Categories
Artikel

MASIH BERISIK DI KEPALA, DAMAI DI HATI

Di usia 69 (2 Januari 2026), kepala saya masih ramai. Gagasan datang tanpa undangan, kadang bertabrakan, kadang saling menyela. Ada ide yang ingin ditulis, ada kegelisahan yang ingin disuarakan, ada refleksi yang muncul justru ketika tubuh meminta istirahat. Rupanya, usia tak selalu sejalan dengan keheningan pikiran. Kepala tetap berisik—dan itu kabar baik.

Namun yang berbeda kini adalah hati. Ia jauh lebih damai. Tidak lagi reaktif pada setiap perbedaan, tidak lagi gelisah jika pendapat tak diakomodasi, tidak pula gusar bila peran mulai menyusut. Di usia ini, saya belajar bahwa tidak semua kegaduhan perlu diladeni, dan tidak semua keheningan berarti kalah. Banyak hal cukup dipahami, tak harus dimenangkan.

Menjelang pensiun, saya kerap ditanya: “Apa rasanya akan berhenti?” Pertanyaan itu sering saya jawab sambil tertawa. Saya tidak merasa sedang berhenti. Saya hanya bersiap mengubah cara berjalan. Dari berlari mengejar target menjadi melangkah menikmati waktu. Dari sibuk mengurus jadwal orang lain menjadi lebih setia mendengarkan ritme diri sendiri.

Pensiun, bagi saya, bukan kehilangan identitas, melainkan pembebasan dari keharusan tampil. Tak ada lagi kewajiban selalu benar, selalu hadir, selalu sigap. Yang tersisa justru kesempatan untuk jujur—pada tubuh yang mudah lelah, pada ingatan yang sesekali bolong, dan pada kebijaksanaan kecil yang lahir dari pengalaman panjang.

Ada keceriaan tersendiri di fase ini. Keceriaan yang tidak gaduh. Bangun pagi tanpa rasa dikejar, minum kopi tanpa agenda–tanpa gula, membaca tanpa target menyelesaikan. Bahkan lupa pun bisa ditertawakan. Dulu lupa membuat panik, sekarang lupa justru jadi pengingat bahwa hidup tak perlu dikontrol sedemikian rupa.

Kepala yang masih berisik membuat saya sadar bahwa pensiun bukan akhir dari berpikir, apalagi akhir dari peduli. Gagasan tetap hidup, kepekaan tetap terjaga. Bedanya, kini saya lebih selektif: mana yang layak disuarakan, mana yang cukup disimpan sebagai senyum, dan mana yang lebih baik diserahkan pada generasi berikutnya.

Hati yang damai mengajarkan satu hal penting: hidup tak diukur dari seberapa lama kita berada di panggung, tetapi dari seberapa ikhlas kita turun ketika waktunya tiba. Melepaskan bukan tanda kalah, melainkan tanda cukup.

Maka, menjelang usia 70, saya berdiri di ambang ini tanpa kecemasan. Kepala masih ramai, iya. Tapi hati sudah tiba di rumahnya. Dan dari rumah itulah, saya ingin tetap menulis, berbagi, dan tertawa—pelan, seperlunya, dengan penuh rasa syukur.

colek sahabat setingkat 1976                                                                           @ Prof. Irawan Yusuf @ Prof. Triyatni Martosenjoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *