam. Tidak ada mikrofon megah, tidak ada podium. Yang ada hanya meja kayu, kopi hitam, dan buku-buku yang berpindah tangan dari satu peserta ke peserta lain.

Dari ruang sederhana itulah, lahir gagasan-gagasan yang segar: tentang demokrasi, hak asasi manusia, politik lokal, hingga ekonomi kerakyatan. Para pentolannya—yang kelak banyak menjadi tokoh penting negeri ini—menempa diri dalam tradisi berpikir yang kritis, terbuka, dan berakar pada realitas sosial.

KDB bukan sekadar kelompok studi; ia adalah manifestasi keberanian intelektual. Di masa ketika kampus dibungkam, Bulukunyi menjadi “kampus alternatif” yang mendidik nalar merdeka. Diskusi-diskusi mereka bukan untuk mencari aman, melainkan untuk menjaga waras di tengah kebisuan.

Dalam perjalanan sejarah gerakan intelektual Makassar, KDB menempati posisi unik. Ia bukan organisasi formal, bukan pula partai atau pergerakan massa. Ia lebih tepat disebut lingkar intelektual organik—tempat pertemuan antara idealisme, literasi, dan kepedulian sosial.

Dari KDB, lahir tokoh-tokoh yang kemudian berkiprah di berbagai sektor: akademisi, jurnalis, politisi, birokrat, hingga aktivis sosial. Namun benang merahnya tetap sama: mereka tumbuh dalam kultur berpikir kritis dan egaliter. Pentolan KDB antara lain : Andi Tadampali,  Guntur Hamzah,  Yeni Saleh, Nasrun Hamzah, Muh. Nur Alfatah, Juajir,  Jamhur, Hendra Noor Saleh, Yeni Saleh, Ani Mustamin,  Irmawati Habie.

KDB adalah bukti bahwa demokrasi tidak hanya dibangun di parlemen, tetapi juga di ruang-ruang kecil tempat manusia saling mendengarkan. Ia membuktikan bahwa diskusi bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi juga tindakan perlawanan terhadap kebungkaman.

KDB bukan sekadar catatan sejarah lokal, tetapi juga simbol kontinuitas gerakan intelektual Indonesia: kecil tapi berpengaruh, senyap tapi bermakna, sederhana tapi tajam dalam pikiran.

                                        ***

Kalau ingin membayangkan suasana kelompok studi, cukup datang ke kantin kampus, kantor Maperwa/BPM saat itu. Tikar digelar – pinjam kursi kelas, kopi hitam panas diletakkan di tengah, asap rokok kretek bergumul di ruangan.

Diskusi berlangsung sengit, kadang sampai subuh. Buku Pedagogy of the Oppressed  bisa bersebelahan dengan kitab tafsir. Suara debat keras, tapi selesai diskusi mereka tetap makan  nasi kuning atau songkolo bersama.

Selalu ada rasa waswas—intel kampus terus mengintip bahkan bisa menyusup. Buku “terlarang”, seperti karya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca), stensilan pernyataan Petisi 50, “buku putih”mahasiswa ITB disembunyikan di bawah kasur. Tapi justru dari ketegangan itu lahir romantika: mereka merasa sedang menjaga api kecil yang kelak akan berguna bagi bangsa.

Koswantara, KDB, Kosindra, KSP, IKA-Antropologi, dan MPM—semuanya adalah ‘api-api kecil’. Tidak menyala terang di jalan raya, tapi cukup untuk menjaga hangatnya semangat kritis mahasiswa Unhas di era sunyi–masa NKK/BKK. Di berbagai kampus lain Makassar tentu tumbuh subur kelompok studi sejenis dengan semangat yang sama dan bersinergi merawat idealisme mereka.

Ketika Reformasi 1998 akhirnya datang, orang baru sadar: api-api kecil itulah yang diam-diam memelihara bara intelektual, spiritual, dan kerakyatan dari gelora perlawanan mahasiswa Makassar.

Banjarmasin, 4 Oktober 2025