Categories
Artikel

MENYENTIL PROFESOR SENIOR ?

Sosok profesor senior—menggambarkan guru besar yang sudah lama menekuni dunia akademis—sebentar lagi pensiun.
Namun, di kampus—ada tonG dosen lain yang hidup dengan gaya berbeda: dosen senior bergelimang proyek.
Mobilnya selalu ‘ciber’?, bahkan seri tertinggi. Tapi bukan karena ia aktif dalam riset terkini, melainkan karena memiliki kontrak yang dilakukan secara berulang.
Ia pun memiliki ruko dan kafe—lebih dari dua.
Bukan untuk tujuan penelitian, tetapi untuk menunjukkan bahwa Tri Dharma bisa diperluas menjadi pendidikan, penelitian, pengabdian, dan juga properti.
Dosen senior ini sukanya bermain dengan kata-kata. Ia senang menyentil profesor senior yang hidupnya bersahaja. “Profesor koq mobilnya begitu?” atau “Profesor tapi tak punya ruko dan kafe?” atau “Berapa sih gaji profesor?”.
Suaranya ringan-ringanji, tapi maksudNA berat seperti desakan jatuh tempo cicilan.
Profesor senior yang disentil biasanya lebih memilih diam. Bukan karena merasa kalah, tetapi tak tertarik mengikuti lomba dengan kategori berbeda.
Dibalik semua lakon—kehidupan dosen senior yang tampak gemilang, ternyata dirinya rajin menyediakan waktu di jalan-jalan sunyi berupaya memperbaiki usulan profesornya.
Ia sangat diam-diam, bahkan seolah takut data yang ia kumpulkan akan ikut tertawa.
Masalahnya cuma satu:
Datanya masih miskin. Bukan karena miskin harta—bukan itu—tapi karena miskin scopus, sitasi, dan konsistensi. Meski begitu seperti lagaknya, ia tetap berharap.
Ia yakin akan satu hal: jika proyek bisa dicari, maka kredit-point (KUM) profesor pun bisa diperolehnya.
Ia menumpuk berbagai dokumen, menyusun narasi, dan berharap tim Penilai Angka Kredit (PAK) akan terpesona oleh kuantitas dokumen daripada isi di dalamnya.
Profesor senior yang masih berstatus anggota Senat Akademik (SA)—tahu betul cara kerja PAK, hanya tersenyum.
Ia tidak menertawakan, karena ia sudah kenyang dengan tawa.
“Di kampus,” kata Profesor senior—perlahan, “ada yang kaya sebelum menjadi profesor, ada yang profesor sebelum kaya, dan ada yang ingin keduanya—tapi lupa bagaimana jurusNA.”
Akhirnya semuanya kembali kepada kodrat ilahi. Profesor senior—sore itu—pulang dengan mobil lamanya, masuk kompleks dosen, dan malamnya—tidur nyenyak.
Dosen senior yang bergelimang proyek—pulang dengan mobil barunya—masuk rumah barunya, namun masih terbangun tengah malam memikirkan angka-angka dan skor, (mungkin juga) setoran.
Sementara—Kampus Merah tetap berdiri megah—dihuni manusia-manusia yang sama pintarnya, tetapi berbeda dalam memilih apa yang ingin dicapai sebelum pensiun atau meninggal dunia.
Karena tidak semuaji–orang gagal menjadi profesor.         Ada tonG yang berhasil kaya,
tetapi lupa merasa cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *