Categories
Artikel

NGAMEN pagi Professor : sebelumworkshop

Di pagi yang masih setengah mengantuk, ketika matahari baru belajar menyala dan aroma kopi di Warkop Tong San belum sepenuhnya memutuskan apakah ia ingin menjadi pahit atau ramah, kami—Amran, Darmawan, dan Alwy (ADA)—duduk bersisian, memegang gitar tua yang nadanya kadang benar, kadang jujur. Di antara deru motor dan mobil penanda langkah terburu warga Pasar Ikan dan sekitarnya, kami memulai ritual kecil yang akhir-akhir ini terasa lebih penting daripada workshop apa pun: ngamen pagi profesor.

Yang lucu, juga sekaligus agak tragis, adalah kenyataan bahwa tak satu pun warga yang lewat—bahkan mereka yang sudah nongkrong lebih dulu sambil menyeruput kopi hitam pekat—meyakini bahwa mereka yang sedang memetik gitar, menabuh gendang, dan menari kecil itu adalah profesor. Para pengamen asli Pantai Losari pun ikut mengangguk mantap, dengan keyakinan penuh:
Ah, ini paling pengamen baru. Lagaknya cocok.”
Dan dalam hati, kami menerima itu sebagai pujian paling tulus yang pernah diterima para akademisi.

Ada jeda panjang di dalam kesadaran kami saat itu. Sebuah jeda beraroma filosofis, jernih, dan kecil seperti embun yang tergantung di ujung daun. Bukankah selama ini dunia akademik selalu menuntut kami untuk terlihat lebih—lebih berwibawa, lebih cendekia, lebih serius dari hidup itu sendiri? Namun pagi itu, di bawah langit Pantai Losari yang sedang belajar biru, kami justru menemukan kelegaan karena dianggap kurang: kurang profesor, kurang penting, kurang “penting sekali”.

Kami tertawa—tawa kecil yang tidak berpretensi, tidak akademis, dan tidak memerlukan footnote. Sebuah tawa yang muncul dari kesadaran bahwa mungkin inilah yang selama ini hilang: kerendahan hati untuk tidak merasa lebih, serta keberanian untuk menjadi “biasa-biasa saja”.

Di tengah petikan gitar yang kadang sumbang itu, kami teringat kolega-kolega lain. Ada profesor yang sibuk meneliti laut hingga lupa daratan; ada profesor yang lebih sering muncul di hutan daripada di kampus; ada pula profesor yang hidupnya adalah terminal-bandara, sehingga pertemuan dengannya selalu terjadi di ruang transit dan bukan di ruang seminar. Kami berbeda bukan karena lebih baik, tapi karena lebih hadir—lebih menjejak di antara kopi pagi, buroncong panaș, nași kuning, debu jalanan, aroma ikan segar dari nelayan yang baru tiba di pulau, dan nyanyian para pengamen Pantai Losari yang sebenarnya jauh lebih pandai memaknai hidup.

Barangkali, di sinilah letak perbedaan itu:
Profesor lain mengembara untuk menemukan kebenaran besar, sementara kami duduk memetik gitar untuk merayakan kebenaran kecil. Profesor lain bekerja dalam rentang penelitian multi-year, sementara kami bekerja dalam rentang tiga chord sederhana yang kadang nyasar, tapi jujur. Dan para pengamen itulah yang memberi legitimasi tertinggi: bukan gelar, bukan penjinak, bukan pembantai proyek, bukan SK Dekan/Rektor—melainkan pengakuan sederhana bahwa kami “sesama pengamen”.

Ketika seorang pengendara mobil paruhbaya memperlambat laju kendaraan dan menoleh sambil tersenyum—bukan karena kami merdu, tapi karena suasana yang janggal itu membuatnya lupa macet untuk sejenak—kami menyadari sesuatu:
Bahwa mengamen, dalam bentuknya yang paling mentah, adalah latihan paling murni tentang keberadaan. Tentang kehadiran. Tentang menjadi manusia yang tidak diselubungi jargon, renstra, statuta, rapat senat, atau metodologi.

Pagi itu, Pantai Losari menjadi ruang kelas yang sesungguhnya.
Dan kami, para “profesor yang disalahpahami”, menjadi murid paling taat bagi pelajaran yang tidak pernah ada dalam kurikulum.

Mungkin di situlah letak hikmahnya:
Bahwa sebelum menjejal workshop, kami harus terlebih dahulu mendengarkan kehidupan itu sendiri—yang pagi itu berbicara dalam nada sumbang, tawa warga, dan kepolosan para pengamen yang, tanpa ragu sedikit pun, menerima kami sebagai bagian dari mereka.

_______________________

Sumber Facebook :NGAMEN pagi Professor. #sebelumworkshop Amran-Darmawan-Alwy (ADA) dedengkot Prodi S2 AKK FKM Unhas #warkop Tong san – Pantai Losari, Pasar Ikan, 16 agustus 2025

@Happy birthday buat Balqis Nasaruddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *