Di suatu pinggiran kota mahasiswa yang tak seramai dulu, percakapan tentang kampus masih menyala—meski terasa makin redup.
Taklah di ruang kuliah, takpula di forum resmi, melainkan di sela obrolan santai di keramaian pengunjung cafe kalonk—kopi rakyat yang bernuansa bak kotak-kotak ruko.
Di suasana seperti itulah nama Mohammed Ridha (41,5 thn) kembali disebut-sebut.
Ridha bukanlah tipe yang gemar menampikan diri. Namun saat berbicara, kalimatnya terasa bening, tenang, dan mengandung sesuatu yang langka berupa kegelisahan yang terawat.
Dulu, Ridha dikenal sebagai aktivis kusut yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menyisakan pertanyaan. Senang memakai baju bercorak coklat-abu-abu kelam, celananya telihat lusuh.
Kini, setelah waktu membawanya menjauh dari hiruk-pikuk kampus yang semakin gemerlap, kegelisahan itu tidak hilang—justru menemukan bentuknya yang lebih matang.
“Mahasiswa hari ini tak kekurangan informasi,” ujarnya perlahan, “tapi sering kehilangan keberanian untuk mempertanyakan.”
Kalimat itu bak pelancar wawancara pada persoalan yang lebih dalam yang mencuat di cafe kalonk.
Kampus, dalam benak Ridha, sedang mengalami perubahan yang tidak sepenuhnya disadari. Kampus bersolek ria—makin tertata, makin terukur, dan makin ‘glamour’. Di parkiran–mobil mewah berjejer angkuh milik mahasiswa dan dosen ‘pebisnis’.
Namun di balik kerapian itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang: keberanian berpikir.
Kini—semua hal diukur dengan indikator kinerja dosen, jumlah scopus dan sitasi, capaian akreditasi berskala internasional, hingga agenda kemahasiswaan. Indikator demi indikator dipenuhi.
Tetapi pada saat yang bersamaan, ruang untuk berpikir bebas justru makin menyempit. Mahasiswa sibuk mengejar standar, namun jarang diberi ruang untuk mempertanyakan standar itu sendiri.
“Kita seperti dilatih menjadi operator sistem,” nilai Ridha, “bukan pengubah sistem”, ketusnya.
Di titik itulah Ridha menempatkan kembali arti penting peranan mahasiswa: sebagai penjaga kegelisahan sosial.
Bagi Ridha, mahasiswa bukan sekadar bagian dari sistem pendidikan, melainkan elemen yang menjaga agar komunitas kampus tidak kehilangan kepekaannya terhadap ketimpangan dan ketidak-adilan terhadap rakyat.
Namun dunia telah berubah.
Medsos, yang dulunya dibayangkan sebagai ruang demokratis baru, kini menghadirkan paradoks.
Kondisi ini—membuka peluang suara, sekaligus menciptakan ilusi partisipasi.
Banyak yang merasa telah berkontribusi hanya dengan mengunggah opini.
“Perubahan tidak cukup dengan unggahan,” ucap Ridha sedikit kesal, “butuh keberpihakan yang nyata.”
Kekhawatiran Ridha tidak berhenti di situ. Ia menemukan gejala yang lebih halus namun berbahaya: “Normalisasi Kepura-puraan”.
Kampus tampak kritis di ruang diskusi, tetapi kerap diam dalam praktik. Kritik menjadi retorika, bukan sikap.
Manakala hal ini lewat begitu saja seperti angin berlalu, kampus—yang dulu menjadi ruang pembebasan—perlahan berubah menjadi pemburu UKT—pabrik gelar.
Efisien, terukur, tetapi kehilangan ruhnya.
***
Di tengah konstalasi seperti itu Ridha masih melihat harapan—justru muncul dari sesuatu yang lama: organisasi kemahasiswaan.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang dalam banyak kampus mulai kehilangan daya hidupnya, oleh Ridha masih dilihat sebagai ruang strategis—jika dikelola dengan benar.
Namun ia mengingatkan, kebangkitan BEM tidak bisa hanya bergantung pada mahasiswa.
Dibutuhkan sinergi yang lebih luas: pimpinan universitas, mahasiswa, dan alumni.
“Sinergi bukanlah keseragaman,” tegas Ridha. “Kodratnya terlahir dari perbedaan yang saling menghormati.”
Pimpinan universitas, menurut Ridha, memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas.
Mahasiswa membawa mandat moral untuk mengkritik.
Sementara alumni hadir dengan pengalaman dan jejaring. Jika ketiganya bertemu dalam satu semangat, maka BEM bukan hanya bangkit, tetapi tumbuh dewasa—menyala lagi.
Namun persoalannya bagaimana menumbuhkan kembali : kepercayaan.
Tanpa trust, semua gagasan hanya berhenti sebagai slogan.
Di sisi inilah Ridha menaksir pentingnya langkah yang sering dianggap teknis, tetapi sesungguhnya politis: menempatkan kemahasiswaan pada posisi strategis dalam struktur universitas.
“Jika urusan kemahasiswaan kembali ditempatkan di level Wakil Rektor,” tukas Ridha, “itu bukan sekadar pemugaran jabatan. Itu pengakuan.”
Sesuatu banget : pengakuan bahwa mahasiswa bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan bagian inti dari “ekosistem akademik”.
Gagasan ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan tren baru di beberapa kampus PTNBH terkemuka melakukan pemugaran Wakil Rektor bidang kelembagaan mahasiswa dan kewirausahaan.
Di satu sisi, ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk lebih mandiri secara ekonomi.
Di sisi lain, tersimpan risiko yang tidak kecil.
“Jangan sampai mahasiswa hanya diarahkan menjadi entrepreneur,” ujarnya, “tanpa pekaan sosial.”
Ridha kemudian – menawarkan satu gagasan simpel namun dalam bentuk socially aware entrepreneur.
Di mana, mahasiswa yang tidak hanya mampu menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga tetap peka terhadap persoalan kerakyatan.
Kewirausahaan, dalam kerangka ini, bukan pengganti idealisme—melainkan penguatnya.
Dengan struktur yang tepat dan komitmen yang kuat, ia percaya BEM bisa kembali menemukan relevansi dan eksistennya.
Tetapi Ridha lantas mengingatkan: struktur hanyalah alat. Yang menentukan tetap keikhlasan dan ketulusan para aktor di dalamnya.
“Kebangkitan tidak datang dari aturan,” Ridha mengingatkan, “tapi dari keberanian.”
“Pejabat kemahasiswaan harus memiliki “talenta” memadai–“jejak digital” kemahasiswaannya yang mumpuni, yang bisa dipertanggungjawabkan”, tegas Ridha.
***
Sebuah lagu yang lagi viral dari Timor berjudul “Tabola Bale”, menggoda kami—menggalihkan sejenak keseriusan wawancara.
Wawancara imajiner hingga senja berlalu, berakhir tanpa kesimpulan yang benar-benar ditutup.
Seperti layaknya wawancara penting tentang kemahasiswaan, ia justru meninggalkan sesuatu yang menggantung—dan mungkin memang harus demikian adanya.
Sebelum berpisah, Ridha sempat menyampaikan satu kalimat pamungkas seperti ringkasan dari seluruh kegelisahannya:
“BEM akan kembali menyala—bukan ketika semua sepakat, tapi ketika semua berani berbeda dan tetap duduk di satu meja.”
Suasana di luar cafe kalonk, tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Mahasiswa penikmat kopi rakyat—bisa ‘camidu’, silih berganti mengisi ruang kosong Cafe Kalonk. Kampus-kampus terus menggeliat dengan indikator dan targetnya.
Tetapi di sela-sela padatnya mahasiswa penikmat kopi itu, mungkin masih tersisa ruang kecil tempat kegelisahan dirawat.
Dan dari ruang kecil itulah, perubahan—sekecil apa pun—selalu punya kemungkinan untuk lahir—bangkit—menyala lagi.