Categories
Artikel

REFLEKSI, DINAMIKA, DAN TRANSFORMASI BEM-U : Kado kecil buat Prof. JJ

SEKAPUR SIRIH

Alhamdulillah, akhirnya sketsa kecil ini dapat terbit.               Sketsa ini terlahir dari percakapan panjang dengan diri sendiri, dengan sejarah, dan dengan realitas kampus yang terus bergerak. Judulnya “Refleksi, Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-U : Kado Kecil buat Prof. JJ” mungkin terdengar sedikit formal, tapi sesungguhnya isi yang ada di dalamnya lebih beraroma catatan perjalanan— semacam memoar kolektif tentang bagaimana romantisme lembaga kemahasiswaan sepanjang Baraya-Tamalanrea (BARATAMA) menguraikan eksistensi DEMA/Presidium, Sekelumit kisah Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea dan Transformasi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) yang pernah (dan masih) memberi warna pada kehidupan kampus maupun bangsa.

BEM-U, bagi banyak kalangan, hanyalah sebuah struktur organizers kemahasiswaan. Tapi bagi penulis, ia adalah ruang hidup: tempat belajar berdebat, bertengkar, berdamai, hingga akhirnya tumbuh penuh romantika. Dari lorong sekretariat yang sempit, ruang diskusi yang panas dan pengap, warkop rakyat sampai jalanan yang penuh gas air mata, terluka dan berdarah bahkan harus meringkup dalam
sel tahanan—semua itu adalah ruang belajar kepemimpinan yang tidak mungkin digantikan oleh ruang kuliah monoton.

Gaya penulisan buku ini bernuansa refleksi. Sebab, dinamika pergolakan mahasiswa dari masa ke masa sangat dinamis— selalu berubah: dari era mimbar bebas hingga era digital, dari selebaran stensilan “Daeng Lesang” hingga siaran langsung di medsos.

Namun, esensi kepemimpinan mahasiswa tetap sama: berani bersuara, melawan ketidakadilan, dan menjaga nurani publik.

Tentu saja, transformasi BEM-U tak selalu mulus. Ada saat-saat BEM-U terasa kehilangan ‘pesona’—‘daya-pukau’, ditinggalkan oleh mahasiswanya sendiri atau ‘dicuekin’ rektorat. Tetapi seperti gelombang laut di pantai Losari,
ia selalu datang kembali. Mungkin bentuknya berubah, mungkin caranya berbeda, tetapi semangatnya tetap sama: menjadi wadah pencerahan mahasiswa, sekaligus jembatan antara dunia kampus dan realitas kehidupan masyarakat.

Sekapur sirih ini tak bermaksud menggu- rui, tapi hanya sekedar mengingatkan. Bahwasa- nya, apa yang kita sebut student movement sesungguhnya adalah cerita tentang secuil kebe- ranian, yang jika dirawat, bisa menjadi perubahan besar. Demo sebagai instrumen ekspresi student movement bisa jadi bernilai ‘ibadah’.page8image65483984

Buku ini sejenis ‘memoar’ belaka, sekadar sketsa kemahasiswaan bukan sejarah kemahasiswaan. Sketsa dibagi menjadi empat bagian “Refleksi, Dinamika, Reformasi dan Transformasi BEM-U, serta Epilog.

Bagian satu : Refleksi dan Dinamika Kemahasiswaan mengulas memoar dunia kemahasiswaan beragam corak dan masanya (dari kampus lama Baraya ke kampus baru Tamalanrea). Bagian ini berisi Mosaik Sunyi Kelompok Studi Mahasiswa, Tonggak Pers Mahasiswa : Suara Bening Kawula Muda, Komunitas Seni Baraya-Tamalanrea, Konserto Tawuran Mahasiswa Unhas, Negeriku Tertindas Sepatu Lars, Selamat Datang Mahasiswa Baru, Aroma Politik Kampus di Musim Durian.

Bagian dua : Sekelumit Gerakan Reformasi dari Kampus Tamalanrea

Bagian tiga : Transformasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengulas bagaimana Menaksir

Arah Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Sosial
di Tengah Sistem Kekuasaan dan Pemerintahan yang Problematik, Pupusnya Rumah Pencerahan, Mengeker Keberadaan BEM Unhas, BEM Unhas : Adakah ?, BEM Unhas dan Generasi Strawberry : Celoteh Warkop Enreco, dan BEM UNHAS : Saatnya Menyala Lagi Dengan Cara Baru (Kado kecil buat Prof. JJ) serta Wawancara Imajiner dengan Mohammed Ridha : Menjaga Api yang Nyaris Padam.

Bagian empat : Epilog.

Semoga sketsa sederhana ini bisa menjadi pengingat, bahan diskusi warkop, atau pemantik bagi generasi kini untuk terus menyalakan api perjoangannya—dengan cara dan zamannya sendiri.

Kampus Merah Tamalanrea, Oktober 2025 – April 2026

Amran Razak

Categories
Artikel

BEM ALUMNI ?

 

Di sebuah warung kopi yang ACnya mulai berisik seperti rapat pleno partai kecil, berkumpullah para alumni “pagolla”—mereka yang dulu terkenal bukan karena IPK, tapi karena kemampuan meniup bara jadi api unggun. Dulu mereka ‘tukang kompor’.  Sekarang? Yaaah… tetap saja, hanya kompor yang dipakai sudah naik kelas: wacana.

Diskusi BEM Alumni dimulai.

“Saudara-saudara,” kata salah seorang dari alumni itu, sambil mengetuk gelas kopi yang sudah empat kali diisi ulang air panas, “sudah saatnya kita kembali ke kampus. Kita bentuk BEM!”

Yang lain mengangguk serius. Seolah-olah kata “BEM” itu mantra sakti yang bisa mengubah masa lalu yang beraroma demo jadi masa depan yang penuh ‘cuan’ kegiatan.

“Visinya apa?” tanya seorang yang dulu paling sering menghilang saat aksi—tapi paling lantang saat evaluasi.

“Visinya… ya mahasiswa harus kritis, negara lagi krisis !” jawab alumni lainnya—cepat.

“Bagus! Misinya?”

“Misi… kita buat diskusi berseri, aksi beberapa kali, dan… ya… mungkin podcast juga biar terkesan—kekinian. ”

Semua terhenyak seketika. Mereka tampak puas, meski belum jelas apa yang baru saja mereka sepakati.

Seorang pelayan warkop—pria paruh baya—lewat, membawa pisang goreng dan bakara goreng yang sudah dingin—lantaran digoreng sejak dini hari—tapi tetap laku karena obrolannya panas.

Mereka, lanjutkan diskusi.

“Strukturnya bagaimana?”

“Ketua harus yang berpengalaman,” kata seseorang sambil merapikan kerahnya, sepertinya sedang bercermin di permukaan gelas kopi.

“Wakilnya yang vokal!”

“Sekretarisnya yang rajin… kita cari saja nantilah.”

Suasana mulai seperti sidang Komisi DPRD—serius, hanya saja tanpa notulen dan tanpa batas waktu. Yang ada hanya asap rokok menebal-mengepul saling mengejar—mengisi ruang ber-AC dan ide-ide yang beterbangan tanpa arah.

Tiba-tiba, salah seorang alumni yang sejak tadi diam angkat bicara:
“Kita ini mau bikin BEM… atau mau mengulang masa lalu yang ‘berantakan’?”

Semua terdiam lagi. Kali ini terasa lebih lama. Bahkan AC berisik itu pun seperti ikut berpikir—suara deriknya mengecil.

Akhirnya, yang paling toea di antara alumni itu—tertawa kecil.
“Kita ini, dari dulu sampai sekarang, cuma beda di angkatan. Dulu kita kompor untuk mahasiswa. Sekarang… jangan-jangan kita mau jadi kompor Mubes IKA.”

Mereka serentak tertawa. Kopi ditambah lagi. BEM belum terbentuk, tapi satu hal sudah jelas: semangat mereka masih utuh—hanya saja, kali ini perlu sedikit rem, bukan hanya gas.

Dan seperti biasa, keputusan paling penting sore itu adalah:
“Besok kita lanjut lagi… di warkop yang sama atau di sekitar Mubes IKA.”

Categories
Artikel

MENJAGA API YANG NYARIS PADAM : Wawancara Imajiner Mohammed Ridha di Cafe Kalonk

Di suatu pinggiran kota mahasiswa yang tak seramai dulu, percakapan tentang kampus masih menyala—meski terasa makin redup.

Taklah di ruang kuliah, takpula di forum resmi, melainkan di sela obrolan santai di keramaian pengunjung cafe kalonk—kopi rakyat yang bernuansa bak kotak-kotak ruko.

Di suasana seperti itulah nama Mohammed Ridha (41,5 thn) kembali disebut-sebut.

Ridha bukanlah tipe yang gemar menampikan diri. Namun saat berbicara, kalimatnya terasa bening, tenang, dan mengandung sesuatu yang langka berupa kegelisahan yang terawat.

Dulu, Ridha dikenal sebagai aktivis kusut yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menyisakan pertanyaan. Senang memakai baju bercorak coklat-abu-abu kelam, celananya telihat lusuh.

Kini, setelah waktu membawanya menjauh dari hiruk-pikuk kampus yang semakin gemerlap, kegelisahan itu tidak hilang—justru menemukan bentuknya yang lebih matang.

“Mahasiswa hari ini tak kekurangan informasi,” ujarnya perlahan, “tapi sering kehilangan keberanian untuk mempertanyakan.”

Kalimat itu bak pelancar wawancara pada persoalan yang lebih dalam yang mencuat di cafe kalonk.

Kampus, dalam benak Ridha, sedang mengalami perubahan yang tidak sepenuhnya disadari. Kampus bersolek ria—makin tertata, makin terukur, dan makin ‘glamour’. Di parkiran–mobil mewah berjejer angkuh milik mahasiswa dan dosen ‘pebisnis’.

Namun di balik kerapian itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang: keberanian berpikir.

Kini—semua hal diukur dengan indikator kinerja dosen, jumlah scopus dan sitasi, capaian akreditasi berskala internasional, hingga agenda kemahasiswaan. Indikator demi indikator dipenuhi.

Tetapi pada saat yang bersamaan, ruang untuk berpikir bebas justru makin menyempit. Mahasiswa sibuk mengejar standar, namun jarang diberi ruang untuk mempertanyakan standar itu sendiri.

“Kita seperti dilatih menjadi operator sistem,” nilai Ridha, “bukan pengubah sistem”, ketusnya.

Di titik itulah Ridha menempatkan kembali arti penting peranan mahasiswa: sebagai penjaga kegelisahan sosial.

Bagi Ridha, mahasiswa bukan sekadar bagian dari sistem pendidikan, melainkan elemen yang menjaga agar komunitas kampus tidak kehilangan kepekaannya terhadap ketimpangan dan ketidak-adilan terhadap rakyat.

Namun dunia telah berubah.

Medsos, yang dulunya dibayangkan sebagai ruang demokratis baru, kini menghadirkan paradoks.

Kondisi ini—membuka peluang suara, sekaligus menciptakan ilusi partisipasi.

Banyak yang merasa telah berkontribusi hanya dengan mengunggah opini.

“Perubahan tidak cukup dengan unggahan,” ucap Ridha sedikit kesal, “butuh keberpihakan yang nyata.”

Kekhawatiran Ridha tidak berhenti di situ. Ia menemukan gejala yang lebih halus namun berbahaya: “Normalisasi Kepura-puraan”.

Kampus tampak kritis di ruang diskusi, tetapi kerap diam dalam praktik. Kritik menjadi retorika, bukan sikap.

Manakala hal ini lewat begitu saja seperti angin berlalu, kampus—yang dulu menjadi ruang pembebasan—perlahan berubah menjadi pemburu UKT—pabrik gelar.

Efisien, terukur, tetapi kehilangan ruhnya.

***

Di tengah konstalasi seperti itu Ridha masih melihat harapan—justru muncul dari sesuatu yang lama: organisasi kemahasiswaan.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang dalam banyak kampus mulai kehilangan daya hidupnya, oleh Ridha masih dilihat sebagai ruang strategis—jika dikelola dengan benar.

Namun ia mengingatkan, kebangkitan BEM tidak bisa hanya bergantung pada mahasiswa.

Dibutuhkan sinergi yang lebih luas: pimpinan universitas, mahasiswa, dan alumni.

“Sinergi bukanlah keseragaman,” tegas Ridha. “Kodratnya terlahir dari perbedaan yang saling menghormati.”

Pimpinan universitas, menurut Ridha, memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas.

Mahasiswa membawa mandat moral untuk mengkritik.

Sementara alumni hadir dengan pengalaman dan jejaring. Jika ketiganya bertemu dalam satu semangat, maka BEM bukan hanya bangkit, tetapi tumbuh dewasa—menyala lagi.

Namun persoalannya bagaimana menumbuhkan kembali : kepercayaan.

Tanpa trust, semua gagasan hanya berhenti sebagai slogan.

Di sisi inilah Ridha menaksir pentingnya langkah yang sering dianggap teknis, tetapi sesungguhnya politis: menempatkan kemahasiswaan pada posisi strategis dalam struktur universitas.

“Jika urusan kemahasiswaan kembali ditempatkan di level Wakil Rektor,” tukas Ridha, “itu bukan sekadar pemugaran jabatan. Itu pengakuan.”

Sesuatu banget : pengakuan bahwa mahasiswa bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan bagian inti dari “ekosistem akademik”.

Gagasan ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan tren baru di beberapa kampus PTNBH terkemuka melakukan pemugaran Wakil Rektor bidang kelembagaan mahasiswa dan kewirausahaan.

Di satu sisi, ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk lebih mandiri secara ekonomi.

Di sisi lain, tersimpan risiko yang tidak kecil.

“Jangan sampai mahasiswa hanya diarahkan menjadi entrepreneur,” ujarnya, “tanpa pekaan sosial.”

Ridha kemudian – menawarkan satu gagasan simpel namun dalam bentuk socially aware entrepreneur.

Di mana, mahasiswa yang tidak hanya mampu menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga tetap peka terhadap persoalan kerakyatan.

Kewirausahaan, dalam kerangka ini, bukan pengganti idealisme—melainkan penguatnya.

Dengan struktur yang tepat dan komitmen yang kuat, ia percaya BEM bisa kembali menemukan relevansi dan eksistennya.

Tetapi Ridha lantas mengingatkan: struktur hanyalah alat. Yang menentukan tetap keikhlasan dan ketulusan para aktor di dalamnya.

“Kebangkitan tidak datang dari aturan,” Ridha mengingatkan, “tapi dari keberanian.”

“Pejabat kemahasiswaan harus memiliki “talenta” memadai–“jejak digital” kemahasiswaannya yang mumpuni, yang bisa dipertanggungjawabkan”, tegas Ridha.

***

Sebuah lagu yang lagi viral dari Timor berjudul “Tabola Bale”, menggoda kami—menggalihkan sejenak keseriusan wawancara.

Wawancara imajiner hingga senja berlalu, berakhir tanpa kesimpulan yang benar-benar ditutup.

Seperti layaknya wawancara penting tentang kemahasiswaan, ia justru meninggalkan sesuatu yang menggantung—dan mungkin memang harus demikian adanya.

Sebelum berpisah, Ridha sempat menyampaikan satu kalimat pamungkas seperti ringkasan dari seluruh kegelisahannya:

“BEM akan kembali menyala—bukan ketika semua sepakat, tapi ketika semua berani berbeda dan tetap duduk di satu meja.”

Suasana di luar cafe kalonk, tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Mahasiswa penikmat kopi rakyat—bisa ‘camidu’, silih berganti mengisi ruang kosong Cafe Kalonk. Kampus-kampus terus menggeliat dengan indikator dan targetnya.

Tetapi di sela-sela padatnya mahasiswa penikmat kopi itu, mungkin masih tersisa ruang kecil tempat kegelisahan dirawat.

Dan dari ruang kecil itulah, perubahan—sekecil apa pun—selalu punya kemungkinan untuk lahir—bangkit—menyala lagi.

Categories
Artikel

MENJAGA API YANG NYARIS PADAM : Wawancara Imajiner Mohammed Ridha di Cafe Kalonk

Di suatu pinggiran kota mahasiswa yang tak seramai dulu, percakapan tentang kampus masih menyala—meski terasa makin redup.

Taklah di ruang kuliah, takpula di forum resmi, melainkan di sela obrolan santai di keramaian pengunjung cafe kalonk—kopi rakyat yang bernuansa bak kotak-kotak ruko.

Di suasana seperti itulah nama Mohammed Ridha (41,5 thn) kembali disebut-sebut.

Ridha bukanlah tipe yang gemar menampikan diri. Namun saat berbicara, kalimatnya terasa bening, tenang, dan mengandung sesuatu yang langka berupa kegelisahan yang terawat.

Dulu, Ridha dikenal sebagai aktivis kusut yang tidak banyak bicara, tetapi selalu menyisakan pertanyaan. Senang memakai baju bercorak coklat-abu-abu kelam, celananya telihat lusuh.

Kini, setelah waktu membawanya menjauh dari hiruk-pikuk kampus yang semakin gemerlap, kegelisahan itu tidak hilang—justru menemukan bentuknya yang lebih matang.

“Mahasiswa hari ini tak kekurangan informasi,” ujarnya perlahan, “tapi sering kehilangan keberanian untuk mempertanyakan.”

Kalimat itu bak pelancar wawancara pada persoalan yang lebih dalam yang mencuat di cafe kalonk.

Kampus, dalam benak Ridha, sedang mengalami perubahan yang tidak sepenuhnya disadari. Kampus bersolek ria—makin tertata, makin terukur, dan makin ‘glamour’. Di parkiran–mobil mewah berjejer angkuh milik mahasiswa dan dosen ‘pebisnis’.

Namun di balik kerapian itu, ada sesuatu yang pelan-pelan menghilang: keberanian berpikir.

Kini—semua hal diukur dengan indikator kinerja dosen, jumlah scopus dan sitasi, capaian akreditasi berskala internasional, hingga agenda kemahasiswaan. Indikator demi indikator dipenuhi.

Tetapi pada saat yang bersamaan, ruang untuk berpikir bebas justru makin menyempit. Mahasiswa sibuk mengejar standar, namun jarang diberi ruang untuk mempertanyakan standar itu sendiri.

“Kita seperti dilatih menjadi operator sistem,” nilai Ridha, “bukan pengubah sistem”, ketusnya.

Di titik itulah Ridha menempatkan kembali arti penting peranan mahasiswa: sebagai penjaga kegelisahan sosial.

Bagi Ridha, mahasiswa bukan sekadar bagian dari sistem pendidikan, melainkan elemen yang menjaga agar komunitas kampus tidak kehilangan kepekaannya terhadap ketimpangan dan ketidak-adilan terhadap rakyat.

Namun dunia telah berubah.

Medsos, yang dulunya dibayangkan sebagai ruang demokratis baru, kini menghadirkan paradoks.

Kondisi ini—membuka peluang suara, sekaligus menciptakan ilusi partisipasi.

Banyak yang merasa telah berkontribusi hanya dengan mengunggah opini.

“Perubahan tidak cukup dengan unggahan,” ucap Ridha sedikit kesal, “butuh keberpihakan yang nyata.”

Kekhawatiran Ridha tidak berhenti di situ. Ia menemukan gejala yang lebih halus namun berbahaya: “Normalisasi Kepura-puraan”.

Kampus tampak kritis di ruang diskusi, tetapi kerap diam dalam praktik. Kritik menjadi retorika, bukan sikap.

Manakala hal ini lewat begitu saja seperti angin berlalu, kampus—yang dulu menjadi ruang pembebasan—perlahan berubah menjadi pemburu UKT—pabrik gelar.

Efisien, terukur, tetapi kehilangan ruhnya.

***

Di tengah konstalasi seperti itu Ridha masih melihat harapan—justru muncul dari sesuatu yang lama: organisasi kemahasiswaan.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang dalam banyak kampus mulai kehilangan daya hidupnya, oleh Ridha masih dilihat sebagai ruang strategis—jika dikelola dengan benar.

Namun ia mengingatkan, kebangkitan BEM tidak bisa hanya bergantung pada mahasiswa.

Dibutuhkan sinergi yang lebih luas: pimpinan universitas, mahasiswa, dan alumni.

“Sinergi bukanlah keseragaman,” tegas Ridha. “Kodratnya terlahir dari perbedaan yang saling menghormati.”

Pimpinan universitas, menurut Ridha, memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas.

Mahasiswa membawa mandat moral untuk mengkritik.

Sementara alumni hadir dengan pengalaman dan jejaring. Jika ketiganya bertemu dalam satu semangat, maka BEM bukan hanya bangkit, tetapi tumbuh dewasa—menyala lagi.

Namun persoalannya bagaimana menumbuhkan kembali : kepercayaan.

Tanpa trust, semua gagasan hanya berhenti sebagai slogan.

Di sisi inilah Ridha menaksir pentingnya langkah yang sering dianggap teknis, tetapi sesungguhnya politis: menempatkan kemahasiswaan pada posisi strategis dalam struktur universitas.

“Jika urusan kemahasiswaan kembali ditempatkan di level Wakil Rektor,” tukas Ridha, “itu bukan sekadar pemugaran jabatan. Itu pengakuan.”

Sesuatu banget : pengakuan bahwa mahasiswa bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan bagian inti dari “ekosistem akademik”.

Gagasan ini semakin menarik ketika dikaitkan dengan tren baru di beberapa kampus PTNBH terkemuka melakukan pemugaran Wakil Rektor bidang kelembagaan mahasiswa dan kewirausahaan.

Di satu sisi, ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk lebih mandiri secara ekonomi.

Di sisi lain, tersimpan risiko yang tidak kecil.

“Jangan sampai mahasiswa hanya diarahkan menjadi entrepreneur,” ujarnya, “tanpa pekaan sosial.”

Ridha kemudian – menawarkan satu gagasan simpel namun dalam bentuk socially aware entrepreneur.

Di mana, mahasiswa yang tidak hanya mampu menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga tetap peka terhadap persoalan kerakyatan.

Kewirausahaan, dalam kerangka ini, bukan pengganti idealisme—melainkan penguatnya.

Dengan struktur yang tepat dan komitmen yang kuat, ia percaya BEM bisa kembali menemukan relevansi dan eksistennya.

Tetapi Ridha lantas mengingatkan: struktur hanyalah alat. Yang menentukan tetap keikhlasan dan ketulusan para aktor di dalamnya.

“Kebangkitan tidak datang dari aturan,” Ridha mengingatkan, “tapi dari keberanian.”

“Pejabat kemahasiswaan harus memiliki “talenta” memadai–“jejak digital” kemahasiswaannya yang mumpuni, yang bisa dipertanggungjawabkan”, tegas Ridha.

***

Sebuah lagu yang lagi viral dari Timor berjudul “Tabola Bale”, menggoda kami—menggalihkan sejenak keseriusan wawancara.

Wawancara imajiner hingga senja berlalu, berakhir tanpa kesimpulan yang benar-benar ditutup.

Seperti layaknya wawancara penting tentang kemahasiswaan, ia justru meninggalkan sesuatu yang menggantung—dan mungkin memang harus demikian adanya.

Sebelum berpisah, Ridha sempat menyampaikan satu kalimat pamungkas seperti ringkasan dari seluruh kegelisahannya:

“BEM akan kembali menyala—bukan ketika semua sepakat, tapi ketika semua berani berbeda dan tetap duduk di satu meja.”

Suasana di luar cafe kalonk, tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Mahasiswa penikmat kopi rakyat—bisa ‘camidu’, silih berganti mengisi ruang kosong Cafe Kalonk. Kampus-kampus terus menggeliat dengan indikator dan targetnya.

Tetapi di sela-sela padatnya mahasiswa penikmat kopi itu, mungkin masih tersisa ruang kecil tempat kegelisahan dirawat.

Dan dari ruang kecil itulah, perubahan—sekecil apa pun—selalu punya kemungkinan untuk lahir—bangkit—menyala lagi.

Categories
Artikel

Hikmat Dies Natalis : Masih adakah ?

Kado kecil Ultah 63th Universitas Hasanuddin

 Oleh : Amran Razak

Wikipedia menuliskan ‘hikmat’ atau ‘hikmah’ (wisdom) adalah suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Seringkali membutuhkan penguasaan reaksi emosional seseorang (passions) supaya prinsip, pertimbangan dan pengetahuan universal dapat menentukan tindakan seseorang.

Hikmat yang mungkin berkaitan dengan lingkup dan cakrawala Universitas Hasanuddin (Unhas) sekadar menggambarkan suatu kejadian atau situasi yang tersakralkan dan penuh hikmat. Situasi bernuansa intelektual menggema di suatu ruang tertutup semisal penerimaaan maba, wisuda sarjana dan dies natalis. Masih adakah hikmat di seantero kampus Unhas diusianya yang  makin menua : 63 tahun ?

***

Setidaknya ada tiga lagu kebesaran pembawa hikmat, sepanjang perjalanan Unhas dalam memacu diri sebagai salah satu perguruan tinggi besar di Indonesia.

Pertama; lagu keramat saat penyambutan mahasiswa baru, Gaudeamus igitur. Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus/Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus/Post iucundam iuventutem/Post molestam senectutem/Nos habebit humus nos habebit humus. (Karenanya marilah kita bergembira selagi masih muda, seusai masa muda yang menyenangkan, seusai usia tua yang penuh kesakitan, bumi akan memiliki tubuh kita).

Sungguh hikmat rasanya, saat menyanyikan lagi Guadeamus Igitur, dari semangat siswa menjadi mahasiswa. Menyandang status mahasiswa merupakan suatu kehormatan tersendiri, terpelajar dan terpercaya membawa suara rakyat. Merenda masa depan dengan buku, organisasi dan cinta. Setiap hari menelusuri koridor kampus, mengisi deretan kursi ruang kuliah, antrian di laboratorium dan menelisik isi perpustakaan serta ‘ngisi perut’ di kantin kampus. Ada yang berhasil, ada yang tertunda, ada yang dipinang orang, ada pula yang sekedar nama – pernah mahasiswa alias DO. Gaudeamus igitur, iuvenes dum sumus.

Kedua; MARS UNHAS.

Universitas Hasanuddin/Panjimu kita bawa serta/ Pancangkan di medan bakti/Namamu kita bawa bersama/Membina kejayaan nusa/Indonesia bahagia/Putra-putrimu kini bangkit/Dengan jiwa Hasanuddin/Relakan kami padamu negeri/Izinkan kami bagimu pertiwi/Almamater Universitas Hasanuddin/Karunia Ilahi/Ayam jantan lambang perkasa/Benteng teguh wirabuana/Ke Timur ke Barat satu Utara Selatan Nusantara/Nusa Bhineka Tunggal Ika/Nyiurmu dan padimu/Gelora pantaimu lembah gunungmu/Menjadi tempat mengabdi/Ilmu amal padu mengabdi/Di pagi cerah senja teduh/Putra-putrimu berteguh seia sekata/Tunggal Ika Menjadi pandu-pandu bangsa/Teguh padu bergerak maju/Menuju gerbang ilmu amal/Kita wujudkan bersama.

Syair dan lagu ciptaan dua alumni Fakultas Sastra (Mattulada dan HD Mangemba), telah bergelora membangkitkan kehadiran Unhas sejajar dengan beberapa perguruan tinggi termuka di Indonesia. Alumnus Unhas akan terkesima bila menyimaknya, dan akan mengusik rindu pada almamater.

Ketiga; HYMNE UNHAS. Dengarlah angin laut bertiup pagi hari/Lihatlah pinisi berlayar ke cakrawala/Kokok ayam jantan telah membangunkan kami/Kini kami bangkit menunaikan cita-cita/Adalah benteng-benteng perlambang keteguhan/Ada daun lontar tempat ilmu dituliskan/Ada padi makin berisi makin rendah hati/Kini kami bangkit merampungkan hari depan/Berteguh hati kami memasuki gerbang ilmu/ Berfikir kritis serta analitis selalu/Cinta kami untuk bangsa dan alam Indonesia/ Taqwa kami pada Allah Maha Bijaksana/Universitas Hasanuddin/Sumber mata-air ilmu kami/Tempat latihan amal kami/Universitas Hasanuddin/Terima, terimalah cinta kami.

Dua puluh dua tahun yang lalu, ketika Dies Natalis ke 40 Unhas, Hymne Unhas dikumandangkan pertamakali. Semula Hymne Unhas adalah rangkaian puisi penyair tersohor Taufiq Ismail (penulis sajak Almamater masa angkatan ‘66). Taufiq memberi judul puisinya “Lihatlah Pinisi Berlayar Ke Cakrawala”, lalu dijadikan Hymne Unhas, setelah Piet J.Leiwakabessy memenangkannya melalui lomba cipta lagu nasional.

Tema Dies Natalis Unhas ke 63  bertajuk : Meningkatkan kolaborasi, mendukung Unhas Humaniversity”

***

Sungguh hikmat, lagu Mars dan Hymne Unhas telah membentang rentangan nada-nada berjaya di masa depan yang harus dilalui Universitas Hasanuddin. Adakah visi dan misi Unhas berpacu dalam hikmat Mars dan Hymne Unhas tersebut ?? Entahlah !!. Selamat Ultah ke 62 Unhasku.

Selamat Datang mahasiswa baru ‘2018. Selamat jalan alumni baru . Ada yang masuk – ada yang ke luar di dua gerbang ilmiah – kampus  merah  Tamalanrea.@

___________________________________________ 

*Dimuat : Tribun Timur (OPINI), 08 Sep’ 2016

Categories
Artikel

NAIK SEPEDA SEJAK ORDE LAMA

 

Munculnya gagasan bersepeda ke kantor atawa ke kampus, rasanya “sedap-sedap ngeri”.

Seakan dianjurkan oleh mereka yang tak bersepeda saat muda belia.

Konon untuk menumbuhkan budaya efisiensi.

#Aku bersepeda ke mana-mana menerobos kemewahan kota, dari sebuah lorong kambing di sabelah barat kampus lama – Baraya Unhas.

SAAT SEKOLAH RAKYAT (SR)

Semasa Sekolah Rakyat (1963-1969) di Baraya, saat usia kelas 3,  ayahku membelikan sepeda mini. Sepeda mini kebanggaan anak lorong 108 di jalan mesjid raya, sebelah barat rektorat Unhas. Tak jarang kami membawa seeda itu, menelusuri kampus Baraya. MAsa kecil yang asyik.

SAAT SMP

TAK HERAN, KARENA AKU SENANG BERGAUL DAN BELAJAR. HAMPIR TAK ADA KELOMPOK BELAJAR ELITE DI SMPN 6 YANG TIDAK AKU MASUKI. MESKI TERKADANG HARUS MELEWATI POS PENJAGAAN KARENA INGIN BELAJAR DENGAN PUTRA KEPALA POLISI DAERAH (KAPOLDA) di jalan Mappa Oddane, Sekali waktu, belajar bareng dengan PUTRI CELITA DARI PANGLIMA KOMANDO DAERAH ANGKATAN UDARA (PANGKODAU) di jalan Sungai Tangka. MESKI RASA SEGAN MENYELIMUTI : AKU PELAN-PELAN DAN SOPAN BERBAUR TAKUT MENDORONG SEPEDA KUMBANGKU MELEWATI SANG PENJAGA POS.

Suatu ketika, aku ingin bergabung di rumah A.Tenri Ampa – teman kelasku. Perlahan kusandarkan sepedaku, lalu bertanya pada seseorang yang sedang memangkas bunga-bunga di taman halaman depan rumah. Pakaian bersahaja ala tukang kebun, akupun bertanya padanya. Ternyata, beliau adalah sesepuh YASIN LIMPO.  Saya tak ingat apakah masih punya nyali bergabung belajar, atau lebih berat….memilih langkah pulang tak bernyali.

SAAT SMA

Sekitar setahun aku hanyut dalam hiruk pikuk gank motor di Makassar. ATLANTA motor club, salah satu gank motor TOP saat itu, bahkan mengalahkan beberapa gank motor senior.

Aku sendiri bukan pembalap hanya “penggembira”, karena orangtuaku belum mau membelikan motor. Selama tahun 1973, aku dititip di rumah Datokku yang bermukim di jalan Arief Rate. Aku menikmati bimbingan dan pengawasan ketat dari Datokku itu, pria keturunan Melayu, seorang pegawai senior Kejati Sulsel didikan Belanda. Oleh sang Datokku, aku dibekali sepeda tua batangan warna hitam miliknya.

Bila malam hari, saat berkum-pul tiba, terkadang kupakai sepeda itu bergabung di geng Atlanta yang bermarkas tak jauh dari rumah Datokku. Sepedaku, sering dijadikan mainan-bahan olok-olokan teman-temanku yang su- dah naik sepeda motor. Suatu malam di markas mereka lapangan segitiga itu, sepeda milik Datokku … patah. Kupulangkan sepeda itu penuh was-was, pasti akan dimarahi. Dugaanku … benar!?!?

 

Categories
Artikel

EPIDEMIOLOGI KESEPIAN : PASCA LEBARAN

Setiap hari raya Idul Fitri, kita merayakan kemenangan, setelah sebulan lamanya berpuasa menahan diri dengan penuh kesabaran mengharap ridha Allah SWT. Namun, seperti banyak fenomena sosial lain, kemenangan ini juga memiliki “efek samping” yang jarang kita ukur yaitu kesepian.
Kesepian pasca-Lebaran bukan sekadar perasaan individual. Ia merupakan gejala kolektif—diam-diam menyebar, sulit dideteksi, tetapi berdampak nyata. Jika kita meminjam kacamata epidemiologi, maka kesepian ini memiliki unsur host, agent, dan environment yang saling berkelindan.
Agent-nya adalah kombinasi efisiensi digital, budaya kinerja, dan fragmentasi sosial yang makin normal. Ucapan massal di grup, interaksi berbasis unggahan, hingga perayaan yang tidak lagi serempak.
Host-nya adalah kita semua—masyarakat yang semakin terbiasa hidup dalam kecepatan, tetapi kehilangan kedalaman perjumpaan.
Environment-nya adalah dunia sosial yang telah berubah: ruang tamu yang kosong, tetangga yang hanya hadir lewat layar, anak-anak kampung yang berbodong-bondong riang gembira—tak lagi mengetuk pagar mengucapkan salam, dan kampus yang menggantikan dialog dengan sistem.
Dalam satu rumah profesor senior, seluruh variabel itu berkecamuk.
Dan di sinilah kita melihat gejala baru yang mempercepat “penularan”:
Pada Idul Fitri 1447 H, salat Ied dirayakan dua kali versi muhammadyah dan pemerintah. Warga terbelah dalam dua momentum khitmah. Tidak semua berdiri dalam satu saf, tidak semua berbagi pagi pembebasan yang sama.
Secara teologis, ini mungkin dapat dijelaskan.
Namun secara sosial, ia menciptakan jarak yang halus—tetapi nyata.
Yang satu sudah merayakan,
yang lain baru akan merayakan.
Yang satu telah saling berkunjung,
yang lain belum memulai.
Ritme kolektif terpecah.
Di kompleks dosen Tamalanrea, situasi ini berlapis. Sejak dulu pun demikian adanya. Lebaran tidak pernah sepenuhnya semarak. Lebih dari separuh dosen dan keluarga mereka memilih mudik—pulang kampung.
Kompleks memang “terbiasa sunyi”.
Namun sunyi yang sekarang –terasa berbeda.
Dulu, ia adalah sunyi yang sementara—sebuah jeda sebelum kehidupan kembali. Kini, ia menjadi sunyi yang berlapis: ditambah oleh fragmentasi waktu, oleh digitalisasi relasi, dan oleh kebiasaan menunda silaturahmi.
Ruang tamu kosong–padahal, sudah dibersihkan beberapa hari sebelumnya.
Tetangga tidak datang.
Anak-anak tidak mengetuk pagar.
Dan kini, bahkan hari rayanya tidak lagi sepenuhnya sama.
Dalam epidemiologi, kita mengenal konsep herd cohesion—keterpaduan populasi yang memungkinkan respons kolektif terhadap suatu peristiwa.
Ketika kohesi ini melemah, maka bukan hanya penyakit yang lebih mudah menyebar, tetapi juga kondisi sosial seperti kesepian.
Lebaran, yang dulu menjadi momen puncak kohesi sosial, kini mengalami “desinkronisasi”.
Kita tidak lagi merayakan bersama dalam satu waktu, satu ritme, satu suasana silaturahim. Kita merayakan dalam versi masing-masing—terhubung secara digital, tetapi terpisah secara pengalaman.
Dan setelah itu, datang fase berikutnya: Work From Home (WFH). Halal bi halal antar civitas academica tertunda.
Momentum itu—untuk “menyatukan kembali” yang terpecah justru tidak segera terjadi.
Dalam istilah epidemiologi, ini seperti kegagalan intervensi pada fase krusial.
Alih-alih memulihkan koneksi sosial, kita membiarkannya menggantung.
Akibatnya, kesepian tidak hanya menyebar—
ia mengendap.
Gejalanya mungkin tidak langsung terasa. Tetapi perlahan muncul dalam bentuk relasi yang semakin tipis, percakapan yang semakin dangkal, dan kehidupan sosial yang semakin terfragmentasi.
Kita tetap berkomunikasi,
tetapi kehilangan makna silaturahmi—meski simbolik.
Kita tetap terhubung,
tetapi tidak lagi serempak dan semerbak parfum lebaran.
Dan di situlah letak persoalannya: manusia tidak hanya membutuhkan hubungan, tetapi juga membutuhkan ritme bersama.
Tanpa itu, kebersamaan berubah menjadi ilusi yang tersusun dari fragmen-fragmen kecil.
Di layar HP, ucapan “Selamat Idul Fitri” kencang uploadnya—dari mereka yang sudah merayakan, dari mereka yang baru merayakan, dari mereka yang mungkin tidak benar-benar merayakan, tetapi tetap merasa perlu meng-upload.
Semua tampak terhubung.
Namun jika kita mau jujur, ada sesuatu yang tidak lagi utuh.
Kesepian pasca-Lebaran bukan hanya soal tidak adanya orang lain. Ia adalah hasil dari relasi yang terpecah, waktu yang tidak lagi serempak, dan silaturahmi yang terus
ditunda.
Manakala kondisi ini terus berlanjut, maka kita tidak hanya menghadapi perubahan budaya—
kita sedang menyaksikan transformasi diam-diam dalam
fenomena kesehatan pada masyarakat perkotaan.
Sebuah epidemi tanpa gejala mencolok,
tanpa alarm keras pantulan sirene Kavaleri
tetapi dengan dampak yang perlahan menggerus:
kemampuan kita untuk merasa bersama dalam magnit silaturahim.
Pada surat An-Nisa ayat 36 ditegaskan betapa pentingnya bersilaturahmi. Bahkan, perintah tersebut berdampingan dengan perintah untuk bersujud kepada Allah SWT. Amalan silaturahmi ini merupakan hakikat ritual Idulfitri.
Categories
Artikel

PULANG

Aku mengenalnya sebagai seorang dokter non-praktek, dan guru besar tekun.  Ia lulusan univeritas terkemuka tak jauh dari jantung metropolis New York, Amerika Serikat. Orang-orang memanggilnya pakar hebat, pimpinan fakultas, dan cendekia muslim.

Tapi yang kulihat saat ini, ia lebih sering duduk sendiri di serambi pesantren—diaaam, memandangi anak-anak mengaji, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat oleh kami.

Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya tergolong orang yang sesekali gemar membantu di pesantren itu. Mengurus hal-hal kecil, menemani tamu khusus pesantren, terkadang mengantar beliau jika dibutuhkan. Tapi entah kenapa, di hari-hari terakhirnya, aku justru sering berada di dekatnya.

Suatu sore, ia memanggilku.

“Tabe….tolong temaniki nah malam ini,” katanya pelan.
“Ke mana, Prof ?”
Ia tersenyum tipis.
“Kita keliling sedikit. Saya ingin melihat beberapa tempat.”

Kami berangkat ba’da Isya. Di perjalanan…. ia tidak banyak bicara.

Tempat pertama: rumah lamanya di sebuah lorong kota.
Rumah mat sederhana, tak jauh dari pusat kota, tapi agak jauh dari pesantren. Ia tidak turun. Hanya menatap sejauh jarak mobil berhenti. Laammaaa. Sangat lama.
“Itu tempat saya membesarkan anak-anak,” katanya akhirnya.
Suaranya bergetar.
“Saya kira dulu, saya sudah cukup menjadi ayah.”
Ia diam.
“Ternyata… tidak selalu.”

Kami melanjutkan perjalanan dalam kota.

Tempat kedua: sebuah SMP swasta tergolong toea.
Ia turun perlahan seperti lagaknya profesor senior termakan usia. Berjalan ke halaman. Menyentuh bangku kayu yang sudah usang.
“Saya pernah mengajar di sini,” katanya.
“Bukan sekadar mengajar… saya belajar menjadi manusia di sini.”
Ia duduk sejenak.
“Murid-murid saya mungkin sudah lupa. Tapi saya tidak pernah lupa mereka.”

Tempat ketiga: sebuah kampus ternama.
Gedungnya besar—berlantai tujuh, terang-gemerlap cahaya lampu, tampak megah.
Ia tertawa kecil saat melihatnya.
“Di sini saya jadi guru besar. Jadi pimpinan. Banyak orang hormat.”
Ia menatap ke arah gedung lama di sebelah gedung mewah itu.
“Tapi di sini juga saya hampir lupa… bahwa semua itu hanya titipan.”
Ia menoleh ke arahku.
“Jabatan itu halus. Bisa membuat orang merasa besar… tanpa sadar ia sedang menjauh.”

Kami pergi lagi.

Tempat keempat: sebuah grup WhatsApp—ya, terdengar aneh.
Ia tidak membuka ponsel. Hanya menggenggamnya tak begitu bersemangat.
“Saya paling sering menulis pesan dakwah di WAG ini. Mengingatkan tentang kuasa Allah.”
Ia tersenyum pahit.
“Tapi ada yang menegur saya. Katanya, jangan berdakwah di sembarang tempat.”
Ia menghela napas.
“Mungkin mereka benar. Tidak semua ruang siap menerima.”
Ia terdiam cukup lama.
“Jadi sekarang saya belajar… berdakwah tanpa kata.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Tempat kelima: pesantren.
Kami kembali ke pesantren–malam semakin menjauh.                      Ia turun dari mobil, berjalan perlahan di antara kamar-kamar santri yang tertutup rapi.
Anak-anak masih ada yang mengaji malam itu.
Ia duduk. Laammaaa !.
“Inilah rumah saya sekarang,” katanya.
“Saya bisa saja tinggal di tempat yang lebih nyaman–fasilitas kampus.”
Ia tersenyum.
“Tapi saya ingin anak-anak saya tumbuh di tempat yang mengingatkan mereka kepada Sang Khalik.”

Ia memandang beberapa santri yang melintas, baru ke luar dari mesjid pesantren.
“Mereka bukan hanya murid. Mereka adalah cermin. Kadang mereka yang menyelamatkan saya… dari diri saya sendiri.”

Aku pikir perjalanan sudah selesai.

Tapi ternyata belum.

Ia duduk kembali ke dalam mobil.
“Sekarang saya akan jujur,” katanya.

Aku menoleh.

“Saya tidak lama lagi.”
Aku terdiam.
“Sakit saya berat… sudah sampai akhir.”

Sunyi.

“Malam ini saya hanya ingin melihat hidup saya sekali lagi,” lanjutnya.
“Rumah—tempat saya menjadi ayah.
Sekolah—tempat saya menemukan makna.
Kampus—tempat saya diuji oleh dunia.
Dan pesantren—tempat saya belajar kembali menjadi hamba.”

Tanpa kusadari air mataku menetes.

Ia menepuk pelan bahuku.
“Jangan sedih. Ini bukan akhir. Ini pulang.”

Beberapa hari setelah itu, ia benar-benar banyak berdiam. Tidak lagi menyebar pesan dakwah berseri. Tidak lagi memberi banyak petuah. Hanya hadir. Diam. Tapi entah kenapa, diamnya terasa lebih dalam daripada seribu kata.

Orang-orang masih memanggilnya pakar.
Sebagian masih tidak setuju dengan caranya.
Sebagian lagi mulai mengerti.

Suatu malam, aku menemaninya lagi. Ia berkata pelan:

“Jika suatu saat–ada orang bertanya tentang saya… jangan katakan saya guru besar, pimpinan fakultas dan pendakwah.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa, Pak?”
Ia tersenyum.

“Katakan saja… saya pernah mencoba kembali.”

Ia menutup matanya dengan kedua belah tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti—
bahwa perjalanan hidup bukan tentang menjadi siapa,
tetapi tentang berani pulang… sebelum benar-benar dipanggil pulang.

Categories
Artikel

MENYENTIL PROFESOR SENIOR ?

Sosok profesor senior—menggambarkan guru besar yang sudah lama menekuni dunia akademis—sebentar lagi pensiun.
Namun, di kampus—ada tonG dosen lain yang hidup dengan gaya berbeda: dosen senior bergelimang proyek.
Mobilnya selalu ‘ciber’?, bahkan seri tertinggi. Tapi bukan karena ia aktif dalam riset terkini, melainkan karena memiliki kontrak yang dilakukan secara berulang.
Ia pun memiliki ruko dan kafe—lebih dari dua.
Bukan untuk tujuan penelitian, tetapi untuk menunjukkan bahwa Tri Dharma bisa diperluas menjadi pendidikan, penelitian, pengabdian, dan juga properti.
Dosen senior ini sukanya bermain dengan kata-kata. Ia senang menyentil profesor senior yang hidupnya bersahaja. “Profesor koq mobilnya begitu?” atau “Profesor tapi tak punya ruko dan kafe?” atau “Berapa sih gaji profesor?”.
Suaranya ringan-ringanji, tapi maksudNA berat seperti desakan jatuh tempo cicilan.
Profesor senior yang disentil biasanya lebih memilih diam. Bukan karena merasa kalah, tetapi tak tertarik mengikuti lomba dengan kategori berbeda.
Dibalik semua lakon—kehidupan dosen senior yang tampak gemilang, ternyata dirinya rajin menyediakan waktu di jalan-jalan sunyi berupaya memperbaiki usulan profesornya.
Ia sangat diam-diam, bahkan seolah takut data yang ia kumpulkan akan ikut tertawa.
Masalahnya cuma satu:
Datanya masih miskin. Bukan karena miskin harta—bukan itu—tapi karena miskin scopus, sitasi, dan konsistensi. Meski begitu seperti lagaknya, ia tetap berharap.
Ia yakin akan satu hal: jika proyek bisa dicari, maka kredit-point (KUM) profesor pun bisa diperolehnya.
Ia menumpuk berbagai dokumen, menyusun narasi, dan berharap tim Penilai Angka Kredit (PAK) akan terpesona oleh kuantitas dokumen daripada isi di dalamnya.
Profesor senior yang masih berstatus anggota Senat Akademik (SA)—tahu betul cara kerja PAK, hanya tersenyum.
Ia tidak menertawakan, karena ia sudah kenyang dengan tawa.
“Di kampus,” kata Profesor senior—perlahan, “ada yang kaya sebelum menjadi profesor, ada yang profesor sebelum kaya, dan ada yang ingin keduanya—tapi lupa bagaimana jurusNA.”
Akhirnya semuanya kembali kepada kodrat ilahi. Profesor senior—sore itu—pulang dengan mobil lamanya, masuk kompleks dosen, dan malamnya—tidur nyenyak.
Dosen senior yang bergelimang proyek—pulang dengan mobil barunya—masuk rumah barunya, namun masih terbangun tengah malam memikirkan angka-angka dan skor, (mungkin juga) setoran.
Sementara—Kampus Merah tetap berdiri megah—dihuni manusia-manusia yang sama pintarnya, tetapi berbeda dalam memilih apa yang ingin dicapai sebelum pensiun atau meninggal dunia.
Karena tidak semuaji–orang gagal menjadi profesor.         Ada tonG yang berhasil kaya,
tetapi lupa merasa cukup.
Categories
Artikel

MENGINTIP RAKOR IKA UNHAS

Rakor, Rindu, dan Usulan yang “Terlanjur Rasional”

Rakor IKA Unhas itu memang selalu punya ciri khas layaknya periode sebelumnya : agenda resmi di atas meja, tetapi agenda batin alumni berputar di bawahnya. Di sela laporan, rekomendasi, dan foto bersama yang wajib tampak serius, tiba-tiba muncul satu usulan yang bikin ruangan sedikit berisik—tapi brisk yang menyenangkan.

“Bagaimana kalau pak Andi Amran Sulaeman (AAS) saja kembali memimpin IKA Unhas?”

Kalimat itu meluncur ringan, nyaris seperti candaan. Tapi kita semua tahu: candaan alumni sering kali adalah pikiran paling serius yang disamarkan dengan tawa.

Lucunya, usulan itu tidak lahir dari kekosongan gagasan. Ia muncul justru dari kelelahan kolektif melihat organisasi alumni yang kadang terlalu rajin rapat, tapi lupa berlari. Terlalu banyak konsep, tapi kurang eksekusi. Terlalu sering diskusi, tapi jarang keputusan yang benar-benar beres.

Maka nama beken AAS muncul bukan karena nostalgia semata, melainkan karena satu hal yang sulit ditiru: rekam jejak yang bikin alumni malas berdebat. Ketika alumni lain masih sibuk menyusun TOR, beliau sudah bicara soal target. Saat yang lain bertanya “apa mungkin?”, beliau bertanya “kapan mulai?”.

Di sinilah letak humor halusnya:
IKA Unhas adalah kumpulan orang-orang pintar—bahkan sangat pintar—tapi entah kenapa selalu merasa lebih tenang jika dipimpin oleh orang yang tidak terlalu banyak bicara, tapi berkali-kali berhasil.

Ada yang nyeletuk, “Ini bukan soal jabatan, ini soal efektivitas.”
Yang lain menimpali, “Bukan kultus individu, ini darurat kinerja.”

Dan kita pun tertawa—karena kalimat itu terdengar lucu, tapi sayangnya… masuk akal.

Tentu saja, usulan ini dibungkus dengan kesantunan khas Bugis-Makassar: tidak memaksa, tidak mendesak, apalagi memerintah. Tapi di balik tutur yang halus itu tersimpan pesan kolektif: alumni ingin organisasi yang hidup, bukan sekadar eksis.

Kalau boleh jujur, usulan ini juga semacam pengakuan tidak tertulis: bahwa di tengah melimpahnya profesor, doktor, dan tokoh nasional alumni Unhas, tetap saja figur yang bisa menyatukan, menggerakkan, dan menuntaskan itu langka. Bukan karena yang lain kurang hebat, tapi karena tidak semua kehebatan kompatibel dengan kerja kolektif.

Maka Rakor hari itu pun mencatat satu fenomena menarik:
usulan yang terdengar seperti lelucon, dibahas seperti wacana, tapi dirasakan seperti kebutuhan.

Apakah AAS benar-benar akan kembali? Itu urusan waktu dan kesediaan.
Namun satu hal pasti: Rakor IKA Unhas kali ini membuktikan bahwa alumni bukan sedang mencari figur sempurna—mereka hanya sedang lelah menunggu hasil dari orang yang terlalu sibuk menjelaskan.

Dan seperti biasa, alumni Unhas menutup semua itu dengan senyum, kopi, dan kalimat pamungkas paling diplomatis:

“Ini hanya aspirasi, tapi aspirasi yang sudah diuji akal sehat.”

Humor? Ya. Mengusil? Sedikit.

Tapi kalau semua tertawa sambil mengangguk… barangkali itu bukan sekadar guyonan.


Jika Terpilih Kembali: Diet Organisasi dan Timbangan Kinerja

Jika—sekali lagi jika—sosok Andi Amran Sulaeman (AAS) benar-benar terpilih kembali memimpin IKA Unhas, hampir bisa dipastikan pekerjaan pertamanya bukan potong pita, bukan juga foto seremoni. Yang pertama disentuh justru sesuatu yang selama ini sensitif untuk dibicarakan: struktur pengurus yang amat gendut.

Gendut di sini tentu bukan urusan timbangan badan, melainkan timbangan organisasi. Terlalu banyak nama, terlalu sedikit gerak. Terlalu panjang daftar pengurus, terlalu pendek daftar capaian. IKA Unhas selama ini mungkin satu-satunya organisasi alumni yang rapatnya bisa penuh, tapi eksekusinya sering harus dicari dengan senter.

Maka langkah pertama yang paling rasional—dan ironisnya paling berisiko—adalah menyisir ulang pengurus. Bukan dengan sentimen, apalagi balas jasa, tapi dengan pertanyaan sederhana yang sering dihindari:
siapa mengerjakan apa, dan apa hasilnya?

Evaluasi pengurus lama tentu bukan penghakiman moral. Ini bukan soal siapa paling senior, paling lama berjasa, atau paling sering hadir di WAG. Ini soal relevansi. Sebab dalam organisasi alumni modern, pengalaman tanpa kinerja hanya akan menjadi arsip kenangan, bukan mesin penggerak.

Yang tidak kalah penting: membuka pintu bagi pengurus baru. Tapi bukan sekadar baru wajahnya—melainkan baru cara kerjanya. Kompetensi menjadi kata kunci, bukan kedekatan. Kinerja menjadi mata uang, bukan sekadar nama besar. Dan yang paling mengejutkan: jabatan tidak lagi seumur hidup rapat.

Tentu saja, langkah ini tidak akan sepi reaksi. Akan ada yang berkata, “IKA ini kekeluargaan.”
Betul. Tapi keluarga yang sehat tahu kapan harus menyuruh anggotanya bekerja, bukan hanya duduk di ruang tamu.

Akan ada juga yang berbisik, “Jangan terlalu korporatis.”
Padahal justru sebaliknya: IKA butuh profesionalisme minimal agar idealisme tidak sekadar jargon reuni.

Di sinilah gaya AAS biasanya kental-terasa: tidak banyak retorika, tidak sibuk menyenangkan semua orang, tapi fokus pada satu hal yang sering dilupakan organisasi alumni—hasil yang bisa ditunjuk. Jika struktur dirampingkan, peran diperjelas, dan kinerja dijadikan basis evaluasi, IKA Unhas mungkin akan sedikit kehilangan kehangatan basa-basi. Tapi sebagai gantinya, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: daya dorong nyata bagi alumni dan almamater.

Maka jika kelak ada yang bertanya, “Apa warisan terpenting kepemimpinan itu?”
Jawabannya mungkin sederhana, tapi terasa menohok:

“IKA Unhas akhirnya lebih sibuk bekerja daripada berbicara.”

Dan seperti biasa, alumni Unhas akan menutup diskusi itu dengan tawa kecil—karena semua tahu, humor paling tajam adalah yang terlalu dekat dengan ketulusan.