Categories
Artikel

INDONESIA MAU KE MANA (LakekomaE) ?

2 hari terakhir pekan ini, berhasrat jumpa FANS ALUMNI hadiri 2 diskusi nasional bertajuk KEREN “INDONESIA MEMANGGIL” (JUMPANDANG)  dan “SELAMATKAN INDONESIA” (Pare-PAre). NARSUMnyA TOP BANGET !
Jadi ingat masa binal dan banal saat mahasiswa lebih 4 dekade lalu.
RINDU DAGELAN SRIMULAT BUKAN “BADUT ISTANA” ?.
Pernah di suatu malam awal tahun 1980an, penerbitan pers mahasiswa Balance (BPG) menyelenggarakan studi diskusi berjudul “Indonesia: Mau Ke Mana?” – Lakekomae di Sanggar Andi Pangerang Pettarani, Kampus Unhas Baraya.
Saat itu hujan deras tiba-tiba menggebrak Kampus Baraya, genangan air danau buatan di dean sanggar meluap setinggi paha.
Peserta diskusi justru membludak tak memenuhi ruang diskusi Sanggar A. P. Petttarani.
Sebagian peserta, hanya mendengar diskusi melalui pantulan suara loudspeaker, mengintip dari kisi-kisi kaca jendela menyaksikan serunya diskusi dari narasumber dosen pemberani.
Pembicaranya top-top seperti Syukur Abdullah (politik), Halide (ekonomi), dan Ishak Ngeljaratan (budaya).
Besoknya, seusai diskusi di Sanggar A.P. Pettarani, ternyata daftar hadir pesertanya sudah berada di tangan intel-intel Laksusda/Pangkokamtib Kodam XIV Hasanuddin.
Makanya, jika kami membahas tentang peranan militer khususnya dwifungsi ABRI, termasuk mengkaji pleidoi Indro Tjahyono (Di bawah Sepatu Lars), kami memilih berdiskusi dalam forum tertutup dan terbatas. Itu pun masih bisa jebol.
Dalam kondisi parah, merasa tak aman ketika gerak-gerik kami dibuntuti intel di mana-mana, konon saya gunakan “jurus ujung kaki” ungkap Patta Nasrah (Ketua SEMA Extension yang mengingatkan kembali, bagaimana aku memakai ujung-ujung kakiku sebagai alat tulis, merangkai strategi aksi pada tanah datar yang lembut di pekarangan Sanggar A.P. Petta Rani Kampus Unhas Baraya di sisi utara Fakultas Kedokteran.
Bahkan menurut Patta, jurus kakiku itu, biasa kugunakan di berbagai tempat dalam situasi tak aman, termasuk menghindari bocornya strategi aksi dari kalangan mahasiswa sendiri. Setelah merangkai suatu strategi aksi, aku langsung menghapus coretan-coretan di tanah tersebut dengan telapak kakiku bersamaan telapak kaki teman lainnya. Terhapus tak berjejak. Aaamaaan!!!

 

Sumber : Demonstran Dari Lorong Kambing Bagian 5:   
hal 133-134, Kakilangit kencana, Jakarta, 2015

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *