Categories
Artikel

NAIK SEPEDA SEJAK ORDE LAMA

 

Munculnya gagasan bersepeda ke kantor atawa ke kampus, rasanya “sedap-sedap ngeri”.

Seakan dianjurkan oleh mereka yang tak bersepeda saat muda belia.

Konon untuk menumbuhkan budaya efisiensi.

#Aku bersepeda ke mana-mana menerobos kemewahan kota, dari sebuah lorong kambing di sabelah barat kampus lama – Baraya Unhas.

SAAT SEKOLAH RAKYAT (SR)

Semasa Sekolah Rakyat (1963-1969) di Baraya, saat usia kelas 3,  ayahku membelikan sepeda mini. Sepeda mini kebanggaan anak lorong 108 di jalan mesjid raya, sebelah barat rektorat Unhas. Tak jarang kami membawa seeda itu, menelusuri kampus Baraya. MAsa kecil yang asyik.

SAAT SMP

TAK HERAN, KARENA AKU SENANG BERGAUL DAN BELAJAR. HAMPIR TAK ADA KELOMPOK BELAJAR ELITE DI SMPN 6 YANG TIDAK AKU MASUKI. MESKI TERKADANG HARUS MELEWATI POS PENJAGAAN KARENA INGIN BELAJAR DENGAN PUTRA KEPALA POLISI DAERAH (KAPOLDA) di jalan Mappa Oddane, Sekali waktu, belajar bareng dengan PUTRI CELITA DARI PANGLIMA KOMANDO DAERAH ANGKATAN UDARA (PANGKODAU) di jalan Sungai Tangka. MESKI RASA SEGAN MENYELIMUTI : AKU PELAN-PELAN DAN SOPAN BERBAUR TAKUT MENDORONG SEPEDA KUMBANGKU MELEWATI SANG PENJAGA POS.

Suatu ketika, aku ingin bergabung di rumah A.Tenri Ampa – teman kelasku. Perlahan kusandarkan sepedaku, lalu bertanya pada seseorang yang sedang memangkas bunga-bunga di taman halaman depan rumah. Pakaian bersahaja ala tukang kebun, akupun bertanya padanya. Ternyata, beliau adalah sesepuh YASIN LIMPO.  Saya tak ingat apakah masih punya nyali bergabung belajar, atau lebih berat….memilih langkah pulang tak bernyali.

SAAT SMA

Sekitar setahun aku hanyut dalam hiruk pikuk gank motor di Makassar. ATLANTA motor club, salah satu gank motor TOP saat itu, bahkan mengalahkan beberapa gank motor senior.

Aku sendiri bukan pembalap hanya “penggembira”, karena orangtuaku belum mau membelikan motor. Selama tahun 1973, aku dititip di rumah Datokku yang bermukim di jalan Arief Rate. Aku menikmati bimbingan dan pengawasan ketat dari Datokku itu, pria keturunan Melayu, seorang pegawai senior Kejati Sulsel didikan Belanda. Oleh sang Datokku, aku dibekali sepeda tua batangan warna hitam miliknya.

Bila malam hari, saat berkum-pul tiba, terkadang kupakai sepeda itu bergabung di geng Atlanta yang bermarkas tak jauh dari rumah Datokku. Sepedaku, sering dijadikan mainan-bahan olok-olokan teman-temanku yang su- dah naik sepeda motor. Suatu malam di markas mereka lapangan segitiga itu, sepeda milik Datokku … patah. Kupulangkan sepeda itu penuh was-was, pasti akan dimarahi. Dugaanku … benar!?!?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *