Di sebuah warung kopi yang ACnya mulai berisik seperti rapat pleno partai kecil, berkumpullah para alumni “pagolla”—mereka yang dulu terkenal bukan karena IPK, tapi karena kemampuan meniup bara jadi api unggun. Dulu mereka ‘tukang kompor’. Sekarang? Yaaah… tetap saja, hanya kompor yang dipakai sudah naik kelas: wacana.
Diskusi BEM Alumni dimulai.
“Saudara-saudara,” kata salah seorang dari alumni itu, sambil mengetuk gelas kopi yang sudah empat kali diisi ulang air panas, “sudah saatnya kita kembali ke kampus. Kita bentuk BEM!”
Yang lain mengangguk serius. Seolah-olah kata “BEM” itu mantra sakti yang bisa mengubah masa lalu yang beraroma demo jadi masa depan yang penuh ‘cuan’ kegiatan.
“Visinya apa?” tanya seorang yang dulu paling sering menghilang saat aksi—tapi paling lantang saat evaluasi.
“Visinya… ya mahasiswa harus kritis, negara lagi krisis !” jawab alumni lainnya—cepat.
“Bagus! Misinya?”
“Misi… kita buat diskusi berseri, aksi beberapa kali, dan… ya… mungkin podcast juga biar terkesan—kekinian. ”
Semua terhenyak seketika. Mereka tampak puas, meski belum jelas apa yang baru saja mereka sepakati.
Seorang pelayan warkop—pria paruh baya—lewat, membawa pisang goreng dan bakara goreng yang sudah dingin—lantaran digoreng sejak dini hari—tapi tetap laku karena obrolannya panas.
Mereka, lanjutkan diskusi.
“Strukturnya bagaimana?”
“Ketua harus yang berpengalaman,” kata seseorang sambil merapikan kerahnya, sepertinya sedang bercermin di permukaan gelas kopi.
“Wakilnya yang vokal!”
“Sekretarisnya yang rajin… kita cari saja nantilah.”
Suasana mulai seperti sidang Komisi DPRD—serius, hanya saja tanpa notulen dan tanpa batas waktu. Yang ada hanya asap rokok menebal-mengepul saling mengejar—mengisi ruang ber-AC dan ide-ide yang beterbangan tanpa arah.
Tiba-tiba, salah seorang alumni yang sejak tadi diam angkat bicara:
“Kita ini mau bikin BEM… atau mau mengulang masa lalu yang ‘berantakan’?”
Semua terdiam lagi. Kali ini terasa lebih lama. Bahkan AC berisik itu pun seperti ikut berpikir—suara deriknya mengecil.
Akhirnya, yang paling toea di antara alumni itu—tertawa kecil.
“Kita ini, dari dulu sampai sekarang, cuma beda di angkatan. Dulu kita kompor untuk mahasiswa. Sekarang… jangan-jangan kita mau jadi kompor Mubes IKA.”
Mereka serentak tertawa. Kopi ditambah lagi. BEM belum terbentuk, tapi satu hal sudah jelas: semangat mereka masih utuh—hanya saja, kali ini perlu sedikit rem, bukan hanya gas.
Dan seperti biasa, keputusan paling penting sore itu adalah:
“Besok kita lanjut lagi… di warkop yang sama atau di sekitar Mubes IKA.”