Categories
Artikel

Mosaik Sunyi : Kelompok Studi Mahasiswa Unhas

 

Sejak pembekuan Dewan Mahasiswa (DEMA) dan lahirnya  Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) periode 1978-1983, kampus-kampus di Indonesia seperti kehilangan nyawa. Di Unhas, suasana terasa gersang. Sanggar A.P. Pettarani  dan ruang rapat kampus lainnya tidak lagi menjadi panggung debat, jalanan sekitar kampus Baraya dan Tamalanrea jarang diwarnai gema demonstrasi, sepi dan ‘merana’.

Mahasiswa Unhas yang selama ini dikenal “jago jalanan” tiba-tiba kehilangan arena. Tetapi, bukankah selalu ada jalan ketika satu pintu ditutup? Mereka lalu mencari ruang lain. Ruang sunyi. Ruang di balik kelas, di mushalla mini, di warkop pinggiran kampus, pondokan bahkan di kantin kampus.

Dari situ lahirlah kelompok-kelompok studi—api kecil yang mereka jaga di tengah kegelapan.

                                        ***

Koswantara: Dari Peta Nusantara ke Peta Ketidakadilan

Di Fakultas Hukum Unhas, sekelompok mahasiswa mendirikan Kelompok Studi Wawasan Nusantara (Koswantara).

Awalnya, tema mereka selaras dengan jargon negara. Mereka membicarakan integrasi nasional, geopolitik, dan konsep Wawasan Nusantara yang selalu digembar-gemborkan pemerintah Orde Baru. Tapi cepat sekali arah diskusi berubah.

Pertanyaan-pertanyaan kritis muncul: “kalau Nusantara ini satu, kenapa pembangunan hanya menumpuk di Jawa? “Kalau hukum untuk semua, kenapa rakyat Sulawesi masih sulit mengakses keadilan?”

Diskusi-diskusi itu kemudian dicatat, digandakan dengan mesin ketik dan stensil, bahkan mungkin dibukukan. Inilah cara mereka menghindari stigma “jago jalanan”. Mereka ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Makassar bukan hanya bisa berteriak, tetapi juga bisa menulis, menimbang, dan merumuskan gagasan.

Kosindra: Belajar Demokrasi di Tengah Tabu

Di persilangan Fakultas Hukum dan FIISBUD, tumbuh Kosindra (Kelompok Studi Indonesia Raya).

Kosindra rajin membedah sejarah politik Indonesia, dari Indonesia Menggugat Soekarno, pemikiran Hatta dan Sjahrir, hingga gagasan Tan Malaka. Mereka bertanya: apakah cita-cita demokrasi para pendiri bangsa masih hidup di bawah Orde Baru?

Diskusi mereka terasa berani, mengingat kata “demokrasi” saja saat itu rawan diawasi intel. Tapi Kosindra tetap jalan, menjahit ingatan sejarah untuk melawan lupa.

KSP : Angka, Kopi tubruk, dan Keadilan Ekonomi

Di Fakultas Ekonomi, muncul Kelompok Studi Pembangunan (KSP) berbasis jurusan Studi Pembangunan/Ilmu Ekonomi. Diskusi mereka bermula dari di kantin Tamalanrea lalu bergema di Sanggar Pettarani kampus Baraya.

Angka-angka pertumbuhan ekonomi yang selalu diumumkan negara mereka bandingkan dengan realitas nelayan kawasan Spermonde atau deretan petani sepanjang Sulawesi Selatan, termasuk wajah Kota Makassar. Buku Gunnar Myrdal, Amartya Sen, dan Andre Gunder Frank berserakan di meja kantin, diapit kopi tubruk dan rokok filter serta aroma nasi-ikan dan gado-gado khas kantin.

Mereka bertanya lantang: kalau ekonomi tumbuh, kenapa rakyat tetap lapar? Pertanyaan-pertanyaan itu membentuk kader ekonomi kritis yang kelak banyak berkiprah di NGO, birokrat, perbankan maupun perumusan kebijakan publik.

Pemikiran Amartya Sen (Development as Freedom, 1999) seakan menginspirasi mereka :

“Agak janggal rasanya ketika kita mengklaim pembangunan ekonomi berhasil, sementara di jalan-jalan masih bertebaran pengemis, dan ‘payabo’ menelusuri kawasan pemukiman. Keberhasilan ekonomi seharusnya tidak diukur dari pertumbuhan angka-angka makro semata, melainkan dari kemampuan setiap manusia untuk hidup bermartabat dan terbebas dari kemiskinan.”

Diskusi ilmiah berseri dari KSP dikumpulkan menjadi buku : “Ekonomi Indonesia : Menuju kesatu Arah”. Terbit ketika budaya menulis buku belum populer di kampus.

IKA-Antropologi : Menyulam Persaudaraan di Tengah Zaman

Di kampus Tamalanrea yang baru berkembang pada awal 1980-an, mahasiswa Antropologi Unhas menempati ruang yang unik. Di situlah tumbuh semangat intelektual yang khas: rasa ingin tahu yang tak pernah padam terhadap manusia, budaya, dan kehidupan sosial yang terus berubah.

Dari salah satu ruang kecil FIS, lahirlah sebuah wadah kebersamaan bernama Ikatan Kekerabatan Antropologi (IKA) Unhas. Nama “kekerabatan” dipilih bukan tanpa makna. Ia menggambarkan nilai yang menjadi inti dari ilmu antropologi sendiri—bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu terikat dalam jaringan hubungan sosial, nilai, dan makna.

IKA lahir bukan sebagai organisasi formal yang kaku, melainkan sebagai keluarga intelektual yang tumbuh dari bawah. Di balik kelahirannya ada semangat kebersamaan mahasiswa sejak awal kuliah. Mereka sadar, di tengah derasnya arus modernisasi dan tekanan politik Orde Baru, antropologi harus hadir sebagai ilmu yang membumi—membela kemanusiaan dan menghargai keberagaman.

Aktivitas IKA di awal 1980-an tak lepas dari tradisi diskusi yang intens. Hampir setiap sore, di ruang kelas yang mulai kosong, mereka berkumpul membahas Clifford Geertz, Koentjaraningrat, hingga Levi-Strauss. Tapi yang menarik, diskusi itu tidak berhenti di teori. Mereka membawanya ke lapangan—ke desa-desa di Gowa, Takalar, dan Maros bahkan lintas provinsi di Kawasan Timur Indonesia (KTI)—melihat langsung bagaimana teori berhadapan dengan realitas sosial.

Kegiatan lapangan itu menjadi semacam ritual pembentukan karakter mahasiswa Antropologi Unhas. Mereka belajar bahwa masyarakat bukan sekadar objek penelitian, melainkan subjek yang memiliki kebijaksanaan tersendiri. Dari sana tumbuh rasa empati dan kesadaran sosial yang kuat.

Mahasiswa Antropologi memilih jalannya sendiri—jalan sunyi tapi berakar. Mereka eksis di berbagai forum kampus, tapi dengan gaya khas: reflektif, analitis, dan tidak meledak-ledak. IKA menjadi wadah yang menyatukan orientasi akademik dengan kepekaan sosial. Banyak anggotanya ikut dalam kegiatan penelitian lintas jurusan, diskusi lintas kampus, dan pengabdian masyarakat. Mereka percaya bahwa menjadi antropolog berarti menjadi jembatan—antara ilmu dan kemanusiaan, antara kampus dan masyarakat, antara teks dan realitas.

Yang membuat IKA berbeda dari organisasi mahasiswa lain adalah nuansa kekeluargaannya. Tidak ada hirarki yang kaku. Senior dan junior duduk bareng, berdiskusi sambil menikmati kopi hitam sepanjang malam hari. Bila ada yang kesulitan biaya penelitian atau tugas lapangan, dana dikumpulkan bersama. Bila ada yang sakit, semua datang menjenguk. Nilai gotong royong itu menjadi “etnografi hidup” dari IKA sendiri. Mereka tidak hanya mempelajari kekerabatan dalam teori, tetapi juga menghidupkannya dalam praktik sehari-hari. Dalam setiap pertemuan, selalu ada tawa, debat, dan rasa saling asah—semua dalam semangat keluarga ilmiah.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, alumni IKA tersebar di berbagai bidang: dosen, peneliti, birokrat, aktivis LSM, hingga pegiat budaya. Tapi ketika mereka bertemu, bahasa yang digunakan tetap sama: bahasa kekerabatan. Mereka masih memanggil satu sama lain dengan sebutan “saudara lapangan,” sebuah istilah khas yang lahir dari solidaritas di masa kuliah dulu.

Ikatan Kekerabatan Antropologi bukan hanya nama organisasi, tapi sebuah nilai hidup. Ia mewariskan semangat untuk melihat manusia secara utuh—dengan hati dan pikiran. Dari ruang kecil FIS kampus Tamalanrea, generasi antropolog Unhas belajar bahwa memahami budaya orang lain berarti juga memahami kemanusiaan sendiri. IKA Unhas tahun 1980-an adalah cermin dari semangat zaman: sederhana, tapi penuh makna. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tapi juga pergaulan, kepedulian, dan cinta terhadap manusia.

Di tengah dunia yang kian individualistis saat ini, kisah IKA di masa itu terasa seperti oasis—pengingat bahwa kebersamaan ilmiah dan kekeluargaan intelektual pernah hidup hangat di jantung kampus Tamalanrea. Dan mungkin, masih berdenyut sampai kini, di hati setiap alumninya.

MPM : Mushalla sebagai Ruang Alternatif

Mengenang 1 Desember 1980, hari lahirnya mushalla pertama di kampus baru Tamalanrea, hasil dari gebrakan demonstrasi mahasiswa atas minimnya fasilitas kampus. Mushalla itu sederhana—bekas ruang kelas atau kantor kecil di sudut gedung FIS-1—namun selalu penuh sesak setiap kali waktu salat tiba.

Dari tempat kecil itu, lahir pula Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM), organisasi nonformal yang berdiri pada tanggal yang sama, 1 Desember 1980. Pendirian MPM berawal dari peristiwa unik: kemalingan di kantor BPM FISBUD Unhas. Mushalla kemudian menjadi simbol solidaritas dan spiritualitas mahasiswa.

Fasilitasnya sederhana, tapi istimewa. Ada perpustakaan mini berisi buku-buku sumbangan dari Rabithah Alam Islamy melalui Dewan Dakwah Islam pimpinan M. Natsir, juga bantuan dari Masjid Salman ITB, dosen, pegawai, dan mahasiswa sendiri.

Namun, keberadaannya sempat menimbulkan gesekan. Beberapa dosen merasa terganggu oleh suara azan dari TOA mushalla yang berkumandang saat kuliah masih berlangsung. Suatu hari, seorang dosen senior datang menegur dengan nada keras, meminta tape pemutar azan dimatikan. Anak-anak MPM tetap tenang. Ahmad Siang menjawab pendek tapi tegas, “Fisabilillah… Allahu Akbar.” Dosen itu pun pergi tanpa kata.

Pendanaan mushalla sederhana, dari celengan kardus dan hasil menjual botol markisa bekas dari kegiatan ospek. Meski begitu, aktivitasnya hidup. Setiap bad zuhur, mahasiswa berdiskusi tentang Islam—dari pemikiran Ali Syari’ati dan Sayyid Qutb hingga Al-Ghazali dan Ibnu Rushd. Anak-anak MPM merasa seperti sufi kecil, berdiskusi tentang fiqih, tasawuf, dan filsafat Islam.

Kegiatan mereka juga meluas lewat Latihan Dakwah Mahasiswa (LDM). LDM pertama, melahirkan kader-kader seperti Yunus Zain (alm), PB Sudirman, Rahim Assegaf Puang Ramma, Agung Wirawan, dan Sutinah Made.

Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef, dijadwalkan berkunjung ke kampus baru Tamalanrea, MPM bersiap “menyambutnya” dengan cara khas mereka. Dengan semangat anti-sekulerisme, mereka mempercantik mushalla, membersihkan karpet sumbangan Dekan FISBUD Ibu Kustiah, menyalakan kipas, dan menata papan nama “Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM) – Unhas” di depan koridor agar mencolok.

Tujuannya jelas: agar sang Menteri melihat jika ada mushalla kecil hidup di tengah kampus modern. Namun rencana itu tercium oleh pimpinan fakultas. Mereka segera mengatur jalur kunjungan agar Dated Joesoef tidak melewati koridor depan mushalla. Akhirnya, menteri benar-benar tak sempat melintas di depan mushalla Tamalanrea itu.

Empat dekade telah berlalu sejak peristiwa itu, namun aroma karpet mushalla dan hembusan kipas angin di ruang mushalla membekas dalam ingatan. Di ruang sempit mushalla MPM-Tamalanrea, tersimpan jejak idealisme yang jarang disebut dalam sejarah resmi kampus. Bukan karena ia besar dan bising, tetapi karena ia sederhana dan diam—namun penuh makna.

KDB : Menjaga Nalar di Tengah Pembungkaman

Pada masa ketika kata “demokrasi” menjadi slogan kosong dan kritik dianggap ancaman terhadap stabilitas, sekelompok mahasiswa di Makassar membangun ruang kecil yang bernama Kelompok Diskusi Bulukunyi (KDB). Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Bulukunyi, denyut intelektual dan semangat kebebasan berpikir berdenyut di tengah kesunyian kampus yang diselimuti ketakutan.

Ciri khas KDB bukan sekadar rutinitas berdiskusi, melainkan pembelaan terhadap nalar publik. Mereka berfokus pada tema-tema literasi, demokrasi, dan kebangsaan—tiga ranah yang saat itu sedang “cidera” akibat kemapanan kekuasaan rezim Orde Baru. Di bawah imbas akhir  NKK/BKK secara sistematis mengebiri ruang politik mahasiswa.

Dalam situasi seperti itu, KDB hadir sebagai ruang alternatif. Di sebuah rumah di Jalan Bulukunyi—di tengah hiruk pikuk kota Makassar—para mahasiswa, aktivis, dan peminat kajian sosial berkumpul, membaca, dan berdiskusi hingga larut malam. Tidak ada mikrofon megah, tidak ada podium. Yang ada hanya meja kayu, kopi hitam, dan buku-buku yang berpindah tangan dari satu peserta ke peserta lain.

Dari ruang sederhana itulah, lahir gagasan-gagasan yang segar: tentang demokrasi, hak asasi manusia, politik lokal, hingga ekonomi kerakyatan. Para pentolannya—yang kelak banyak menjadi tokoh penting negeri ini—menempa diri dalam tradisi berpikir yang kritis, terbuka, dan berakar pada realitas sosial.

KDB bukan sekadar kelompok studi; ia adalah manifestasi keberanian intelektual. Di masa ketika kampus dibungkam, Bulukunyi menjadi “kampus alternatif” yang mendidik nalar merdeka. Diskusi-diskusi mereka bukan untuk mencari aman, melainkan untuk menjaga waras di tengah kebisuan.

Dalam perjalanan sejarah gerakan intelektual Makassar, KDB menempati posisi unik. Ia bukan organisasi formal, bukan pula partai atau pergerakan massa. Ia lebih tepat disebut lingkar intelektual organik—tempat pertemuan antara idealisme, literasi, dan kepedulian sosial.

Dari KDB, lahir tokoh-tokoh yang kemudian berkiprah di berbagai sektor: akademisi, jurnalis, politisi, birokrat, hingga aktivis sosial. Namun benang merahnya tetap sama: mereka tumbuh dalam kultur berpikir kritis dan egaliter. Pentolan KDB antara lain : Andi Tadampali,  Guntur Hamzah,  Yeni Saleh, Nasrun Hamzah, Muh. Nur Alfatah, Juajir,  Jamhur, Hendra Noor Saleh, Yeni Saleh, Ani Mustamin,  Irmawati Habie.

KDB adalah bukti bahwa demokrasi tidak hanya dibangun di parlemen, tetapi juga di ruang-ruang kecil tempat manusia saling mendengarkan. Ia membuktikan bahwa diskusi bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi juga tindakan perlawanan terhadap kebungkaman.

KDB bukan sekadar catatan sejarah lokal, tetapi juga simbol kontinuitas gerakan intelektual Indonesia: kecil tapi berpengaruh, senyap tapi bermakna, sederhana tapi tajam dalam pikiran.

                                        ***

Kalau ingin membayangkan suasana kelompok studi, cukup datang ke kantin kampus, kantor Maperwa/BPM saat itu. Tikar digelar – pinjam kursi kelas, kopi hitam panas diletakkan di tengah, asap rokok kretek bergumul di ruangan.

Diskusi berlangsung sengit, kadang sampai subuh. Buku Pedagogy of the Oppressed  bisa bersebelahan dengan kitab tafsir. Suara debat keras, tapi selesai diskusi mereka tetap makan  nasi kuning atau songkolo bersama.

Selalu ada rasa waswas—intel kampus terus mengintip bahkan bisa menyusup. Buku “terlarang”, seperti karya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca), stensilan pernyataan Petisi 50, “buku putih”mahasiswa ITB disembunyikan di bawah kasur. Tapi justru dari ketegangan itu lahir romantika: mereka merasa sedang menjaga api kecil yang kelak akan berguna bagi bangsa.

Koswantara, KDB, Kosindra, KSP, IKA-Antropologi, dan MPM—semuanya adalah ‘api-api kecil’. Tidak menyala terang di jalan raya, tapi cukup untuk menjaga hangatnya semangat kritis mahasiswa Unhas di era sunyi–masa NKK/BKK. Di berbagai kampus lain Makassar tentu tumbuh subur kelompok studi sejenis dengan semangat yang sama dan bersinergi merawat idealisme mereka.

Ketika Reformasi 1998 akhirnya datang, orang baru sadar: api-api kecil itulah yang diam-diam memelihara bara intelektual, spiritual, dan kerakyatan dari gelora perlawanan mahasiswa Makassar.

Banjarmasin, 4 Oktober 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *