C:\Users\Ultrabook\Documents\DDLK\Resensi Buku_ Demonstran Dari Lorong Kambing _ amriltg.1 _ Indonesiana.html
Demonstran Dari Lorong Kambing
C:\Users\Ultrabook\Documents\DDLK\Resensi Buku_ Demonstran Dari Lorong Kambing _ amriltg.1 _ Indonesiana.html
“Saya bersedia mengundurkan diri jika itu penyelesaiannya.
Mohon maaf saya sebentar lagi pensiun,
tapi jangan korbankan institusi Polri”(Irjen Adang Rochjana – Kapolda Sulselbar)
***
Sejak awal dirinya selalu dibayang-bayangi omongan seorang sahabatnya, agar tak berminat mencalonkan diri sebagai Ketua Korps Alumni HMI (KAHMI) wilayah Sulawesi Selatan. Alasan sang sahabat :
“jangan mako coba-coba jadi Ketua KAHMI kalo belum kayaraya”, mengingatkan.
Dasar dirinya ‘keras hati’, ternyata tak menggubris omongan sahabatnya itu.
Ia berkeyakinan lain; memang dirinya tak kaya, tapi kalau meminta bantuan dari ‘sehimpunan’n biasanya diberikan karena peruntukannya jelas demi kepentingan organisasi.
Atas dasar keyakinan itulah ia bertekad mencalonkan diri sebagai Ketua Presidium KAHMI Wilayah Sulawesi Selatan, akhir 2009. Apalagi Mubyl Handaling dan Arman Arfah (Ketua dan Sekretaris KAHMI – demisioner) sudah ‘menggadang-gadang’ dirinya menggantikan Mubyl. Pertimbangan Mubyl saat itu amat sederhana :
“Kita kasih giliran akademisi”, usul Mubyl .
“Khan sudah mi birokrat dan pengusaha”, tukas Mubyl.
Ketika itu, ia menyatakan siap menerima amanah tapi mengajukan satu syarat bila terpilih, Mubyl harus memberikan dukungan penuh – fasilitas sekretariat minimal sama ketika Mubyl jadi Ketua. Mubyl yang didampingi Rahmatia – KOHATI (isteri Mubyl), tersenyum bersamaan seakan tak keberatan.
Ternyata, konstalasi sistem pemilihan Ketua Majelis Wilayah KAHMI Sulawesi Selatan berubah di Muswil V. Adil Patu berhasil mengarahkan Muswil mengikuti struktur kepemimpinan Majelis Nasional berbentuk Pimpinan Kolektif.
Hasil Muswil V KAHMI Sulawesi Selatan, memilih lima Ketua Pimpinan Kolektif Majelis Wilayah (PKMW) Sulawesi Selatan periode 2009 – 2014 masing-masing Ninik F. Lantara (20), Amran Razak (20 suara), disusul Tobo Haeruddin (11 suara ), Imam Mujahid (11 suara) dan Nur Azis Talib (10 suara).
Dalam rapat awal pimpinan kolektif, disepakati dirinya sebagai Ketua Harian pertama PKMW KAHMI Sulawesi Selatan. Ketua harian selanjutnya akan digilir masing-masing ketua kolektif dengan masa bakti setahun.
***
Saat proses kepemimpinannya mulai dilakoni, terjadi penyerangan wisma HMI Botolempangan (Botlem). Pelaku penyerangan disinyalir sejumlah oknum polisi dari Densus 88 Polda Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar). Di dalam surat resmi Pengurus HMI Cabang Makassar ditandatangani Amal Sakti selaku Ketua Umum kepada PKMW – KAHMI Sulawesi Selatan, dituliskan kronologis penyerangan bermula dari aksi demo sejumlah aktivis HMI Universitas ’45 di depan kampus mereka menuntut penyelesaian Skandal Bank Century, rabu sore 3 maret 2010. Ritual demo pun tersaji, memblokir jalan Urip Sumoharjo dan membakar ban bekas. Ketika demo berlangsung terjadi ‘kesalahpahaman?’ antara pendemo dengan oknum aparat ‘Densus 88’. Negosiasi kedua pihak tak berhasil, merasa terdesak. Para pendemo lalu melanjutkan aksinya ke wisma HMI di Botolempangan 39. Ketegangan antara pendemo dan aparat kepolisian mulai merebak ketika malam tiba, meledak jadi penyerbuan wisma HMI.
Gebrakan pintu kaca – pecah dengan gagang pistol, terjangan disertai gumpalan bogem mentah aparat penyerbu hampir merata mengenai para pendemo.
Kaca-kaca jendela berserakan di Sekretariat HMI Cabang Makassar di Jl Botolempangan, Kamis (4/3/2010), setelah diserbu polisi. Penyerbuan brutal itu memancing reaksi mahasiswa dan alumni HMI. (TRIBUN TIMUR/OCHA ALIM)
Bentrok tak terhindari antara anak HMI dan polisi, menyebar dan membahana menguras waktu 3 hari. Solidaritas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) seantero Indonesia menggema.
Korban pun berjatuhan, Kapolwil Makassar Timur dan Kapolrestabes Makassar dicopot, 3 polisi pelaku penyerangan dibui dan seorang “pendemo?” jadi tersangka.
***
Sebelumnya, di Forum Silaturahmi Ketertiban Kota yang digagas Walikota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin jumat malam (5/3/2010) di rujabnya, kuat desakan mencopot Kapolda Sulselbar Irjen Adang Rochjana yang mengemuka dari korban penyerangan HMI wisma Botlem. Bersamaan pesan singkat Neta S. Pane, Ketua Presidum Indonesia Police Watch (IPW) kepada Kompas.com jumat (5/3/2010) mendesak Kapolri mencopot Kapolda Sulselbar.
“Saya bersedia mengundurkan diri jika itu penyelesaiannya Mohon maaf saya sebentar lagi pensiun, tapi jangan korbankan institusi Polri” kata Adang di hadapan Forum itu .
Seketika dirinya tergugah mendengar penuturan tulus Kapolda tersebut. Ia pun gelisah, minta bicara :
“Kalau Kapolda dicopot, saya juga mengundurkan diri”, bernada haru dan simpati.
Maklum – saat itu, dirinya adalah Ketua Harian Pimpinan Kolektif Majelis Wilayah (PKMW) Korps Alumni HMI (KAHMI) Sulawesi Selatan, pimpinan tertinggi di tubuh KAHMI Sulawesi Selatan.
Sontak hadiran terkesima – hening sejenak, ketika itu forum dihadiri sejumlah rektor PTN/PTS, pengurus teras HMI dan KAHMI, kepolisian dan pemerintah kota serta sejumlah tokoh masyarakat. Ia berbicara menimpali, berusaha menggusur ketegangan ;
“Kita semua mengaku pejuang ummat, tapi — mengapa setiap benturan harus mengorbankan ummat ?”, gugatnya.
Seusai pertemuan forum silaturahmi hingga akhir masa tugasnya sebagai Kapolda Sulselbar, Irjen Adang tak tercopot.
Sedikitnya di dua pertemuan penting di Makassar, Irjen Adang Rochjana seakan berusaha menyempatkan diri mengutarakan pada khalayak jika dia adalah ‘penyelamat’ Adang.
***
Malam seusai penyerangan wisma HMI Botlem (4/3/2010), Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin langsung bertandang ke TKP – wisma Botlem. Kedatangan Ilham, disambut hangat sejumlah pengurus HMI dan KAHMI.
Detik itu , ia teringat sesuatu, merasa tak enak jika aparat Pemprov Sulawesi Selatan tak bertandang malam itu. Tak terasa, ia berpikir ala KAHMI wilayah.
Ia lalu membujuk Agus Arifin Nu’mang, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan untuk mengunjungi wisma HMI yang porak-poranda, tentu saja setelah ‘berembuk’ Pimpinan kolektif KAHMI lainnya; Tobo Haeruddin dan Nur Azis Thalib bersama Hamid Paddu, Mubyl Handaling dan Ketua Umum HMI Cabang Makassar – Amal Sakti.
Ternyata, Agus merespon, dia segera ke wisma HMI Botlem. Blokir pembatas di sudut jalan Botolempangan berupa palang bambu dan kayu serta onggokan batu — dibuka. Agus terharu melihat beberapa ruangan di wisma HMI berantakan. Kedua pimpinan daerah tersebut merasa prihatin, berjanji akan membantu perbaikan wisma secepatnya.
***
Sabtu siang, setelah semalam menghadiri Forum Silaturahmi Ketertiban Kota di rujab Walikota Makassar di tepi Pantai Losari, KAHMI Sulawesi Selatan mengadakan pertemuan dengan sejumlah alumni dan tokoh HMI. Walau semalam belum ada kesepakatan, lantaran HMI Cabang Makassar tetap berkeras meminta Kapolda dan Kapolwiltabes dicopot. Meskipun demikian, para pihak yang hadir di Forum Silaturahmi semalam bersepakat mengembalikan suasana kondusif di kota Makassar.
Pertemuan siang itu, bergulir ide memperbaiki sekretariat HMI Makassar yang rusak setelah diserang sejumlah oknum aparat terlatih dari kepolisian, KAHMI sepakat untuk mengumpulkan dana renovasi. Rencananya, dana yang akan dikumpulkan berjumlah Rp. 300 juta dan dana awal sebesar Rp. 100 juta dari Walikota Makassar, bersamaan sumbangan wagub Sulsel – Agus Rp. 25 juta. Sisanya akan dikumpulkan dari donasi alumni HMI.
Beberapa saat kemudian, ia iseng ‘berinspeksi’ di ruang depan wisma HMI yang masih dibiarkan porak-poranda, ia menengadah ke tembok-tembok dinding, dirinya terusik pajangan deretan foto-foto mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar. Spontan ia menelpon beberapa orang di antara pemilik foto tersebut;
“Ehhh…Bro waspada ko semua, kalau kalian tidak menyumbang perbaikan wisma Botlem, maka foto-foto kalian saya turunkan paksa … selamaaaanya”.
Ia bersama beberapa alumni dan pengurus HMI via speaker HP-nya memperdengarkan jawaban – LIVE Kairuddin Nur dan Ibnu Munzir Bakri – Emon dari Jakarta, keduanya bersedia menyumbang sesuai syarat minimal ajuan dirinya, Rp. 10 juta.
Sejumlah pengurus KAHMI dan KOHATI serta pengurus HMI Cabang tersenyum lebar mendengar percakapan itu, kocek dana awal renovasi wisma botlem bertambah lagi.
Semangat merenovasi kerusakan wisma HMI Botlem berubah menjadi semangat mendirikan bangunan baru, setelah menerima kucuran dana dari ratusan alumni HMI. Umumnya alumni HMI itu pernah menikmati pengkaderan di wisma HMI Botlem, kenangan pembentukan jati diri mereka.
Lantaran bersemangat, PKMW KAHMI Sulawesi Selatan lalu membentuk Panitia Pembangunan Wisma HMI. Koordinator Umum : Amran Razak. Bidang Penggalangan Dana : A. Niniek F. Lantara, Bukhari Kahar Muzakkar, Muslim Salam, Rahmatia Rasyid Mubyl, Moh. Sabri AR, Rastina Kalla Mansyur, Muchtar Pasarai. Bidang Pembangunan : Syarief Burhanuddin, M.Tobo A.Haeruddin, Syamsul Bahri Gani, Syamsul Alam Hamid. Bidang Pengawasan : Noer Azis Thalib, Heni Handayani, Amal Sakti, Ici Indrawan, Muh. Natsir, A. Fatussalam, Syamsir Salam.
Desain dan konstruksi pembangunan wisma HMI dibagi tiga tahap. Tahap pertama adalah renovasi bangunan lama, tidak merubah bentuk agar suasana penuh kenangan kader-kader HMI di masa ‘laloe’ tetap terjaga. Harap beberapa senior HMI terutama Jusuf Kalla, Halide, Qasim Mathar dan Dali Amiruddin. Tahap kedua pembangunan ruang perpustakaan dan ruang rapat berlantai dua. Tahap terakhir adalah pembangunan kantor Korps Alumni HMI (KAHMI), Badan Koordinasi (Badko) HMI serta guest house berlantai dua. Biaya yang dibutuhkan ditaksir melebihi Rp 2 Milyar.
Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Wisma HMI Botolempangan dilakukan H.M.Jusuf Kalla, senin 7 Juni 2010. Dikesempatan itu, Rektor Unhas – Idrus Paturusi berjanji akan menggalang dana dari alumni HMI di Unhas sekitar Rp 100 juta.
Di sela-sela dana pembangunan menihil, ada seorang pengusaha mantan Ketua KAHMI Sulsel suka menambah sumbangannya kelipatan sepuluhan juta. Katanya; “Supaya ‘celengan’ panitia pembangunan wisma HMI Botlem tidak kosong. Khan pemali !?!?.”
Renovasi bangunan depan (C) merupakan derma Aksa Mahmud – bos Bosowa Group. Pembangunan gedung depan ini, lakukan sendiri Bosowa. Sedangkan bangunan tengah (B) berupa masjid dan perpustakaan, ditanggulangi Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo.
Ketika itu Syahrul bertanya;
“Prof., yang di tengah ini bangunan apa ?.
Ia kemudian menjawabnya;
“Kami akan bangun masjid HMI karena di sekitar sini tak ada masjid.”
Gubernur Sulawesi Selatan itu langsung menanggapi;
“Kalau begitu, masjid ini bagian saya. Jangan mi, ada yang ganggu”, tukasnya.
Pembagunan gedung belakang berlantai empat, sedikit tersendat karena menyerap dana paling besar sekitar Rp. 1,2 M. Beberapa bulan kemudian ketika dirinya menjadi Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) R.I., ia mengajak Menpora, Andi Alifian Mallarangeng menengok pembangunan wisma HMI Botlem yang lagi dibangun. Menpora Alifian menyatakan siap membantu. Bangunan belakang wisma berlantai empat (A) bisa dilanjutkan.
Kini bangunan A, B, dan C wisma HMI Botlem secara fisik telah rampung sekitar 80 persen, setelah puluhan tahun sekadar wacana, sekadar ingin direnovasi.
YAKUSA = YaKin Usaha SAmpai.
***
Musyawarah Nasional (Munas) Korps Alumni HMI (KAHMI) ke – IX diselenggarakan tanggal 30 November – 2 Desember 2012 di Pekanbaru, Riau. Ketika itu, Pengurus KAHMI wilayah Sulawesi Selatan bersama sebagian besar KAHMI kawasan Indonesia Timur masih memiliki dua pentolan pengurus Majelis Nasional KAHMI – incumbent yaitu Tamsil Linrung dan Mubyl Handaling. Keduanya masih dilirik peserta Munas jadi calon kuat presidium/pimpinan kolektif Majelis Nasional KAHMI periode 2012-2017.
Mubyl sejak awal menyatakan tak akan mencalonkan lagi karena akan berkonsentrasi mengurus lembaga pengusaha KAHMI bernama HIPKA. Sementara Tamsil masih tetap mencalonkan diri, sampai beberapa jam sebelum pemilihan Pimpinan Kolektif Majelis nasional (PKMN) – KAHMI. Melalui urun-rembuk nan tegang menakar pertimbangan perspektif dan menjaga ketokohan, jelang siang, akhirnya Tamzil menyodorkan map pencalonannya padanya. Kaasiiif sudaahh !!!.
Sebenarnya, pengusulan dirinya sebagai calon presidium KAHMI mendapat keberatan dari beberapa pengurus KAHMI Sulawesi Selatan. Alasan mereka, ia tak begitu dikenal peserta di arena Munas KAHMI IX. Namun seketika itu, disanggah salah seorang pengurus;
“Bagaimana dengan Mubyl, ketika diusulkan pada periode lalu di Sahid Jakarta ?”.
“Siapa yang kenal ?, toh Mubyl terpilih. Tukas si penyanggah.
“Jadi kuncinya pada kekuatan basis Indonesia Timur dan kepiawaian tim pelobby”, ujar sang penyanggah sepertinya masuk akal.
Sebanyak 26 calon Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI masa bakti 2012 – 2017 di Pekanbaru; (1) Dr. Muhammad Marwan, MSi; (2) Prof. Dr. Amran Razak, MSc; (3) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH; (4) dr. Abidinsyah Siregar, DHSM, MKes; (5) Bambang Soesetyo, SE, MBA; (6) Viva Yoga Mauladi, MSi; (7) Dr. Ir. Abdullah Pute, MSi; (8) Ir.Mashudi, MBA; (9) Dr.Ir.Fanshurullah Asa, MT; (10) Prof. Dr. Idzan Fautanu; (11) Drs.Taufiq Hidayat, MSi; (12) Drs. HM Johar Firdaus, MSi; (13) Dr. Reni Marlinawati; (14) Teuku Syahrul Anshori, SH, MH; (15) Drs. Anas Urbaningrum, MA; (16) Dr.Harry Azhar Azis; (17) Dr.M.S.Kaban, SE, MSi; (18) Ibnu Topik; (19) Prof. Dr. Endin Nasrudin; (20) Marzul Veni, ST, MSi; (21) Ir.Herry Bakti, MM; (22) Dr. Anies Baswedan; (23) Dr.Taufiqurrahman Saleh, SH, MSi; (24) Dr.Nurhayati Assagaf; (25) Ismed Hasan Putro; (26) Dr. Eggy Sudjana, SH, MSi.
Akhirnya terpilih 9 nama presidium masing-masing Mahfud MD, Anas Urbaningrum, Anies Baswedan, Viva Yoga Mauladi, Muhammad Marwan, Leni Marlinawati, Bambang Soesetyo, M.S. Kaban, dan Taufik Hidayat. Populeritas kesembilan tokoh terpilih memang ‘menakjubkan’, mereka merupakan ‘barisan’ ketua lembaga tinggi dan tertinggi negara, mantan Menteri, ketua partai besar, anggota DPR RI kondang, Dirjen, tokoh nasional, mantan Ketum PB HMI.
Mereka tak hanya berbekal ‘nama besar’, poster dan baliho mereka pun bertebaran di sudut-sudut strategis kota Pekanbaru bak Pilpres atau setidaknya Pilgub. Gambar mereka meriah dan menohok mata bertulis visi-misi mereka. Di pintu-pintu masuk aula Munas bertebaran meja-meja berjaga diisi tumpukan buku-buku biografi dan karya sejumlah pesohor kandidat presidium/pimpinan kolektif KAHMI nasional. Bahkan telah lazim, sejumlah wilayah telah ‘dipinang’ sejumlah kandidat. Mereka sangat SIAP untuk bertarung.
Apalagi setelah pidato pengarahan Akbar Tanjung selaku sesepuh KAHMI, Akbar menyebutkan beberapa nama yang telah ‘sowan’ – minta restu padanya. Menakjubkan, semua nama calon presidium yang disebut Bang Akbar di podium, ternyata bisa terpilih jadi Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI.
Berbeda dengan Jusuf Kalla (JK), meskipun hadir dan memberi pidato pencerahan seperti halnya Akbar Tanjung, tapi ‘jubir’ KAHMI Sulawesi Selatan tak sempat menyampaikan keinginan mereka menjadi wakil poros Timur Indonesia penyeimbang kepemimpinan Majelis Nasional KAHMI 2012 – 2017.
Salah satu faktor penentu kekalahan mereka, bermula ketika salah seorang Ketua Kolektif KAHMI Sulawesi Selatan, ‘kurang berselera’ berkoalisi dengan KAHMI peserta wilayah besar. Meski sudah ada pertemuan sejak awal Munas, ‘deal’ jarak jauh senior KAHMI wilayah besar itu dengan Sulawesi Selatan sudah membuahkan harapan. Ketua kolektif tersebut makin enggan setelah nama AU yang semula tak diusul KAHMI wilayah besar itu malah masuk prioritas calon pertama mereka. Tobo sebagai juru lobby KAHMI Sulawesi Selatan ‘tak berdaya’ menghindari ‘phobia AU’. Meskipun secara individual tetap saja, sejumlah peserta Munas terutama KOHATI dari KAHMI Sulawesi Selatan yang dimotori Zohra tetap memilih AU dalam deretan sembilan nama yang bisa dipilih setiap peserta.
Semula Mubyl dan Kairuddin masih yakin, ia masuk sembilan besar PKMN. Apalagi berkembang isu Mahfud tak akan masuk jajaran pengurus jika ada koruptor ikut terpilih.
“Kamu pergi duduk di sudut situ, salah satu kursi dari kesembilan deretan kursi PKMN terpilih yang disediakan”, Mubyl dan Udin bersamaan memberi semangat memastikan.
Ternyata ada suara Taufik Hidayat menohok dari bawah, memiliki 5 suara lebih banyak.
Ia pun ‘kandas’ di urutan sepuluh, nyaris masuk PKMN KAHMI. Apalagi, Mahfud ternyata tak tergoda untuk mundur, meski salah seorang yang terpilih terindikasi korupsi.
Kesedihan menerpa KAHMI Sulawesi Selatan di akhir perhitungan suara, semua rombongan KAHMI Sulawesi Selatan menunduk sedih. Ia kalah tipis dengan tokoh-tokoh kaliber nasional. Kesedihan mereka meledak berurai tangis, baru kali ini dalam sejarah pemilihan pimpinan nasional KAHMI tak ada wakil kawasan Indonesia Timur, khususnya wakil Sulawesi Selatan. Tangis mereka terbawa melintasi udara, melewati beberapa pulau Nusantara menuju kota ‘sarabba’ – Makassar.
Sesal sempat mencuat di wajah sejumlah pengurus KAHMI Sulawesi Selatan;
“Seandainya kita menyatu dipaket AU”. #@!?
“Tapi, setidaknya kita pulang tanpa beban”, hibur salah seorang anggota FORHATI KAHMI Sulawesi Selatan.
Jelang tiga hari berlalunya kepergian almarhum Prof.A.Amiruddin, begitu banyak orang menulis tentang almarhum di berbagai media. Selama tiga hari itu pula, desakan menulis tentang almarhum terus menusuk kalbunya.
Masalahnya, kenangan dirinya bersama almarhum Prof. A. Amiruddin akan terasa berbeda dengan tulisan orang-orang yang ‘merasa dekat’ dengannya. Ia ingin menulis dengan judul SELALU ADA JARAK.
Jarak itu amat terasa, ketika jasad almarhum dikerumuni pelayat di rumah duka jalan Hertasning, sejumlah petinggi dan pesohor berdesakan. Mereka (anak-anak nakal almarhum saat beliau jadi Rektor Unhas). Di tengah kerumunan itu, ia cuma bisa memandang berjarak dari sosok almarhum. Tak bisa melepas duka, menunggu dan menunggu, lalu membiarkan waktu berlalu.
Selama ini, silaturahmi sejumlah senior dan sahabatnya dengan Prof. Amir selalu terencana. Mereka masih sering ngumpul Prof. Amir, terutama mantan pengurus Dewan Mahasiswa (DEMA) periode Taslim Arifin dan kelompok 12 – keputrian (kelompok Satu Dua). Meski setahun terakhir amat jarang bertemu karena pertimbangan kesehatan Prof. Amir. Ia sendiri lebih jarang lagi bertemu Prof Amir. Kerinduannya bak tulisan kehilangan judul.
Tak heran, jika suatu ketika, ia menjadi kelabakan ingin bertemu Prof. Amiruddin. Tak tahu harus memulai dari mana ?, tapi alasannya sudah ada. Saat itu, ia menuju rumah almarhum di bilangan strategis Bukit Baruga, Antang – sebuah pemukiman cukup asri di Makassar. Seingatnya saat itu, sekitar jam 10.00 pagi, di kediaman Prof. Amir dia disambut isteri almarhum.
Semula istri almarhum, agak berat mempertemukan dirinya dengan Prof. Amiruddin yang baru saja beranjak ke lantai dua hendak istirahat di kamarnya. Tetapi setelah dirinya berhasil jelaskan maksud dan tujuannya; bahwa ia akan Pengukuhan Guru Besar. Kehadiran Prof. Amiruddin sangat berarti. “Saya jadi Professor karena beliau tidak sempat memecat saya, karena itu Pengukuhan Guru Besar nanti – sebenarnya adalah pengukuhan beliau – bukan saya, bu”. Isteri Prof. Amir kemudian bersedia mempertemukan dirinya dengan Prof. Amir. Ia pun bertemu Prof. Amir, mereka berpelukan melepas rindu; anak didik dan mahaguru.
Beliau ternyata bersungguh-sungguh hadir di acara pengukuhan dirinya, mesti tersentak-sentak mendengar orasinya tanpa membaca teks. Isinya ‘berat’, meminta sejumlah gubernur/bupati/walikota sejagat Indonesia untuk bertaubat – kembali ke jalan yang benar …. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) melalui Asuransi Kesehatan Nasional (AKN) …. kesehatan gratis sekedar janji politik. “Healthcare is not free, someone must pay“.
***
Pertemuan kedua yang tak kalah berkesan saat silaturahmi yang digelar para murid gemilang dari Prof A. Amiruddin dan Prof. Basri Hasanuddin untuk mengenang berpulangnya ke rahmatullah almarhumah isteri Prof A.Amiruddin dan isteri Prof Basri Hasanuddin di Makassar Golden Hotel (MGH), minggu (13/1/2013). Acara ini diinisiasi Hamid Awaluddin bersama Taslim Arifin.
Prof Amir pada kesempatan itu menyampaikan kesannya mengatakan tugas menjadi pemimpin adalah menyalurkan energy yang dimiliki sang pemimpin kepada para muridnya.
“Makanya yang paling suka berdemo, saya panggil ke rumah (Jalan Kartini No 2, rujab Rektor Unhas) dan tidak ada yang saya pecat. Meski ada satu di antaranya yang suka bikin pusing dirinya. Sambil melirik ke sudut memandai seseorang yang duduk di situ, diikuti lirikan hadiran lainnya. Senyum pun bertaburan di lantai dasar MGH, setelah mengetahui siapa dimaksud Prof. Amir.
“Tapi saya bangga, mereka semua menjadi orang”, tutup Prof. Amiruddin dengan suara parau.
***
Kampus Indonesia pernah memiliki segelintir profesor yang punya kemampuan sebagai rektor terbaik. Khususnya di era 70-an dan 80-an, saat kampus penuh gejolak. Ciri utama rektor ‘’beneran’’ setidaknya ada tiga. Kesatu, sebagai rektor dia adalah pejabat negara (di zaman Orde Baru – pejabat sangat berkuasa). Kedua, sebagai rektor ia adalah guru besar yang selalu memiliki wibawa akademik yang tinggi. Ketiga, sebagai rektor, ia adalah orangtua mahasiswa yang selalu mengayomi dan melindungi mahasiswanya.
Kombinasi ketiga ciri tersebut, hanya dimiliki oleh segelintir rektor. Mereka antara lain, Prof. Dody Achdiat Tisna Amidjaja (ITB), Prof. Mahar Mardjono (UI), Prof. Dr. A. Amiruddin (Unhas), dan Prof. Kusnadi Hardjasumantri (UGM).
Ia selalu mengikrarkan bahwa citra kampus perguruan tinggi sangat ditentukan oleh siapa rektornya. Jika rektornya adalah ‘’kambing’’, maka mahasiswanya adalah anak kambing (selalu mengembik). Jika rektornya adalah ‘’singa’’, maka mahasiswanya adalah ‘’anak singa’’.
Ciri lain dari suatu perguruan tinggi yang besar adalah corak ragam mahasiswanya. Ada yang kutu buku, mahasiswa abadi (cinta kampus), sekadar lewat lalu nikah, masa bodoh dan radikal. Jika salah satu corak ragam tersebut tidak ada, jangan berani bilang kampus perguruan tinggi tersebut kampus besar.
Kedua elemen tersebut, cinta kampus dan corak-ragam mahasiswanya, dapat ditemukenali sepanjang belantara Kampus Baraya dan Tamalanrea ketika Prof. Amiruddin menjabat Rektor Unhas selama dua periode.
***
Seusai acara silaturahmi dan pembacaan doa mengenang berpulangnya isteri Prof. Amiruddin dan isteri Prof. Basri Hasanuddin, ia mendapat perlakuan istimewa. Anak dan cucu-cucu Prof. Amiruddin meminta dirinya foto-bareng. Inikah suatu pertanda menyatunya anak biologis – anak ideologis Prof. Amiruddin ?!@
Makassar, Februari 1997
Kecemasan merasuki segenap penghuni perumahan dosen (perdos) Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea dan perumahan sekitarnya. Mereka telah kehabisan akal menghadapi maraknya teror rampok di lingkungan mereka hidup.
Wasiat leluhur warisan tetua dari kampung mereka untuk menjaga dan melindungi harta mereka, terasa tak mempan menangkal teror rampok.
Didukung pula suasana kota jelang tengah malam, tak hanya dihiasi cahaya remang bola lampu warna-warni, tapi disemarakkan pula tawuran antar kelompok remaja dan pemuda di beberapa jalan utama kota. Ujung Pandang seakan mencekam kala malam hari.
Rasa aman dan tentram seakan menjadi komoditi mahal, sepertinya pengamanan tak berfungsi memberi perlindungan dan rasa nyaman warganya.
Jimat-jimat yang bergelantungan di sela-sela engsel pintu, tebaran garam di empat penjuru rumah, agar mereka yang berniat jahat tak bisa menerobos rumahnya. Adapula penghuni yang senang meletakkan ‘terbalik’ sapu ijuk di belakang pintu utama, agar pencuri atau perampok tak mengenali pintu masuk rumah mereka, seakan gelap melindungi pintu tersebut.
Seorang tetangganya menuturkan kebiasaannya, saat meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong, terutama di pagi sampai siang hari. Tetangga itu selalu membunyikan radio transistornya bergelombang tetap dengan volume terukur, sekadar memberi kesan seakan masih ada orang dalam rumahnya.
Jimat-jimat dan berbagai siasat penghuni perdos dan sekitarnya terasa sia-sia belaka.
Kondisi paling rawan ketika jelang awal ramadhan dan memasuki lebaran, banyak penghuni memilih mudik – pulang kampung. Sepeninggal rumah tak berpenghuni itu, akan menjadi sasaran empuk para pencuri spesialis rumah kosong.
Kriminalitas di Ujung Pandang dan sekitarnya mulai “mewabah”. Penjahat-penjahat brutal mulai merajalela. Perampokan terjadi hampir tiap hari terutama saat malam di daerah-daerah tertentu di perumahan-perumahan pegawai dan golongan menengah. Seperti di Tamalanrea, Sudiang dan lain-lain, tulis Prof.Dr.H.A.Muis SH di kolom KOMUNIKASI Harian Fajar bertajuk; “Masyarakat Mencari Petrus”.
Empat hari berselang, sesudah tulisan Prof. A. Muis di kolom KOMUNIKASI itu dimuat, Hasrullah dosen Fisip Unhas – salah seorang penghuni perdos Unhas Tamalanrea menulis di OPINI harian Fajar; “Surat Terbuka Buat Pangdam dan Kapolda”. Hasrullah diberondong pertanyaan sejumlah temannya dari daerah maupun yang berada di Jakarta. Terutama setelah pemberitaan RCTI dan beberapa koran lokal tentang perampokan yang terjadi di perdos Unhas Tamalanrea.
Karena teror perampokan tak kunjung reda, tiga hari berikutnya sesudah tulisan Hasrullah di harian Fajar, ia pun membuat ‘seri-kedua’ di OPINI koran yang sama “Surat terbuka II Buat Pangdam dan Kapolda” berjudul; “Tiada Hari Tanpa Teror di Tamalanrea”.
Seandainya pak Jenderal Agum Gumilar dan Jenderal Ali Hanafiah menyempatkan diri untuk bertandang sehari semalam saja di Kompleks Dosen Tamalanrea, maka akan menemukan suasana mencekam sepanjang pagi, siang, sore, malam dan subuh hari. Pintu-pintu pagar terus tergembok. Anak-anak kompleks dalam pengawasan ketat ibu atau pengasuhnya, agar tak bermain di luar pagar terutama saat legam. Di pagi hari, para dosen yang memiliki kendaraan hanya ‘memanasi” kendaraannya dalam garasi tanpa membuka pintu pagarnya. Di siang hari, para kepala keluarga penghuni kompleks yang bekerja, akan bergegas pulang sebelum jam kantor usai. Khawatir meninggalkan keluarga mereka terlalu lama. Apalagi kebanyakan warga kompleks adalah dosen muda yang belum mampu membayar pembantu padahal mereka memiliki bayi atau balita.
Cerita panjang tentang teror yang melingkupi kehidupan keseharian dosen Unhas pun akan terurai. Di beberapa blok dalam kompleks dosen Unhas Tamalanrea, ternyata sudah digerayangi pencuri/perampok, meskipun tak pernah muncul dalam pemberitaan, misalnya Blok AI dan AG. Bahkan di Blok AG telah dipreteli TV, emas dan komputer (AG 37, AG 57 dan AG 25). Ironisnya, aksi pencurian tersebut justru terjadi pada saat aparat keamanan (tertutup dan terbuka) sedang bertugas di kawasan kompleks dosen Unhas.
Aksi teror terhadap “harta cicilan” orang Unhas ternyata tak terjadi di kawasan perumahan saja, tapi telah merembes ke kampus. Di sekitar Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat dan Pascasarjana Unhas, sering terjadi pencurian motor, pencungkilan jendela dan pintu mobil lalu menggasak tape recorder dan ACnya. Bahkan di meja kantor jurusan pun, tas dosen yang berisi gaji sebulan bisa raib.
Kami penghuni kompleks dosen Unhas Tamalanrea, sesungguhnya adalah “anak bangsa” yang tersingkir ke pinggiran kota. Kami memiliki istilah “masuk kota” bila punya keperluan di pusat kota Ujung Pandang. Sebagai orang kalah, ternyata penderitaan kami belum sempurna karena setiap malam ketika mudik ke Tamalanrea, harus pula menerobos arena perkelahian kelompok di sepanjang jalan Urip Sumohardjo, Karuwisi, Panaikang dan Panakkukang. Kaca-kaca jendela mobil kami terpaksa ditutup rapat, bayi dan balita kami dipeluk ibunya dengan kencang, sementara mata kami nanar memandang sepanjang jalan yang kami lalui. Teror macam apalagi yang menimpah keluarga kami ?. Bila ada keluarga yang hendak bertamu ke Tamalanrea, mereka akan bertanya; “Apakah keadaan sudah aman ?”. Rasa tak aman, ternyata bukan monopoli warga perumahan Tamalanrea dan kawasan perumahan lainnya, kini telah merembes menjadi milik masyarakat.
Dalam era globalisasi ini, “rasa takut” yang berkepanjangan warga kompleks dosen Unhas Tamalanrea dan kawasan perumahan lainnya (BTP, Telkomas dan Sudiang) yang sudah menjurus kearah “kepasrahan” merupakan wujud “keterbelakangan” dalam berbagai dimensi pembangunan. Rasa tentram dan aman yang telah tergadai itu, justru terjadi dalam teritorial militer seperti kesatrian Kavaleri dan Linud ataupun Kantor Polda, dan hanya dua-tiga kilometer dari kantor Kodam Wirabuana.
Kondisi lingkungan kami yang penuh kecemasan dan rasa takut tersebut, justru acapkali bertentangan dengan beberapa pengalaman pribadi kami dan beberapa teman di perumahan dosen yang sempat menikmati kawasan dunia yang lebih luas. Saya merasa lebih aman bergentayangan di New York – Manhattan pada malam buta, menelusrui gang-gang kereta listrik bawah tanah di New Jersey, emper-emper pertokoan Manhattan dan sekitar Harleem. Adakalanya, pulang larut malam dengan subway orange di kawasan pecinan – cina town di Boston Massachusertts. Begitupula, saat berkeliaran sepanjang malam di daerah lampu merah Amsterdam square, menelusuri gang perkantoran dan pertokoan di deretan Den Haag – Nederlands. Dibandingkan, tinggal di dalam rumah sendiri di kompleks dosen Unhas Tamalanrea.
Ketegaran dan kesigapan serta kewibawaan aparat keamanan sedang diuji. Pemberian batas waktu terhadap pengembalian rasa aman dan ketentraman masyarakat dalam tempo yang sesingkat-singkatnya adalah perwujudan dari sikap profesional aparat keamanan.
Kita percayakan sepenuhnya strategi dan taktik operasional yang akan digunakan aparat keamanan dalam menuntaskan masalah kamtibmas terutama di kawasan perumahan dan sekitarnya. Dalam jangka panjang, diperlukan penataan Simskamling secara terpadu, professional dan berkesinambungan terutama di kawasan perumahan pinggiran kota.
Sekali lagi, tindakan tegas dan tuntas dari aparat keamanan terhadap pelaku kriminal di kawasan perumahan Tamalanrea, Telkomas dan Sudiang sangat diharapkan warga masyarakat bersangkutan.
Disisi lain, sikap masyarakat yang lebih responsif akan sangat menunjang aparat keamanan menyelesaikan tugasnya. Selama ini, masih banyak warga bersikap; “Asal bukan Kami”, “Asal jangan ke luar rumah”.
Salam dan selamat bekerja pak Jenderal dan anggotanya.
Kami siap membantu setiap saat.
Allah SWT menyertai kita sekalian.
***
Dua hari setelah opini dirinya dimuat Harian Fajar, tersiar kabar kalau rumah pak RT disatroni ‘rampok’. Para penghuni tersentak, mereka bergerombol menuju TKP. Ternyata rumah tersebut lagi kosong, penghuninya mudik beberapa hari lalu.
Di pagi buta itu, warga blok AG dan sekitarnya semakin gelisah, resah tak berkesudahan, terus-terusan di teror rampok. Yaaa, ampunnn !!!. Hal ini tak bisa dibiarkan, sentak beberapa warga di sekitar TKP.
Sejumlah dosen dan warga setempat lalu berinisiatif untuk mengadu langsung ke Panglima Kodam – Agum Gumilar, apalagi pagi itu beritanya sudah disiarkan RCTI dan SCTV – media TV swasta nasional. Mereka pun bergegas tanggap, mempersiapkan diri menghadap Panglima dirujabnya sekitar Lapangan Hasanuddin, di sisi SMA Kartika Chandra Kirana tak jauh dari Lapangan Karebosi. Salah seorang wartawan TV swasta nasional itu, dia menganjurkan agar tidak usah berganti pakaian, segera berangkat ke rujab Panglima, karena biasanya beliau menerima tamu di pagi hari. Mereka pun berangkat dengan pakaian sekenanya, tetap memakai sarung tidur dan kaos oblonk bersandal jepit. Sejumlah awak media – tv swasta nasional , di antaranya Husain Abdullah dan Iwan Taruna menyertai mereka menambah energi menerobos pagi menuju kediaman Pangdam VII Wirabunana.
Sejak kejadian itu, cukup lama warga perdos Unhas Tamalanrea dan sekitarnya menikmati ketenangan. Pengamanan terbuka dikawal sendiri komandan Detasemen Brimob Polda Sulselbar Johny Wainal Usman, pengamanan tertutup menyelusup sepanjang hari.
Sesudah penjagaan melewati sebulan, diputuskan para aparat keamanan perdos Tamalanrea dan sekitarnya berstatus “aman dan terkendali”. Walhasil, tersimpan ketenangan nan panjang – rentang waktu bertahun di perdos Tamalarea dan sekitarnya.
Seorang dosen belia mendiagnosa ‘urban symptoms’ penyebab tunggal bertaburnya ketenangan waktu itu, karena masih jarang, (bahkan hampir) belum ditemukan rumah ‘mewah’ – penggoda mata ‘burung-burung gagak di antara awan hitam’ saat melintas di langit perdos Unhas Tamalanrea dan sekitarnya”. Kelaparan adalah burung gagak/yang licik dan hitam/jutaan burung-burung gagak/bagai awan yang hitam (W.S. Rendra)
Ia akhirnya meninggalkan Lorong ‘satu nol delapan’ – gang buntu – markas besar juragan kambing, kampoeng toea Baraya, kecamatan Bontoala, memasuki kawasan ‘kumuh’ utara Makassar.
Di lorong itu, dirinya melepas masa kecil, menikmati masa remaja dan kemahasiswaannya, lingkungan yang amat dibanggakannya. Kini, ia bakal kehilangan aroma ‘orang-orang susah’ berkejaran waktu, memikul beban hidup yang tak berkesudahan.
Di lorong itu, ia menyusun perlawanannya – mengenal kata peduli dan memihak.
Dil orong itu, ia mengasah cakrawala intelektualnya, membentuk jati dirinya.
Di lorong itu, lorong pembebasan dirinya.
Ia akhirnya meninggalkan Lorong ‘satu nol delapan’, lorong kambing – tempat semedi para petapa Biararomoromo.
Ia menaruh ‘tanda kehormatan’nya sebagai ‘resi’ di Biararomoromo. Maklumat para resi di lorong itu, manakala suatu hari di antara mereka ada yang meninggalkan lorong kambing itu, sesungguhnya mereka [dianggap]‘ telah tiada’.
Ia menatap dalam Biararomoromo warisan orangtuanya itu.
Koossoong !!!.
Di belakang Biararomoromo, masih ada Aswar Hasan – yuniornya yang diajak tinggal di lorong itu. Sementera di lorong sebelah – lorong ‘satu nol delapan–A’, masih tersisa Arsunan Arsin.
Ia kini bergeser ke perumahan dosen (perdos) Universitas Hasanuddin (Unhas), Kelurahan Tamalanrea, sekitar 10 kilometer dari kegenitan kota Makassar. Lokasinya persis berseberangan kampus Unhas. Tamalanrea sendiri punya arti ‘tak pernah jemu’, ‘tidak pernah bosan’. Pemilihan nama Kampus Tamalanrea, sesuai perkembangan ipteks menuntut pernah bosan dan jemu untuk belajar terus menerus. Long life educaton.
Keputusannya meninggalkan lorong kambing itu merupakan pilihan amat berat dihatinya. Ia bagai ‘dirampok’ di keramaian kota. Ia hijrah ke pinggiran, mengejar secuil harapan baru — hidup pantas !!!.
Ditempatnya yang baru – perdos Tamalanrea, pernah dikeluhkan seorang dosen muda sebayanya. Dosen muda itu ragu tinggal di Tamalanrea, apalagi dia lulusan universitas negara maju. Dia seakan terdampar di salah satu negara miskin Afrika Selatan.
Sang dosen muda itu menilai;
“Waaduuhhh…. sunyi bos, sepi tak senandung, seakan tak ada derap kehidupan”.
Tapi ia kayaknya tak peduli.
Dari titik keraguan yang ada dalam dirinya, kini berubah jadi secercah harapan barubagi seorang dosen lajang – anak seorang pegawai kecil di Ternate.
Pada sang teman itu, ia bertanya lagi;
“Apa benar di perdos, ada makhluk hidup ?”, mengulangi kekhawatiran Juanda – dosen sebayanya.
“Adaaa!!!”……..jawab temannya itu.
“Naaah !!!” …. “Let’s go” – lesangko gondolo (enyah lu gundul).
Ternyata, sudah ada beberapa dosen menghuni perumahan lama dibangun awal tahun 1980-an. Ada pula perumahan lainnya dibangun koperasi pegawai, akhir tahun 1980an – awal tahun 1990an. Salah satunya, blok yang ditawarkan ‘koperasi’ padanya.
Penataan bloknya pun sekenanya, nama bloknya ditentukan para tukang becak dari kampung belakang-kampung Tambasa. Tukang-tukang becak itu lalu melakukan sosialisasi nama blok baru pemberian mereka. Para pengguna jasa mereka menjadi sasaran sosialisasi paling jitu. Tak heran jika nama blok perdos terbolak-balik misalnya Blok BG dengan Blok GB. Mahasiswa bisa bingung mencari rumah dosen mereka. Tukang becaknya [mungkin] tersenyum – kocek mereka bertambah.
“Kalau begitu, kita pindah”, jawab sang teman sedikit optimis.
***
Setahun setelah ia pindah, seorang seniornya yang sempat mengetahui kepindahannya, merasa iba dan prihatin padanya :
“Gimana kamu ini Dinda, ngaku ‘pejoeang anak bangsa’, tapi malah tergusur ke pinggiran?”
Senior tersebut amat sedih, melihat perkembangan perjalanan hidupnya, tokoh pergerakan mahasiswa dari lorong kambing, melakukan perlawanan sengit, dari tahanan ke tahanan, dicemoh, sekarang terdampar ke pinggiran.
Di mata seniornya itu, dirinya bagaikan pewaris riwayat pribumi tempo ‘doeloe’ yang tergusur dari gemuruh pembangunan kota ke pinggiran nan sepi. Balada perebutan ruang-ruang perkotaan yang kemudian kian dikuasai elit-kota, para pelaku kolusi klasik, pengusaha ‘ali-baba’. Mereka itulah yang gegap-gempita membangun simbol-simbol kecongkakan kapitalisme; berjejeran gedung-gedung mewah, property esklusif, perhotelan, ruko-ruko menerobos badan jalan, menguasai pasar swalayan, memegang rinci hamparan tanah-tanah kosong di pinggiran kota dan menguasai sendi-sendi kehidupan hakiki lainnya. Nasib dan takdir seakan bersamaan menggumuli ketakberdayaannya.
Risau sang senior menjadi kenyataan. Di kampung Tamalanrea, tempat tinggalnya yang baru, meskipun penduduknya banyak pengajar salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia Bagian Timur, ternyata — para penghuninya — tak mampu menyanyikan lagu kebangsaan INDONESIA RAYA secara baik dan sempurna.
Sungguh, suatu potret anak bangsa nan memprihatinkan.
Terbetiklah kisahnya, bermula dari status pemilikan tanah di perdos Unhas Tamalanrea — ternyata milik kampus – aset negara, cuma bangunan yang mereka miliki, itu pun ditebus dengan cicilan belasan tahun dari sebuah bank swasta.
Jika kemarau panjang merebak, mereka akan mengalami musim kelangkaan air — air bersih malas tersembul dari lapisan bebatuan keras di perut bumi Tamalanrea.
Jangan heran, bila berkendara suatu sore di sekitar perdos itu, akan berpapasan sebuah mobil mewah tapi di bagasinya berhimpit jeringen berisi air bersih. Air itu diambil dari kota dari rumah keluarganya.
Para dosen yang memilih hidup di perdos Tamalanrea, terutama yang sudah berkeluarga harus menabung, menguras sebagian besar gajinya untuk membiayai pengeboran tanah berlapis batu cadas, mencari mata air di ke dalaman lapisan kulit bumi Tamalanrea. Semakin dalam pengeborannya – semakin mahal biayanya, namun tetap tak ada jaminan semburan airnya layak minum.
Diawal pagi menerawang, burung-burung gereja terbang berkejaran, saat dosen-dosen itu bertemu tak berjanji, ketika mereka sedang jogging di sekitar perdos atau melintas-menyeberang ke area kampus. Mereka mulai berbagi ‘derita’—maksudnya cerita.
Mereka mengangkat topik utama – bagai suatu pertanyaan atau pernyataan penelitian : “sejauhmana kedalaman pipa bor galian air tanah di rumah Anda, agar bisa menyemburkan air dari lapisan bebatuan keras”.
“Saya lihat di rumah bapak, ada pengeboran air”, kata salah seorang dosen yang tampak lebih senior di antara mereka, berusaha membuka pembicaraan.
“Benar pak, sudah 60 meter dalamnya”.
“Sudah ada airnya, tapi masih berbusa. Jadi saya minta di bor lagi lebih dalam”, sambut dosen tetangganya itu.
“Coba didiamkan beberapa hari lamanya, lalu tilik kembali kejernihannya”, dosen senior itu memberi pertimbangan atas pengalamannya.
“Yah…..yah…”, angguk tipis dosen tersebut seakan mempertimbangkan.
“Saya cuma kedalaman 35 meter pak, air sudah jernih, sambung dosen lainnya tersenyum sedikit bangga akan keberhasilannya mengebor air tanah di rumahnya.
Saat jedah menunggu semburan air tanah-bebatuan Tamalanrea, terlihat silih berganti mobil pengangkut air bersih komersil menyinggahi konsumen mereka di perdos Tamalanrea. Laris manis tangki air bersih itu, meski tak jelas dari mana sumber airnya.
Begitulah secuil ‘kisah-pagi’ sejumlah penghuni perdos Tamalanrea di masa awal dekade 90an. Trending topic-nya ‘krisis air bersih’. Senada lagu ‘Kemarau’ – The Rollies.
Panas nian kemarau ini
Rumput-rumputpun merintih sedih
Resah tak berdaya di terik sang surya
Bagaikan dalam neraka
Curah hujan yang dinanti-nanti
Tiada juga datang menitik
Kering dan gersang menerpa bumi
Yang panas bagai dalam neraka
***
Kisah di lain hari, ketika orang-orang di perdos Unhas Tamalanrea, ke luar rumah hendak ‘rekreasi’ ke pusat kota Makassar yang berjarak sekitar 10 kilometer. Jika mereka ditanya mau ke mana ?, mereka sekonyong menjawab bareng;
“Mau ke kota”,
“Mau masuk kota !”
“Kota?!!?” ……. terasa miris.
Legenda intelektual pinggiran itu, seakan tak habis. Suatu ketika, ia mendengar cerita seorang seniornya tentang beberapa dosen senior di perumahan lama Tamalanrea; karena gaji dan honornya lebih banyak – mereka bisa beli mobil sedan, tetapi mobil-mobil mereka sering diplesetkan sebagai mobil ‘brimob’ – brigade mobil bekas. Ternyata, mereka lebih banyak ‘dibawah mobil’ dibanding ‘membawa mobil’, lantaran baru ratusan meter menuju kampus untuk beri kuliah, ekhhhh …. mobil mereka tiba-tiba berhenti tak mau bunyi apalagi bergerak alias mogok. Sang dosen pun terpaksa tiarap, merayap-menyelusup masuk di bawah body mobilnya. Sang dosen kemudian mengamati, memeriksa bagian-bagian yang disinyalir sumber mogok – tidak berfungsi. Lalu, dosen itupun melakukan ‘analisis-penyebab’ mengapa mobilnya mogok lagi ?. Setelah itu, menggunakan seperangkat perkakas yang tersimpan di bagasi mobilnya. Kini tiba saatnya menarik kesimpulan sementara, ternyata :
“Sisa satu yang tidak bunyi — klaksonnya.”
Seketika ia teringat syair lagu lama dari penyanyi kondang Lilis Suryani yang dipopulerkan Titiek Sandhora – dengan hitsnya – Si Jago Mogok.
Si jago mogok namanya kuberikan
Keluar bengkel sebulan masuk lagi
Apaan tuh ………
Syahdan, dikisahkan pula tentang seorang dosen senior fakultas non-eksakta, acap pagi terlihat ber-becak-ria berangkat dari rumahnya, lalu turun di pintu masuk perdos Unhas Tamalanrea dengan wajah segar – berseri menua. Begitulah dia berlakon setiap pagi kala ingin mengajar di fakultasnya.
Sebenarnya, dosen senior itu memiliki dua buah mobil sedan, tapi mobil tersebut lebih sering digunakan anak-anaknya.
Suatu pagi, ada sejawatnya menanyakan hal itu :
“Kenapa bapak membiarkan anaknya bermobil, sedangkan bapak sendiri dijemput
becak, lalu melanjutkan berkendara angkot – ‘pete-pete’ masuk ke kampus ?”.
Dosen senior itu dengan santainya menjawab :
“Mereka itu khan anak dosen – anak profesor”.
“Saya ini, cuma anak petani”.
***
Senja menebar di cakrawala Tamalanrea, burung-burung gereja melintas berdesis bernyanyi sendu – berkejaran ingin bertengger di antara jejeran pohon rimbun di tepi jalan sepanjang perdos Unhas Tamalanrea. Burung-burung gereja itu bercanda-ria, menghabisi senja seakan ingin bermalam di jejeran pohon rimbun itu.
Saat magrib bertanda-terdengar ayat-ayat suci Al Quran berkumandang dari corong TOA masjid terdekat, burung-burung gereja itu sontak berterbangan menjauh dari Tamalanrea — gelisah terkejar malam.
Malam turun tak bergairah, menebar gelap mengepung Tamalanrea. Cahaya lampu di teras rumah perdos memancarkan kelelahan penghuninya. Malam semakin kelam, tak jauh dari blok jejeran rumah dosen itu, dari bilik seorang mahasiswa penunggu rumah dosennya – (bilik bergorden sarung samarinda, kiriman ibunya dari kampung), terdengar suara merdu Iwan Fals bersama Frenky Sahilatua menyanyikan ‘Orang Pinggiran’ memasuki bait kelima, lantunan nada mereka seakan menikam gelapnya malam.
Orang pinggiran
Didalam lingkaran
Berputar putar
Kembali kepinggiran
Lagunya nyanyian hati
Tarinya tarian jiwa
Seperti tangis bayi dimalam hari
Sepinya waktu kala sendiri
Sambil berbaring meraih mimpi
Menatap langit langit tak perduli
Sebab esok pagi kembali.
Tamalanrea, akhir 1995
Jika kematian adalah wujud lain dari kekalahan,
maka kekalahan demi kekalahan telah menerpanya.
Kematian demi kematian terus merenggutnya.
***
Kamus Bahasa Indonesia mengartikan ‘mati’ sebagai sudah hilang nyawanya; tidak hidup lagi: tidak bernyawa; tidak berasa lagi; padam; tidak dapat berbuat apa-apa; tidak dapat berubah lagi; sudah tidak berguna; diam atau berhenti. Sedangkan kematian adalah perihal mati.
Awal kematiannya, saat pengganyangan ‘toko-cina’ di seantero Makassar, 10-11 April 1980. Kisah tak berdarah, tanpa kobaran api – sedikit kekerasan. Ia dipenjara penguasa Orde Baru, menebus pergolakan zamannya. Ia diramalkan banyak orang, kelak tak bisa jadi pegawai pemerintah bahkan bekerja di swasta sekalipun. [Mungkin] pula, dirinya bakal sulit berusaha-mandiri karena tercatat blacklist penguasa rezim militer.
***
Kematian kedua, ketika dirinya ‘makkalawaki’ – menggembala aksi mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru. Ketika itu, ia Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Perbuatan tak lazim dilakukannya; ia pejabat setingkat eselon satu yang melebur dengan gerakan mahasiswa, sejak awal reformasi bergulir.
Seandainya, gerakan reformasi yang dikumandangkan oleh mahasiswa — gagal !?#. Entah apa yang akan dideritanya ?!?!
Kematian berkelanjutan, terasa tak nyaman baginya. Mati muda seperti Soe Hok Gie dan Ahmad Wahid terasa lebih damai menutup gelisah kala muda.
Ia teringat lagu keramat saat penyambutan mahasiswa baru, Gaudeamus igitur.
Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus
Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus
Post iucundam iuventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus nos habebit humus
(Karenanya marilah kita bergembira selagi masih muda,
seusai masa muda yang menyenangkan,
seusai usia tua yang penuh kesakitan,
bumi akan memiliki tubuh kita).
Dipuncak euforia reformasi, ketika gerakan mahasiswa berhasil menaklukan rezim Orde Baru, ia dinilai ‘memberi-arti’ dari penaklukan itu (setidaknya elit-pewarna di poros timur kawasan Indonesia).
Suatu hari, sebuah koran terkemuka di Indonesia ingin menampilkannya di halaman ‘prestise’ semacam Tokoh atau Sosok. Dikisahkan, manakala koran itu memuat sosok-tokoh di halaman tersebut tak jarang berkahnya jadi menteri, setidaknya nominator menteri. Wawancara pun diselenggarakan secara baik dan sempurna, bahkan pewawancaranya kepala bironya sendiri didampingi seorang wartawati senior.
Seminggu – dua minggu, hasil wawancara itu tak juga diberitakan. Padahal, ada ‘garansi’ nilai ‘news’ sebagai ‘pakalawaki’ – penggembala Pekik reformasi Dari Seberang Lautan Yang Terjajah. Aksi heroik mahasiswa SOLID Unhas sepanjang reformasi 1998.
Ada ‘bocoran’, jika sosoknya tak pantas dimuat di koran itu, karena ia ‘aktor-utama’ peristiwa pengganyangan ‘toko-cina’ di Makassar, awal 1980, pada episode kematian pertamanya.
Tersiar kabar-samar, kedua pewawancara itu (masih tergolong yuniornya) ‘sedikit’ kecewa, lalu mengusulkan agar disajikan saja di kolom profil – semacam tokoh dan peristiwa. Keinginan itu pun punah.
Kematian tak serta merta menguburkan ‘dendam’ atau [mungkin] virus ‘kebencian’. Di hatinya, koran terkemuka itu — tetap saja koran’ berwarna’ [mungkin] putih, [mungkin] kuning, aroma ras – meski tertulis di pojok atas halaman depannya – ‘harian untuk umum’.
***
Kematian ketiga, ketika mengembara di kota megapolitan Jakarta – kota para pendosa. Ia diterusir sosok-sosok PANsel kementerian; anasir politik – pensiunan – NGO worker.
[Mungkin], darah aristorak atau pangreh praja tak mengalir di tubuhnya. [Mungkin], ‘mental lorong’ – lebih merasukinya berpuluh tahun.
Terbayang kisah-resah sebayanya yang diterpa piranti ASN dikotanya.
Suatu pagi nan cerah di lapangan Karebosi-Makassar, ia dan sebayanya jogging bersama. Mereka sudah lebih tujuh putaran mengelilingi lapangan Karebosi, tapi tetesan keringat mereka tak tuntas mengucuri kaos-jogging berwarna-warni di tubuhnya. Momok penahan keringat itu [mungkin] bernama pansel.
Ia kini laksana perahu tanpa angin.
Ia bagai serigala tua bernajis yang setiap saat dipelototi sang anjing
dan dikejar singa yang ingin balas dendam.
Ia akhirnya kembali ke pertapaannya – menikmati puisi sohibnya ‘kesaksian La Ride’ (Ridwan Effendy) – semerbak kampus merah Tamalanrea, duduk di antara jejeran meja dosen, berhias tumpukan skripsi dan tesis mahasiswa, bertoreh koreksian-pulpen merah. Ruang dosen nan sempit dan pekat itu, menjulur kerutinan, menghadang harapan, gagasan, dan maksud baik.
Ia kembali menelusuri deretan belasan ruang kuliah yang temboknya penuh tempelan dan coretan. Ia mendengar lagi, instruksi dan dongeng dosen di kelas diantara teriakan-teriakan usil mahasiswa.
Jika kematian adalah wujud lain dari kekalahan, maka kekalahan demi kekalahan telah menerpanya. Kematian demi kematian terus merenggutnya.
Sisa-sisa kesadarannya mengingatkan (sebelum ‘kematian abadi’ menjemputnya); — ia [mungkin] bukan kesatria dalam dongeng ini. [#]