Categories
Artikel

REFLEKSI, DINAMIKA, DAN TRANSFORMASI BEM-U : Kado kecil buat Prof. JJ

SEKAPUR SIRIH

Alhamdulillah, akhirnya sketsa kecil ini dapat terbit.               Sketsa ini terlahir dari percakapan panjang dengan diri sendiri, dengan sejarah, dan dengan realitas kampus yang terus bergerak. Judulnya “Refleksi, Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-U : Kado Kecil buat Prof. JJ” mungkin terdengar sedikit formal, tapi sesungguhnya isi yang ada di dalamnya lebih beraroma catatan perjalanan— semacam memoar kolektif tentang bagaimana romantisme lembaga kemahasiswaan sepanjang Baraya-Tamalanrea (BARATAMA) menguraikan eksistensi DEMA/Presidium, Sekelumit kisah Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea dan Transformasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang pernah (dan masih) memberi warna pada kehidupan kampus maupun bangsa.

BEM-U, bagi banyak kalangan, hanyalah sebuah struktur organizers kemahasiswaan. Tapi bagi penulis, ia adalah ruang hidup: tempat belajar berdebat, bertengkar, berdamai, hingga akhirnya tumbuh penuh romantika. Dari lorong sekretariat yang sempit, ruang diskusi yang panas dan pengap, warkop rakyat sampai jalanan yang penuh gas air mata, terluka dan berdarah bahkan harus meringkup dalam
sel tahanan—semua itu adalah ruang belajar kepemimpinan yang tidak mungkin digantikan oleh ruang kuliah monoton.

Gaya penulisan buku ini bernuansa refleksi. Sebab, dinamika pergolakan mahasiswa dari masa ke masa sangat dinamis— selalu berubah: dari era mimbar bebas hingga era digital, dari selebaran stensilan “Daeng Lesang” hingga siaran langsung di medsos.

Namun, esensi kepemimpinan mahasiswa tetap sama: berani bersuara, melawan ketidakadilan, dan menjaga nurani publik.

Tentu saja, transformasi BEM-U tak selalu mulus. Ada saat-saat BEM-U terasa kehilangan ‘pesona’—‘daya-pukau’, ditinggalkan oleh mahasiswanya sendiri atau ‘dicuekin’ rektorat. Tetapi seperti gelombang laut di pantai Losari,
ia selalu datang kembali. Mungkin bentuknya berubah, mungkin caranya berbeda, tetapi semangatnya tetap sama: menjadi wadah pencerahan mahasiswa, sekaligus jembatan antara dunia kampus dan realitas kehidupan masyarakat.

Sekapur sirih ini tak bermaksud menggu- rui, tapi hanya sekedar mengingatkan. Bahwasa- nya, apa yang kita sebut student movement sesungguhnya adalah cerita tentang secuil kebe- ranian, yang jika dirawat, bisa menjadi perubahan besar. Demo sebagai instrumen ekspresi student movement bisa jadi bernilai ‘ibadah’.page8image65483984

Buku ini sejenis ‘memoar’ belaka, sekadar sketsa kemahasiswaan bukan sejarah kemahasiswaan. Sketsa dibagi menjadi empat bagian “Refleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U, serta Epilog.

Bagian satu : Refleksi dan Dinamika Kemahasiswaan mengulas memoar dunia kemahasiswaan beragam corak dan masanya (dari kampus lama Baraya ke kampus baru Tamalanrea). Bagian ini berisi Mosaik Sunyi Kelompok Studi Mahasiswa, Tonggak Pers Mahasiswa : Suara Bening Kawula Muda, Komunitas Seni Baraya-Tamalanrea, Konserto Tawuran Mahasiswa Unhas, Negeriku Tertindas Sepatu Lars, Selamat Datang Mahasiswa Baru, Aroma Politik Kampus di Musim Durian.

Bagian dua : Sekelumit Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea

Bagian tiga : Transformasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengulas bagaimana Menaksir

Arah Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Sosial
di Tengah Sistem Kekuasaan dan Pemerintahan yang Problematik, Pupusnya Rumah Pencerahan, Mengeker Keberadaan BEM Unhas, BEM Unhas : Adakah ?, BEM Unhas dan Generasi Strawberry : Celoteh Warkop Enreco, dan BEM UNHAS : Saatnya Menyala Lagi Dengan Cara Baru (Kado kecil buat Prof. JJ) serta Wawancara Imajiner dengan Mohammed Ridha : Menjaga Api yang Nyaris Padam.

Bagian empat : Epilog.

Semoga sketsa sederhana ini bisa menjadi pengingat, bahan diskusi warkop, atau pemantik bagi generasi kini untuk terus menyalakan api perjoangannya—dengan cara dan zamannya sendiri.

Kampus Merah Tamalanrea, Oktober 2025 – April 2026

Amran Razak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *