Rakor, Rindu, dan Usulan yang “Terlanjur Rasional”
Rakor IKA Unhas itu memang selalu punya ciri khas layaknya periode sebelumnya : agenda resmi di atas meja, tetapi agenda batin alumni berputar di bawahnya. Di sela laporan, rekomendasi, dan foto bersama yang wajib tampak serius, tiba-tiba muncul satu usulan yang bikin ruangan sedikit berisik—tapi brisk yang menyenangkan.
“Bagaimana kalau pak Andi Amran Sulaeman (AAS) saja kembali memimpin IKA Unhas?”
Kalimat itu meluncur ringan, nyaris seperti candaan. Tapi kita semua tahu: candaan alumni sering kali adalah pikiran paling serius yang disamarkan dengan tawa.
Lucunya, usulan itu tidak lahir dari kekosongan gagasan. Ia muncul justru dari kelelahan kolektif melihat organisasi alumni yang kadang terlalu rajin rapat, tapi lupa berlari. Terlalu banyak konsep, tapi kurang eksekusi. Terlalu sering diskusi, tapi jarang keputusan yang benar-benar beres.
Maka nama beken AAS muncul bukan karena nostalgia semata, melainkan karena satu hal yang sulit ditiru: rekam jejak yang bikin alumni malas berdebat. Ketika alumni lain masih sibuk menyusun TOR, beliau sudah bicara soal target. Saat yang lain bertanya “apa mungkin?”, beliau bertanya “kapan mulai?”.
Di sinilah letak humor halusnya:
IKA Unhas adalah kumpulan orang-orang pintar—bahkan sangat pintar—tapi entah kenapa selalu merasa lebih tenang jika dipimpin oleh orang yang tidak terlalu banyak bicara, tapi berkali-kali berhasil.
Ada yang nyeletuk, “Ini bukan soal jabatan, ini soal efektivitas.”
Yang lain menimpali, “Bukan kultus individu, ini darurat kinerja.”
Dan kita pun tertawa—karena kalimat itu terdengar lucu, tapi sayangnya… masuk akal.
Tentu saja, usulan ini dibungkus dengan kesantunan khas Bugis-Makassar: tidak memaksa, tidak mendesak, apalagi memerintah. Tapi di balik tutur yang halus itu tersimpan pesan kolektif: alumni ingin organisasi yang hidup, bukan sekadar eksis.
Kalau boleh jujur, usulan ini juga semacam pengakuan tidak tertulis: bahwa di tengah melimpahnya profesor, doktor, dan tokoh nasional alumni Unhas, tetap saja figur yang bisa menyatukan, menggerakkan, dan menuntaskan itu langka. Bukan karena yang lain kurang hebat, tapi karena tidak semua kehebatan kompatibel dengan kerja kolektif.
Maka Rakor hari itu pun mencatat satu fenomena menarik:
usulan yang terdengar seperti lelucon, dibahas seperti wacana, tapi dirasakan seperti kebutuhan.
Apakah AAS benar-benar akan kembali? Itu urusan waktu dan kesediaan.
Namun satu hal pasti: Rakor IKA Unhas kali ini membuktikan bahwa alumni bukan sedang mencari figur sempurna—mereka hanya sedang lelah menunggu hasil dari orang yang terlalu sibuk menjelaskan.
Dan seperti biasa, alumni Unhas menutup semua itu dengan senyum, kopi, dan kalimat pamungkas paling diplomatis:
“Ini hanya aspirasi, tapi aspirasi yang sudah diuji akal sehat.”
Humor? Ya. Mengusil? Sedikit.
Tapi kalau semua tertawa sambil mengangguk… barangkali itu bukan sekadar guyonan.
Jika Terpilih Kembali: Diet Organisasi dan Timbangan Kinerja
Jika—sekali lagi jika—sosok Andi Amran Sulaeman (AAS) benar-benar terpilih kembali memimpin IKA Unhas, hampir bisa dipastikan pekerjaan pertamanya bukan potong pita, bukan juga foto seremoni. Yang pertama disentuh justru sesuatu yang selama ini sensitif untuk dibicarakan: struktur pengurus yang amat gendut.
Gendut di sini tentu bukan urusan timbangan badan, melainkan timbangan organisasi. Terlalu banyak nama, terlalu sedikit gerak. Terlalu panjang daftar pengurus, terlalu pendek daftar capaian. IKA Unhas selama ini mungkin satu-satunya organisasi alumni yang rapatnya bisa penuh, tapi eksekusinya sering harus dicari dengan senter.
Maka langkah pertama yang paling rasional—dan ironisnya paling berisiko—adalah menyisir ulang pengurus. Bukan dengan sentimen, apalagi balas jasa, tapi dengan pertanyaan sederhana yang sering dihindari:
siapa mengerjakan apa, dan apa hasilnya?
Evaluasi pengurus lama tentu bukan penghakiman moral. Ini bukan soal siapa paling senior, paling lama berjasa, atau paling sering hadir di WAG. Ini soal relevansi. Sebab dalam organisasi alumni modern, pengalaman tanpa kinerja hanya akan menjadi arsip kenangan, bukan mesin penggerak.
Yang tidak kalah penting: membuka pintu bagi pengurus baru. Tapi bukan sekadar baru wajahnya—melainkan baru cara kerjanya. Kompetensi menjadi kata kunci, bukan kedekatan. Kinerja menjadi mata uang, bukan sekadar nama besar. Dan yang paling mengejutkan: jabatan tidak lagi seumur hidup rapat.
Tentu saja, langkah ini tidak akan sepi reaksi. Akan ada yang berkata, “IKA ini kekeluargaan.”
Betul. Tapi keluarga yang sehat tahu kapan harus menyuruh anggotanya bekerja, bukan hanya duduk di ruang tamu.
Akan ada juga yang berbisik, “Jangan terlalu korporatis.”
Padahal justru sebaliknya: IKA butuh profesionalisme minimal agar idealisme tidak sekadar jargon reuni.
Di sinilah gaya AAS biasanya kental-terasa: tidak banyak retorika, tidak sibuk menyenangkan semua orang, tapi fokus pada satu hal yang sering dilupakan organisasi alumni—hasil yang bisa ditunjuk. Jika struktur dirampingkan, peran diperjelas, dan kinerja dijadikan basis evaluasi, IKA Unhas mungkin akan sedikit kehilangan kehangatan basa-basi. Tapi sebagai gantinya, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: daya dorong nyata bagi alumni dan almamater.
Maka jika kelak ada yang bertanya, “Apa warisan terpenting kepemimpinan itu?”
Jawabannya mungkin sederhana, tapi terasa menohok:
“IKA Unhas akhirnya lebih sibuk bekerja daripada berbicara.”
Dan seperti biasa, alumni Unhas akan menutup diskusi itu dengan tawa kecil—karena semua tahu, humor paling tajam adalah yang terlalu dekat dengan ketulusan.