Categories
Artikel

Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas, 18 Mei 1998

Akhirnya tim Aksi SOLID Unhas berhasil ‘menghasut’ – Taslim Arifin – Ketua Umum Dewan Mahasiswa (DEMA) Unhas 1977-1978 yang “dibekukan” oleh  Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Sudomo.

Taslim dijemput khusus tim aksi SOLID-Mahasiswa Unhas. Persyaratan jumlah mahasiswa yang diminta Taslim bila diminta berpidato di depan massa mahasiswa Unhas  minimal 5.000 mahasiswa — kini melebihi.

Suasana lapangan basket dan sekitar gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) berkumpul lebih dari 5.000 mahasiswa memakai jaket merah almamater berjubel hingga ke jalan lingkar masuk menuju rektorat Unhas.

Seusai Pidato Kebangsaan dari Taslim Arifin, korlap mengarahkan massa mahasiswa untuk bersiap kembali ke jalan  mengumandangkan reformasi total dan menyeluruh.

Ribuan mahasiswa Unhas berjaket merah menjulur ke arah barat dengan tertib melintasi  separuh jalan Perintis  Kemerdekaan – Urip Sumohardjo – Gunung Bawakaraeng – sudut Karebosi – Jenderal Sudirman, lalu berhenti di Monumen Mandala.

Ini baru Unhas”, sambut masyarakat di sepanjang jalan yang mereka lalui.  “Merah boo” !

Mahasiswa Unhas sepertinya punya ‘SOP’, tak akan ke luar kampus, meninggalkan kampusnya kalau massanya tak terbilang ribuan JAKET MERAH agar mampu memancarkan cahaya merah menyala — menembus pantulan aspal jalanan yang mereka lewati. Simbol Universitas Besar dan Ternama dari belahan timur Indonesia.

Arsunan Arsin, mantan aktivis Korpala dan Dosen FKM-Unhas bercerita dalam bukunya, “Mengalir Melintasi Zaman : Menebar Ide dan Gagasan tanpa Batas”, halaman 126-127 :

Pada aksi pertama (18 Mei 1998), saya membawa mobil Espass (mobil pribadi saya ketika itu pemberian kakak ipar). Begitu antusiasnya, mobil saya penuh dan sesak oleh mahasiswa. Saya menyetir mobil tersebut dann di samping saya duduk Pak Amran Razak (PR III Unhas). Seorang mahasiswa lagi, duduk di depan persis di samping Pak Amran (praktis kami bertiga di bagian depan). Mobil melaju bersama massa yang tumpah ruah di seluruh titik jalan di Kota Makassar

***

DI Jakarta, mahasiswa mulai bergerak menduduki Gedung DPR/MPR RI. Mereka merencanakan bermalam hingga pimpinan Dewan memastikan pengunduran diri Presiden Soeharto.

Pada sore harinya, komponen mahasiswa Jakarta menemui pimpinan Dewan, dan berhasil mendapatkan pernyataan dari Ketua DRP/MPR RI Harmoko, yang menyerukan  pengunduran diri Soeharto. Pernyataan tersebut disambut positif para mahasiswa.

Terjadi faksi di kalangan mahasiswa, pulang dahulu atau tetap tinggal sampai terbukti Soeharto benar-benar mundur sambal  menunggu komponen mahasiswa lainnya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Menduga proses aksi dan tuntutan meraka akan berjalan lancar, setelah seruan dari Harmoko, malah terjadi sedikit kepanikan pada mahasiswa, ketika pada malam harında Jenderal Wiranto (Menhankam dan Pangab) menyatakan bahwa seruan Harmoko tidak konstitusional.

Kepanikan pun menjadi, ketika beberapa saat berikutnya mahasiswa menerima informasi bahwa gedung DPR/MPR RI akan diserbu dan dikosongkan tentara.

Sempat terjadi perbedaan pendapat di antara komponen mahasiswa, antara memutuskan pulan atas tetap bermalam, walaupun akhirnya mereka memutuskan bermalam — apapun terjadi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *