Categories
Artikel

PULANG

Aku mengenalnya sebagai seorang dokter non-praktek, dan guru besar tekun.  Ia lulusan univeritas terkemuka tak jauh dari jantung metropolis New York, Amerika Serikat. Orang-orang memanggilnya pakar hebat, pimpinan fakultas, dan cendekia muslim.

Tapi yang kulihat saat ini, ia lebih sering duduk sendiri di serambi pesantren—diaaam, memandangi anak-anak mengaji, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat oleh kami.

Aku bukanlah siapa-siapa. Hanya tergolong orang yang sesekali gemar membantu di pesantren itu. Mengurus hal-hal kecil, menemani tamu khusus pesantren, terkadang mengantar beliau jika dibutuhkan. Tapi entah kenapa, di hari-hari terakhirnya, aku justru sering berada di dekatnya.

Suatu sore, ia memanggilku.

“Tabe….tolong temaniki nah malam ini,” katanya pelan.
“Ke mana, Prof ?”
Ia tersenyum tipis.
“Kita keliling sedikit. Saya ingin melihat beberapa tempat.”

Kami berangkat ba’da Isya. Di perjalanan…. ia tidak banyak bicara.

Tempat pertama: rumah lamanya di sebuah lorong kota.
Rumah mat sederhana, tak jauh dari pusat kota, tapi agak jauh dari pesantren. Ia tidak turun. Hanya menatap sejauh jarak mobil berhenti. Laammaaa. Sangat lama.
“Itu tempat saya membesarkan anak-anak,” katanya akhirnya.
Suaranya bergetar.
“Saya kira dulu, saya sudah cukup menjadi ayah.”
Ia diam.
“Ternyata… tidak selalu.”

Kami melanjutkan perjalanan dalam kota.

Tempat kedua: sebuah SMP swasta tergolong toea.
Ia turun perlahan seperti lagaknya profesor senior termakan usia. Berjalan ke halaman. Menyentuh bangku kayu yang sudah usang.
“Saya pernah mengajar di sini,” katanya.
“Bukan sekadar mengajar… saya belajar menjadi manusia di sini.”
Ia duduk sejenak.
“Murid-murid saya mungkin sudah lupa. Tapi saya tidak pernah lupa mereka.”

Tempat ketiga: sebuah kampus ternama.
Gedungnya besar—berlantai tujuh, terang-gemerlap cahaya lampu, tampak megah.
Ia tertawa kecil saat melihatnya.
“Di sini saya jadi guru besar. Jadi pimpinan. Banyak orang hormat.”
Ia menatap ke arah gedung lama di sebelah gedung mewah itu.
“Tapi di sini juga saya hampir lupa… bahwa semua itu hanya titipan.”
Ia menoleh ke arahku.
“Jabatan itu halus. Bisa membuat orang merasa besar… tanpa sadar ia sedang menjauh.”

Kami pergi lagi.

Tempat keempat: sebuah grup WhatsApp—ya, terdengar aneh.
Ia tidak membuka ponsel. Hanya menggenggamnya tak begitu bersemangat.
“Saya paling sering menulis pesan dakwah di WAG ini. Mengingatkan tentang kuasa Allah.”
Ia tersenyum pahit.
“Tapi ada yang menegur saya. Katanya, jangan berdakwah di sembarang tempat.”
Ia menghela napas.
“Mungkin mereka benar. Tidak semua ruang siap menerima.”
Ia terdiam cukup lama.
“Jadi sekarang saya belajar… berdakwah tanpa kata.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Tempat kelima: pesantren.
Kami kembali ke pesantren–malam semakin menjauh.                      Ia turun dari mobil, berjalan perlahan di antara kamar-kamar santri yang tertutup rapi.
Anak-anak masih ada yang mengaji malam itu.
Ia duduk. Laammaaa !.
“Inilah rumah saya sekarang,” katanya.
“Saya bisa saja tinggal di tempat yang lebih nyaman–fasilitas kampus.”
Ia tersenyum.
“Tapi saya ingin anak-anak saya tumbuh di tempat yang mengingatkan mereka kepada Sang Khalik.”

Ia memandang beberapa santri yang melintas, baru ke luar dari mesjid pesantren.
“Mereka bukan hanya murid. Mereka adalah cermin. Kadang mereka yang menyelamatkan saya… dari diri saya sendiri.”

Aku pikir perjalanan sudah selesai.

Tapi ternyata belum.

Ia duduk kembali ke dalam mobil.
“Sekarang saya akan jujur,” katanya.

Aku menoleh.

“Saya tidak lama lagi.”
Aku terdiam.
“Sakit saya berat… sudah sampai akhir.”

Sunyi.

“Malam ini saya hanya ingin melihat hidup saya sekali lagi,” lanjutnya.
“Rumah—tempat saya menjadi ayah.
Sekolah—tempat saya menemukan makna.
Kampus—tempat saya diuji oleh dunia.
Dan pesantren—tempat saya belajar kembali menjadi hamba.”

Tanpa kusadari air mataku menetes.

Ia menepuk pelan bahuku.
“Jangan sedih. Ini bukan akhir. Ini pulang.”

Beberapa hari setelah itu, ia benar-benar banyak berdiam. Tidak lagi menyebar pesan dakwah berseri. Tidak lagi memberi banyak petuah. Hanya hadir. Diam. Tapi entah kenapa, diamnya terasa lebih dalam daripada seribu kata.

Orang-orang masih memanggilnya pakar.
Sebagian masih tidak setuju dengan caranya.
Sebagian lagi mulai mengerti.

Suatu malam, aku menemaninya lagi. Ia berkata pelan:

“Jika suatu saat–ada orang bertanya tentang saya… jangan katakan saya guru besar, pimpinan fakultas dan pendakwah.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa, Pak?”
Ia tersenyum.

“Katakan saja… saya pernah mencoba kembali.”

Ia menutup matanya dengan kedua belah tangannya.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti—
bahwa perjalanan hidup bukan tentang menjadi siapa,
tetapi tentang berani pulang… sebelum benar-benar dipanggil pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *