Categories
Artikel

NGOPI PAGI : STATUS WAG ALUMNI UNHAS ?

Kadang angka membantu kita merenung. 911 alumni berhimpun di WAG IKA Unhas ini. Sebuah jumlah yang, jika diletakkan dalam skala institusi, melampaui jumlah dosen aktif di banyak fakultas, bahkan hampir tiga   kali lipat—jumlah profesor aktif yang secara formal memikul amanah akademik di Unhas.

Angka ini bukan soal kuantitas semata, melainkan makna keberhimpunan. Alumni murni adalah ingatan hidup kampus—mereka membawa sejarah, pengalaman, dan jejaring yang terus bergerak di luar tembok universitas. Di situlah kekuatannya, sekaligus godaannya.

Dosen menjaga api keilmuan melalui prosedur, kesabaran, dan disiplin akademik. Alumni bergerak dalam ruang yang lebih cair: reputasi, relasi, dan pengaruh. Dua dunia yang saling membutuhkan, tetapi akan kehilangan makna bila batasnya kabur.

Dalam filsafat kekuasaan, kekuatan yang paling berisiko bukan yang terlihat, melainkan yang bekerja tanpa disadari. Ketika jejaring alumni menjadi lebih solid, lebih cepat, dan lebih menentukan, pertanyaan etik pun layak diajukan [bukan untuk menuduh], melainkan untuk menjaga keseimbangan: apakah kita sedang menopang otonomi akademik, atau pelan-pelan menggantikannya?

IKA Unhas akan selalu relevan bila ia memilih peran sebagai penjaga nurani, bukan penentu arah; sebagai ruang refleksi, bukan pusat ‘parenta’–memaksakan. Di sanalah kedewasaan berhimpun diuji—bukan pada seberapa besar pengaruh digunakan, tetapi pada seberapa bijak ia ditahan.

Berhimpun di alumni adalah kekuatan sejarah.

Menahan diri dalam menggunakan kekuatan itu adalah kearifan alumni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *