Makassar selalu menggeliat. Di siang hari, suara klakson angkot saling bersahutan di sepanjang jalan A.P. Pettarani, Urip Sumoharjo, Perintis Kemerdekaan, Sultan Alaudin sementara motor-motor berdesakan di depan kampus. Sepanjang hari, warung kopi yang melingkar di sekitar Panakkukang tak pernah sepi, penuh dengan obrolan politik, diskusi skripsi-tesis, hingga rencana aksi.
Ratusan ribu mahasiswa berdomisili Makassar. Bagi kebanyakan mahasiswa perantau, Makassar adalah “ibu kota” kedua. Mereka datang dari Bone, Tana Toraja, Enrekang, Luwu, hingga kepulauan Selayar. Dari Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo dan Manado. Adapula dari Timor, Maluku, Maluku Utara, dan Papua serta Kalimantan, bahkan dari Jawa, Bali dan Sumatera. Dengan koper tua dan harapan besar, mereka menapakkan kaki di kampus-kampus besar seperti Unhas, UIN Alauddin, UNM, UMI. Kota ini menampung impian, tapi juga menyalakan perlawanan.
Seorang mahasiswa baru dari kampung tiba-tiba tertegun melihat pemandangan pertamanya: sekelompok mahasiswa berorasi di depan gerbang kampus, spanduk terbentang, polisi berjajar. Ia sadar, di Makassar kuliah bukan hanya soal ruang kelas, melainkan juga ruang jalan.
Makassar bukan sekadar kota pelabuhan. Ia adalah kota perlawanan yang tak pernah tidur.
Sejarah Pergolakan Mahasiswa Makassar
Sejarah gerakan mahasiswa Makassar panjang dan penuh darah. Pada 1960-an, Dewan Mahasiswa Unhas berdiri sebagai wadah resmi. Di ruang-ruang kecil — kampus lama Baraya, mahasiswa membaca koran Harian Kami, membicarakan Soekarno, PKI, hingga wacana demokrasi terpimpin.
Tahun 1974, gema Malari sampai juga ke Makassar. Mahasiswa turun ke jalan, membawa semangat perlawanan terhadap korupsi dan dominasi asing. Meski tak sebesar Jakarta, Makassar ikut mencatatkan dirinya dalam peta perlawanan nasional.
Rezim Orde Baru kemudian membekukan Dewan Mahasiswa lewat konser Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Tetapi mahasiswa Makassar tak sepenuhnya diam. Meeker bergerilya dalam diskusi kecil, di lorong asrama, pondokan dan warkop kecil depan kampus, menjaga api tetap menyala.
1998 menjadi puncaknya. Dari lapangan berbagai kampus hingga jalan Urip Sumoharjo, Sultan Alauddin, Pettarani menuju Lapangan Karebosi atau Tugu Monumen Mandala, mahasiswa berduyun-duyun menyuarakan Reformasi. Spanduk bertuliskan Turunkan Soeharto! Berkibar di jalanan. Gas air mata membubarkan kerumunan seperti saat mereka menduduki bandara Sultan Hasanuddin, tapi suara meraka tak bisa dibungkam.
Sejak saat itu, sejarah mencatat: mahasiswa Makassar adalah bagian dari denyut perubahan bangsa.
BEM: Organisasi, Rivalitas, dan Panggung Politik Mini
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sering disebut “republik kecil” di dalam kampus. Ia punya presiden, menteri, kabinet, bahkan oposisi. Di Makassar, pemilihan presiden mahasiswa berlangsung layaknya pemilu mini: poster menempel di dinding kampus, spanduk berkibar di fakultas, tim sukses berkeliling membujuk suara. Mereça punia parati dan koalisi-partai lintas fakultas.
Debat calon presiden mahasiswa biasanya ramai. Satu pihak berjanji membawa gerakan ke jalan, pihak lain mengaku akan fokus pada advokasi kebijakan kampus. Namun, siapa pun yang menang, BEM selalu menjadi panggung politik pertama bagi banyak kawula muda Makassar.
Rivalitas antar-BEM juga kental. BEM universitas dan BEM fakultas sering bersilang kepentingan. Fakultas-fakultas besar ‘merasa berhak’ jadi Presiden BEM. Ada pula “koalisi mahasiswa Makassar” lintas kampus yang muncul ketika isu besar nasional mencuat. Semua ini menjadikan BEM bukan sekadar organisasi, melainkan laboratorium politik yang sesungguhnya.
Watak Keras, Tegas, Kolektif
Makassar punya reputasi: pemimpin mahasiswa di sini dikenal keras, tegas, dan tak gampang tunduk. Mereka belajar memimpin bukan di ruang kuliah, melainkan di jalanan, di tengah terik matahari, di derai hujan gas air mata, di ujung pentungan dan popor senjata.
Orasi di jalan adalah ujian pertama. Seorang pemimpin dianggap sah bukan karena ia menang pemilu BEM, melainkan karena ia berani berdiri di depan barisan, berteriak hingga serak, sementara aparat bertindak kasar dan represif.
Watak ini lahir dari nilai siri’ na pacce. Malu jika diam ketika ada ketidakadilan, dan pedih jika melihat rakyat tertindas. Siri’ membuat mahasiswa berani, pacce membuat mereka solidaritas.
Ada kisah yang sering diceritakan ulang: seorang mahasiswa tetap berdiri berorasi meski kawan-kawannya lari dikejar polisi. “Saya tidak bisa lari,” katanya, “karena siri’ lebih berat daripada rasa takut.” Kisah itu jadi legenda kecil, diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Transformasi Digital: Dari Jalan ke Timeline
Namun, panggung perlawanan kini berubah. Jika dulu mahasiswa berkumpul di lapangan kampus, di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), kini mereka bisa memulai aksi lewat Twitter, Instagram, atau TikTok. Satu unggahan dengan tagar tertentu bisa viral dalam hitungan jam, memobilisasi ribuan mahasiswa.
Jalan raya masih penting, tapi kini ada jalan lain: timeline. Orator berubah menjadi influencer, selebaran berubah menjadi thread panjang, rapat akbar berubah menjadi Zoom meeting.
Tetapi Makassar tetap punya watak khas. Meski digital merasuk, mahasiswa di sini belum rela melepaskan jalanan. Mereka percaya: suara yang lantang di dunia maya harus tetap bergema di aspal panas.
Kritik dan Bayang-bayang Buram
Meski penuh idealisme, mahasiswa Makassar juga tak lepas dari kritik. Di beberapa periode, BEM lebih sibuk mengurus proposal acara dan sponsorship daripada turun ke jalan.
Masyarakat kadang lelah. “Mahasiswa hanya bikin macet,” kata seorang pegawai rendahan saat aksi demonstrasi menutup jalan.
Perempuan juga masih sering dipinggirkan. Meski banyak mahasiswi cerdas, posisi presiden BEM masih didominasi laki-laki. Diskriminasi halus ini terus jadi perbincangan, meski perlahan mulai digugat oleh generasi baru.
Ada pula pragmatisme: sebagian pemimpin mahasiswa menjadikan BEM sebagai batu loncatan ke partai politik. Idealismenya luntur begitu kursi kekuasaan nyata di depan mata.
Menata Masa Depan
Empat — lima tahun ke depan, masa depan BEM Makassar bisa terbagi ke dalam tiga skenario:
- Optimis– BEM bangkit dengan reformasi internal. Transparansi keuangan, digitalisasi organisasi, dan kepemimpinan kolektif menjadikan BEM relevan kembali.
- Moderat– BEM melebur ke dalam Dewan Koordinasi Mahasiswa lintas fakultas, lebih fokus ke advokasi kampus ketimbang isu nasional.
- Pesimis– BEM melemah dan pudar, gerakan mahasiswa berpindah ke NGO, komunitas digital, atau gerakan sosial baru di luar kampus.
Tanda-tanda ketiga skenario itu terus menggeliat. Pertanyaannya hanya: yang mana yang akan menang?
***
Makassar bukan sekadar kota metropolitan. Ia adalah panggung tempat mahasiswa belajar tentang keberanian, solidaritas, dan keteguhan.
BEM mungkin berubah bentuk, bisa jadi hilang, bisa jadi berevolusi. Tapi semangat mahasiswa Makassar tidak pernah benar-benar hilang.
Seperti ombak di Pantai Losari yang tak pernah berhenti datang menyelinap di antara congkaknya bangunan megah, begitu pula gelombang mahasiswa Makassar : pergi dan datang, reda dan menggema, tetapi selalu ada.
Dan di kota Makassar mereka belajar: perlawanan tidak hanya soal menang atau kalah, melainkan tentang menjaga api agar tetap menyala.
Tamalanrea, 3 Oktober 2025